Showing posts with label One Week One Post (OWOP). Show all posts
Showing posts with label One Week One Post (OWOP). Show all posts

Saturday, May 5, 2018

Mantan Pacar Suami Masih Mengganggu, Lakukan 5 Hal ini Moms!

Tak jarang setelah pernikahan, muncul kehadiran mantan pacar suami ke dalam rumah tangga kita. Entah suami kita yang memang terlalu baik sehingga si mantan sulit melupakannya atau memang si mantan yang tidak sadar diri bahwa sekarang suami telah menjalani kehidupan bersama pilihan terbaiknya (ciyeeeh..).

Nah, kalau si mantan masih berusaha hadir dalam kehidupan suami, entah itu masih berhubungan dengan keluarga suami, bilang kangen sama suami, ga bisa lupa, masih ada suami di dalam hatinya, dan kata-kata lain yang terasa panas di hati kita, cukup lakukan hal-hal di bawah ini, Moms:

1. Lihat suami kita
Jika suami masih ada bersama kita, mencintai kita apa adanya, mengerjakan tanggung jawabnya sebagai suami, ayah, dan kepala keluarga, menyayangi anak-anak dengan sepenuh hati, tidak enggan berbagi tugas pengasuhan maupun tugas domestik, maka apa yang perlu dikhawatirkan? He's now yours, Mom! So jangan hiraukan itu mantan beserta kata-kata racunnya.

2. Lihat anak-anak kita
Merekalah buah cinta kita bersama suami. Apakah memori-memori indah dulu si mantan dapat mengalahkan indahnya memori kehadiran buah hati yang lucu-lucu? Oh, tentu tidak. Tidak ada yang dapat mengalahkannya. Dan kehadiran buah hatilah yang akan mempererat dan memperkokoh jalinan pernikahan di antara sepasang suami istri.

3. Tidak bercerita kepada keluarga
Entah itu keluarga suami ataupun keluarga sendiri. Kalau cerita kepada keluarga suami, bisa jadi akan dibilang cemburuan hiks.. dan kalau cerita kepada keluarga sendiri, Moms hanya akan membuat khawatir orang tua. Berceritalah hanya kepada Allah, berdoa dan minta kepada-Nya agar dapat menjalani bahtera rumah tangga bersama suami sampai akhir hayat dengan bahagia.

4. Menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif
Dengan demikian tidak ada waktu tersisa untuk menanggapi apa yang dilakukan si mantan. Sibuk mengurus anak-anak, suami, dan rumah, sibuk beribadah, serta sibuk dengan kegiatan positif lainnya. Maka suami mana yang tidak tambah cinta kepada istrinya bila istrinya melakukan hal-hal tersebut?

5. Ambil hikmahnya
Kehadiran si mantan dapat dijadikan sebagai pertanda bahwa ada wanita lain yang ingin memiliki suami seperti suami kita, menjadikan kita mawas diri agar terus-menerus memperbaiki diri sebagai seorang istri. Mungkin di rumah kita perlu lebih banyak merawat diri, tampil sebaik-baiknya di depan suami. Atau supaya kita tidak banyak mengeluh dan mengomel ketika beliau ada di rumah. Utamanya bersyukur atas kehadiran suami dalam hidup kita. Yang terkadang istri lupa akan kebaikan-kebaikan suami atau karena satu kesalahan, menganggap suami tidak pernah mengerti kita. Bersyukur, jalan sederhana agar yang dimiliki terasa 'lebih'.

So Moms, jangan biarkan orang ketiga merusak hubungan kita dengan suami. Sakit hati atau perasaan tidak nyaman itu wajar atas kehadiran mantan. Tetapi membuatnya menjadi masalah besar atau sakit hati berlebihan dan berkelanjutan, kita sendirilah yang mengizinkan hal itu terjadi. Keep spread the love for hubby and kiddos. And be strong, Moms!

Wednesday, April 11, 2018

5 Tips Cara Memaafkan Orang Lain

Sebagai seorang wanita tak jarang kita tersandung masalah dengan orang lain. Akibat sekedar lisan yang menyakiti hati atau sampai perbuatan yang terkadang sampai sekarang membuat saya bertanya-tanya mengapa orang lain berbuat seperti itu. Alhamdulillah di perkuliahan IIP, materi pertama kelas bunsay adalah mengenai komunikasi produktif, dimana cara seseorang berucap atau berbuat sesuatu tergantung pada FoE (Frame of Experience) dan FoR (Frame of Reference) masing-masing. Pengetahuan ini sedikit banyak menyadarkan saya tentang gesekan-gesekan yang mungkin terjadi dengan orang lain semasa kita hidup. Adapun hidup terus berlanjut, tak jarang pula orang yang pernah bermasalah dengan kita adalah orang yang akan kita temui sampai akhir hayat. Sehingga mau tak mau kita tak bisa menghindar, harus menghadapinya. Apa saja sih sebaiknya yang harus dilakukan seorang wanita agar bisa memaafkan dan kembali menjalin hubungan positif dengan orang yang pernah memiliki masalah dengan kita? Berikut tips-tipsnya:

1. Forgive and forget

Yang pertama harus dilakukan untuk memaafkan orang lain adalah ya memaafkan. Memang awalnya sulit. Tetapi kita ingat-ingat kembali, manusia memang tidak luput dari kesalahan. Kita pun tentunya memiliki kesalahan, hal ini bisa menjadi awal penyadaran untuk memaafkan orang lain. Mau orang lain yang kita anggap memiliki kesalahan tersebut meminta maaf pada kita atau tidak, memaafkan sebenarnya adalah untuk kesehatan batin kita. Maka maafkanlah orang tersebut dan kemudian lupakan kesalahannya. Kita bisa bilang pada diri kita sendiri: "Mulai dari 0, ya.". :)

2. Selalu ada hikmah atau maksud dari Allah

Kehadiran seseorang dalam hidup kita bisa menjadi suatu kebahagiaan atau kepahitan. Tetapi Allah selalu memberi hikmah atau maksud dibalik setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Bisa saja orang yang bermasalah dengan kita dihadirkan agar kita belajar bersabar. Terdengar klise ya? Tapi memang benar, mungkin sebelumnya kita belum menjadi orang yang sabar, sampai Allah menguji kesabaran kita lewat orang tersebut. Apakah kita lulus ujian atau tidak? Hanya kita sendiri yang mengetahui jawabannya. 

3. Stop playing victim

Yup, berhenti merasa menjadi korban. Jika ada orang yang berkata menyakitkan hati kita, kita sendirilah yang mengizinkan kata-kata orang tersebut untuk menyakiti hati kita. Padahal bisa saja kita hanya mendengar sambil lalu, menganggapnya tidak penting, dan kemudian hidup kita jauh lebih tenang karena tidak memikirkan apa yang orang lain katakan.

4. Berbuat baik kepadanya

Wah ini.. Hal tersulit yang pernah saya lakukan untuk orang yang pernah bermasalah dengan saya. Waktu mau melakukannya pun sampai termenung, untuk apa saya melakukannya? Kenapa harus dia yang saya baik-baikin? Manusiawi sekali sih ya.. Tapi coba deh.. Seperti tips-tips sebelumnya yang apabila belum dilakukan terasa berat untuk dilakukan, tetapi ketika saya selesai melakukannya, ada perasaaan relieve di dalam hati. Seperti berhasil menunjukkan kualitas pribadi kita. Orang lain boleh berbuat tidak baik kepada kita, tetapi kita akan tetap berperilaku baik kepada siapa pun. Sounds like an angel ya? :D

5. Just smile! Tujukan perhatian kepada keluarga dan hal-hal yang positif

Bener banget! Hanya dengan tersenyum, masalah-masalah yang dihadapi seperti jauh lebih ringan. Setelah itu, fokuskan diri saja untuk keluarga: anak-anak dan suami. Ingat dan lakukan hal-hal yang positif sehingga perlakuan atau kata-kata negatif dari orang lain pun terlupakan. Masih banyak yang bisa kita lakukan, daripada sekedar mengingat-ingat kesalahan orang lain kepada kita.

Bener-bener self reminder sih menulis artikel ini. Doakan saya konsisten dengan apa yang saya tulis ya hihihi.. Para Mom juga boleh lho ikut mencoba tips-tipsnya dan jadilah wanita yang lebih bahagia! :)

Saturday, February 24, 2018

Tips untuk Konsisten Menulis

Sebagai wanita, cukup erat kaitannya dengan dunia menulis. Sejak kecil, seorang perempuan cenderung lebih senang menulis di diary daripada laki-laki. Apalagi di era digital sekarang ini, sudah banyak sarana menulis seperti platform blog, status Facebook, cuitan Twitter, caption Instagram, dan sebagainya.

Selain untuk menuliskan curahan hati, menulis dapat bertujuan untuk mengikat ilmu untuk diri sendiri serta membagikan pengalaman/ilmu kepada orang lain. Menulis juga dapat menghasilkan pendapatan tambahan, bahkan menjadi pekerjaan yang cukup menjanjikan. Lalu bagaimana agar bisa menjadi seorang penulis? Banyak-banyaklah menulis dan terus konsisten menulis.

Berikut tips-tips agar bisa konsisten menulis:

1. Tentukan jadwal menulis dan apa temanya

Buat jadwal menulis dan temanya, bisa dimulai dengan tema yang kita sukai. Misal hari Senin tentang pendidikan anak usia dini, Rabu sesuai tema kelas belajar menulis yang diikuti, dan Jumat tentang resep masakan. Bisa juga per bulan, misalnya tema kegiatan komunitas, review buku yang telah dibaca, dan sebagainya. Jadwal menulis dan tema ini penting sebagai panduan sehingga kita mengetahui akan menulis apa setiap waktunya. Jika ada jadwal yang terlewat, jangan khawatir. Tetap menulis. Bisa dilakukan esok harinya atau saat ada waktu luang untuk menulis, misal saat weekend.

2. Siapkan waktu tertentu untuk menulis

Setelah menentukan jadwal dan tema menulis, tentukan juga waktu tertentu untuk menulis. Misal pagi sebelum shubuh, atau saat anak-anak tidur siang, atau saat malam hari ketika anak-anak dan suami sudah tidur. Dengan menentukan waktu menulis, dipastikan ada slot waktu yang digunakan untuk kegiatan ini, bukan hanya mengandalkan sisa-sisa waktu dari rutinitas harian.

3. Tuliskan ide menulis dan point-point yang terpikirkan

Terkadang ide menulis muncul begitu saja, saat melakukan aktivitas sehari-hari. Bila sudah menemukan ide, langsung tulis ide tersebut. Bisa di buku atau handphone. Bila sudah terpikirkan point-point yang mau dijabarkan dari ide tersebut, tulis juga. Ini dapat menjadi kerangka, sebelum lebih lanjut ditulis secara lengkap menjadi sebuah tulisan yang utuh.

4. Jangan terlalu memikirkan apakah tulisan yang dihasilkan akan bagus atau tidak

Mengenai hasil tulisan, kita berusaha sebaik-baiknya agar tulisan enak dibaca, dapat dimengerti pembaca, mengandung informasi bermanfaat, dan sesuai kaidah penulisan. Tapi untuk hasil apakah akan dibaca banyak orang atau apakah akan disukai banyak orang sebaiknya dikesampingkan terlebih dahulu. Yang terpenting menulis terus. Dengan terus menulis, lama-kelamaan akan mengetahui mana jenis tulisan yang bagus atau tidak dan mana yang banyak dikunjungi pembaca. Tetapi saya sendiri memang tidak terlalu menghiraukan hal-hal tersebut. Karena saya memang suka menulis dan seringnya baru menulis untuk diri sendiri (sebagai jurnal belajar dan menumpahkan keruwetan di otak hehehe..).

Bagaimana teman-teman? Tertantang untuk konsisten menulis? :D

Saturday, February 17, 2018

Lima Hal Tidak Sehat yang Masih Saya dan Keluarga Lakukan

Duh, bingung juga menulis artikel bertema kesehatan. Karena eh karena saya mengakui bahwa saya dan keluarga bukan (atau belum) dikategorikan keluarga yang sehat hehehe.. Akhirnya menemukan juga point-point yang mau ditulis setelah beberapa waktu berpikir. Diputuskan akan menulis hal-hal yang tidak sehat yang masih dilakukan saya dan keluarga. Harapannya agar pembaca dapat belajar untuk tidak melakukannya juga, beserta saya dan keluarga dapat sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih sehat. Aamiin..

Berikut lima hal tidak sehat yang masih saya dan keluarga lakukan:

1. Makan makanan instan

Sebut saja mie instan dan makanan olahan instan seperti nugget dan kawan-kawannya adalah makanan yang masih suka kami makan. Untuk mie instan kami membatasinya kira-kira 1 minggu sekali untuk sarapan. Untuk makanan olahan instan, kami masih memakannya 2 hari dalam seminggu. Duh, terlihat cukup sering ya. Sebenarnya mau membatasi 1 hari dalam seminggu saja makan makanan olahan instan, tapi karena ada Budhe Iin yang buka lapak berbagai makanan olahan instan di sekolah Neta, akhirnya saya jadi keranjingan beli huhuhu.. Semoga bulan depan bisa lebih strict lagi dalam penentuan menu sehari-hari yaa.. Alhamdulillah-nya saya selalu memasukkan menu sayur setiap harinya.

2. Memakai bumbu instan

Bilang duh lagi boleh kan? Jadi malu sendiri saya menuliskannya. Dengan alasan kepraktisan, hemat waktu, dan supaya tidak banyak berpikir tetapi makanan tetap enak, saya memakai bumbu instan seperti bumbu Racik, Magic Lezat, ataupun bumbu instan lainnya. Garam, lada, dan gula di rumah saya aweeet hahaha.. Tapi bila berbelanja bulanan, saya juga menyempatkan untuk membeli bumbu instan yang sehat, tanpa komposisi yang aneh-aneh seperti penguat rasa, pengawet, dan pewarna. Yang saya temukan, bumbu instan yang memenuhi kriteria tersebut adalah merk Bamboe. Memang sih harganya lebih mahal dari bumbu instan yang lain, tetapi ini bisa dijadikan alternatif bumbu instan. Pilihan bumbunya juga banyak, salah satu kesukaan keluarga saya adalah bumbu lada hitam.

3. Suka jajan

Nah ini, mulai dari jajanan anak-anak sampai minuman kemasan, kami sekeluarga suka sekali mengkonsumsinya. Please jangan ditimpuk wkwkwk.. Alasan bagi kami mengapa senang membeli jajanan adalah sebagai hiburan murah meriah. Ke Indomaret atau warung dekat rumah menjadi sarana jalan-jalan sederhana, utamanya sih untuk menyenangkan anak-anak dan saya oleh Pak Suami hihihi.. Dengan pergi sebentar sekeluarga saja sudah menjadi ajang refreshing untuk saya apabila sudah merasa penat di rumah.

4. Suka wisata kuliner

Ini jugaaa sangat tidak sehat, jangan ditiruuu. Sekeluarga (dalam hal ini maksudnya saya dan suami) hobi makan di luar, mencoba berbagai macam makanan dari berbagai macam tempat wisata, restoran, atau sekarang yang lebih hemat di kantong adalah makanan kaki lima. Kami sering sekali eksplorasi tempat makan baru dan bisa kembali makan di tempat tersebut lagi bila memang makanannya enak dan memuaskan. Hampir setiap weekend kami begini, dan tidak jarang juga makannya malam-malam di atas jam 7. Yang setelah sampai rumah, tidak ada lagi aktivitas berarti karena tinggal tidur. Tidak aneh, mengapa saya dan suami tambah ndut hihihi..

5. Jarang olahraga

Olahraga pagi sekali seminggu tiap weekend bersama-sama saja hanya bisa menjadi ide dan angan-angan belaka hahaha.. Ya pernah sih beberapa kali berhasil dilaksanakan, meskipun agak kesiangan juga. Tetapi seringnya suami kembali tidur atau saya banyak amanah yang harus dikerjakan di luar. Yah memang alasan akan selalu ada ya.. Tapi saya mengerti sih, suami selama weekday juga sudah sangat lelah karena harus bekerja, pekerjaan utama dan sampingan, plus rajin membantu pekerjaan domestik dan mengasuh anak-anak. Saya juga malah sibuk sendiri haha.. Ada tips mungkin teman-teman pembaca untuk keluarga kami? Ditunggu lho di kolom comment. :)

Friday, February 9, 2018

Menu 5-9 Februari 2018

Menu Senin, 5 Februari 2018

Hari ini menunya rolade bumbu lada hitam, tempe orek, dan tumis buncis tahu. Untuk resep tempe orek ada di sini. Untuk resep tumis buncis tahu ada di sini. Berikut resep rolade bumbu lada hitam:

Bahan-bahan:
1. Rolade sapi Superindo isi 9 buah Rp 20.000
2. Bawang bombay Rp 2.000
3. Bumbu Bamboe Asia Saus Lada Hitam Rp 8.400
4. Minyak goreng secukupnya untuk menumis dan menggoreng
5. Air 1 gelas (200 mL)

Cara memasak:
1. Goreng rolade di minyak panas hingga matang
2. Iris besar-besar bawang bombay
3. Tumis minyak, masukkan bawang bombay sampai harum
4. Masukkan bumbu lada hitam, air, dan rolade yang telah digoreng
5. Masak bumbu meresap dan air mendidih

Jumlah biaya yang dikeluarkan: kurang lebih Rp 31.000
Waktu memasak: kurang lebih 30 menit
Untuk 3-4 porsi

Menu Selasa, 6 Februari 2018

Hari ini menunya ikan gurame goreng dan sayur asem. Untuk resep sayur asem ada di sini. Berikut resep ikan gurame goreng:

Bahan-bahan:
1. Ikan gurame 1 ekor Rp 22.000, minta bersihkan dan potong 5 di warung
2. Bumbu Racik Ikan Goreng Rp 1.800
3. Minyak goreng secukupnya untuk menggoreng

Cara memasak:
1. Cuci bersih ikan yang telah dipotong
2. Bumbui ikan dengan bumbu racik hingga rata
3. Diamkan minimal 15 menit atau bisa ditaruh di freezer terlebih dahulu
4. Goreng ikan saat akan makan

Jumlah biaya yang dikeluarkan: kurang lebih Rp 24.000
Waktu memasak: kurang lebih 20 menit
Untuk 5 porsi

Menu Rabu, 7 Februari 2018

Hari ini menunya teri balado, tumis jamur, dan tempe goreng. Untuk resep tempe goreng ada di sini. Berikut resep teri balado dan tumis jamur.

Teri balado
Bahan-bahan:
1. Teri 250 gr (oleh-oleh dari Mamah waktu ke Tanjung Pinang)
2. Bumbu Kokita Inti A Rp 8.000
3. Minyak goreng secukupnya untuk menumis dan menggoreng

Cara memasak:
1. Goreng ikan teri, tiriskan
2. Panaskan minyak untuk menumis, lalu tumis bumbu
3. Masukkan teri, aduk rata

Jumlah biaya yang dikeluarkan: kurang lebih Rp 28.000
Waktu memasak: kurang lebih 20 menit
Untuk 4-5 porsi

Tumis jamur
Bahan-bahan:
1. Jamur tiram 1 bungkus Rp 3.000
2. Bawang merah 4 siung
3. Bawang putih 3 siung
4. Cabe hijau besar Rp. 1.000
5. Bumbu Magic Lezat Rp 3.50
6. Minyak goreng secukupnya untuk menumis
7. Air 200 mL

Cara memasak:
1. Potong-potong memanjang jamur, kemudian cuci dan tiriskan
2. Iris halus bawang merah dan bawang putih
3. Iris serong cabe hijau
4. Panaskan minyak, tumis bawang hingga harum
5. Masukkan cabe, aduk
6. Masukkan jamur, bumbu, dan air
7. Masak hingga matang dan air mendidih

Jumlah biaya yang dikeluarkan: kurang lebih Rp 6.000
Waktu memasak: kurang lebih 20 menit
Untuk 3-4 porsi

Menu Jumat, 9 Februari 2018

Hari ini memasak spaghetti bolognese telur, berikut resepnya:

Bahan-bahan:
1. Spaghetti La Fonte 225 gr Rp 7.800
2. Bumbu bolognese Del Monte Rp 27.000 (pakai separuh botol)
3. Bawang putih 3 siung
4. Telur 3 butir
5. Minyak goreng secukupnya untuk menumis

Cara memasak:
1. Rebus air hingga mendidih, masak spaghetti hingga matang, tiriskan
2. Iris halus bawang putih
3. Panaskan minyak, tumis bawang hingga harum
4. Masukkan telur, orak-arik
5. Masukkan bumbu bolognese, aduk rata
6. Sajikan spaghetti dengan telur orak-arik bolognese, tambahkan parutan keju bila suka

Jumlah biaya yang dikeluarkan: kurang lebih Rp 30.000
Waktu memasak: kurang lebih 20 menit
Untuk 4-5 porsi

Wednesday, February 7, 2018

Menu 29 Januari-2 Februari 2018

Menu Senin, 29 Januari 2018

Hari Senin Mami tidak memasak, masih ada sisa sayur sop kemarin yang dibuat oleh ibu mertua. Kebetulan hari Minggunya BuMer dan PakMer sedang main ke rumah. Menu sayur sop dimakan dengan lauk telur dadar saat makan siang. Malamnya Papi dan Neta makan buah pepaya, sedangkan Mami dan Nara, makan buah naga. Ceritanya Papi lagi mengurangi makan nasi saat makan malam. Jadi kami sekeluarga ikut-ikutan deh. Kita lihat yaa bisa bertahan sampai berapa lama hehehe..

Menu Selasa, 30 Januari 2018

Menu Selasa lauknya kekian (fish & shrimp nugget) merk Sakana yang tinggal goreng. Harganya Rp 25.000, beli di Budhe Iin yang bukalapak di sekolah Neta. Sayurnya tumis labu siam. Berikut resepnya.

Bahan-bahan:
1. Labu siam ukuran sedang Rp 2.000
2. Bawang merah 4 siung
3. Bawang putih 3 siung
4. Cabe merah 5 buah
5. Minyak goreng secukupnya untuk menumis
6. Bumbu Magic Lezat 1 bungkus
7. Air 200 mL

Cara memasak:
1. Kupas, bersihkan getah labu siam, lalu potong-potong seperti batang korek api
2. Kupas dan iris halus bawang merah dan bawang putih
3. Potong serong cabe merah
4. Panaskan minyak, tumis bawang sampai harum
5. Masukkan cabe merah, aduk
6. Masukkan labu siam, bumbu, dan air
7. Masak hingga matang

Jumlah biaya yang dikeluarkan: kurang lebih Rp 5.000
Waktu memasak: kurang lebih 30 menit
Untuk 3-4 porsi

Menu Rabu, 31 Januari 2018

Hari Rabu Mami tidak memasak karena ada short seminar di sekolah Neta. Jadi saat makan siang, Mami membeli lauk di rumah makan Padang dekat rumah. Untuk Mami lauknya rendang, untuk Neta dan Nara lele goreng. Makan malamnya kami makan asinan betawi, isinya sayuran seperti toge, sawi, wortel, ditambah kacang, kerupuk, dan sambal. Harganya Rp 8.000 saja per porsi. Murah dan sehat!

Menu Kamis, 1 Februari 2018

Hari Kamis menunya chicken katsu merk Goldstar, harganya Rp 40.000, tinggal digoreng saja. Sayurnya timun potong hehehe.. Menu kalau sedang malas masak. :P


Menu Jumat, 2 Februari 2018

Hari Jumat menunya egg roll, salad wortel dan kol, plus mayones campur sambal. Untuk selengkapnya ada di sini ya. Sudah pernah di-share resepnya. :)

Saturday, February 3, 2018

Dampak Depresivitas (Stres) pada Anak Usia Dini

Hari Rabu, tanggal 31 Januari 2018 (sudah lama ya), ada acara short seminar atau penyuluhan psikologis di sekolah Neta. Narasumbernya adalah konselor salah satu konsultan pendidikan dan sumber daya manusia. Tema yang diangkat adalah tentang depresi pada anak usia dini. Seram ya.. Anak usia dini ternyata sudah bisa mengalami depresi atau stres. Berikut resume singkat dari penyuluhan psikologis tersebut.

Penyuluhan diawali dengan pertanyaan, tingkat stres mana yang lebih tinggi: perempuan atau laki-laki, anak atau dewasa? Secara mengejutkan jawabannya adalah perempuan dan anak. Kedua hal ini erat hubungannya. Dimana perempuan atau kaum ibu lebih sering bersentuhan dengan anak. Ibu yang stres biasanya melampiaskannya kepada anak. Meskipun kasus laki-laki atau kaum ayah yang melakukannya pun bukan jarang terjadi. Sedangkan anak-anak yang menjadi korban tidak mengetahui cara menyalurkan atau menyelesaikan depresinya. 

Berikut penyebab-penyebab depresi pada anak:
1. Pola asuh orang tua diktator: harus mengikuti kemauan orang tua, anak tidak diberikan kesempatan berpendapat.
2. Adanya kekerasan berupa kekerasan verbal, psikis, dan fisik. Contoh kekerasan verbal yaitu labelling, seperti "kamu nakal ya" atau "kamu jorok sekali". Contoh kekerasan psikis yaitu membanding-bandingkan, mengancam, atau menakuti-nakuti. Contoh kekerasan fisik yaitu mencubit, menjewer, atau memukul.
3. Tuntutan berlebihan, misalnya di sekolah nilainya harus bagus, juara kelas, pulang sekolah banyak les, dan pencapaian-pencapaian lainnya.
4. Overprotektif, misalnya melarang untuk melakukan berbagai hal seperti "jangan Dek, nanti jatuh". Tanpa memberikan pengertian untuk berhati-hati, ataupun bentuk larangan-larangan lainnya.
5. Banyak peraturan yang terlalu ketat.
6. Tidak tegas, sehingga membuat anak menjadi bingung. Misalnya oleh ibunya boleh tetapi oleh ayahnya tidak boleh.
7. Pemakaian gadget berlebih, menyebabkan sikap anak agresif, tidak sabaran, dan emosi tidak terkontrol. Anak boleh diberikan gadget sendiri saat usia 15 tahun ke atas.
8. Lingkungan, contohnya pengaruh teman bermain seperti penggunaan kata-kata yang tidak baik. Sebaiknya saat keluar rumah tetap didampingi, utamanya untuk anak usia di bawah 7 tahun.

Ciri-ciri anak yang depresi:
1. Sulit tidur, tidur di atas jam 9 (kecuali tidur siang lebih dari 2 jam)
2. Sulit makan
3. Sakit-sakitan, daya tahan tubuh rendah
4. Daya konsentrasi rendah
5. Daya serap rendah
6. Temperamental
7. Sering tantrum
8. Adanya penyimpangan perilaku, misalnya berlaku kasar kepada orang lain

Apabila ada 1-3 gejala terdeteksi pada anak, berarti anak mengalami tingkat depresi rendah (atau sekitar 15%), 1-5 gejala berarti tingkat depresi sedang (sekitar 45%), dan 1-8 gejala berarti tingkat depresi tinggi (sekitar 85%). Tingkat depresi tinggi biasanya anak sudah mengalami penyakit kejiwaan seperti schizophrenia, berkepribadian ganda, dll.

Anak dapat mengalami depresi sejak dalam kandungan, kemudian berlanjut hingga saat lepas ASI dan seterusnya. Sudah berapa kali membentak anak? Dimana membentak anak sama dengan memutuskan sambungan sel-sel syaraf anak. Anak pun akan terus mengalami depresi jika pola asuh orang tua tidak berubah.

Konsultan pendidikan ini di akhir acara menawarkan assessment untuk mengetahui tingkat depresi anak, pola asuh orang tua, bakat dan potensi anak, serta kesiapan anak masuk SD. Assessment dilakukan dengan melihat body languange, bola mata, garis tangan, dan tanya jawab, baik anak maupun orang tuanya. Biayanya Rp 175.000 jika assessment dilakukan di sekolah, sedangkan bila dilakukan di rumah biayanya Rp 950.000.

Neta sendiri belum ikut assessment-nya, rencana saat akan masuk SD saja. Sekarang yang dilakukan adalah refleksi terhadap pola asuh yang selama ini telah diterapkan. Lebih banyak peluk, cium, dan sabar. Berkomunikasi dengan suami tentang pengasuhan. Less angry, more love. Semoga bisa istiqomah, aamiin. Karena anak adalah buah cinta yang kita undang sendiri untuk hadir ke dalam kehidupan kita, tentu tidak ingin bila mereka mengalami depresi karena kesalahan kita sendiri bukan? Yuk berubah.. :)

Thursday, January 25, 2018

Bertemu Ibu Septi di Milad Ibu Profesional Jakarta

Sebuah lembaran baru, pertama kalinya, bertemu founder dari komunitas yang telah saya ikuti sejak Januari tahun lalu ini. Yup, Ibu Septi Peni Wulandani, alhamdulillah akhirnya saya berkesempatan bertatap muka langsung, berjabat tangan langsung, dan mendengarkan ilmu dari beliau langsung di acara Milad Ibu Profesional Jakarta yang ke-6, 21 Januari lalu.

Acara dimulai dengan pemutaran video pembuka yang berisi tentang keamanan dan keselamatan, yaitu tentang denah lokasi, assembly point saat keadaan darurat, informasi P3K, dilarang merokok, dan membuang sampah sesuai tempat yang disediakan. Ada juga penjelasan tentang Changemaker Family Card yang menjadi salah satu isi dari goodie bag yang didapatkan peserta. Kartu ini berkaitan dengan tema milad ke-6 Ibu Profesional Jakarta, yaitu Changemaker Family.

Changemaker Family Card, untuk menuliskan project family

Selanjutnya, setelah video pembuka, MC membuka acara dengan hebohnya. Siapakah MC-nya? Jeng jeng tak lain dan tak bukan yang telah tersohor di komunitas saya yang lain (itbmotherhood), yaitu Thya Maknyes! Ternyata doi ibu profesional Jakarta siiis!

Numpang nampang sama MC

Dan yang ditunggu-tunggu pun telah hadir, siapa lagi bila bukan Ibu Septi dan Pak Dodik yeayyy! Saya sengaja duduk paling depan agar dapat dekat dengan beliau-beliau ini. Dan supaya bisa foto juga tentunya hehehe..

Bersama Bapak dan Ibu (foto saat coffee break)

Setelah itu, ada pemutaran video lagi, kali ini video dari sie acara tentang "menjadi ibu". Cukup lucu dan mengundang tawa juga videonya karena menghadirkan antara "ekspektasi" dan "kenyataan" menjadi seorang ibu, juga antara "before" dan "after" menjadi seorang ibu, dimana semua yang telah menjadi ibu pasti bisa relate.

Dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, yaitu mba Fita dan sambutan leader IP Jakarta, yaitu Uni Eci. Kemudian dikembalikan ke MC. MC pun menyebutkan terima kasih kepada tim Kids Corner (KC) yang menjadi panitia acara tetapi tidak dapat menghadiri sesi acara di panggung. Oleh karena itu, ada salah satu panitia yang menyiarkan live di Instagram @ibuprofesionaljakarta agar tim KC dan yang lainnya dapat menyaksikan kemeriahan acara ini.

Berlanjut ke video perjalanan IIP dan Ibu Profesional Jakarta, dirangkai dengan penyematan pin kepada empat Changemaker Family, yaitu Mba Mumun, Teh Erna, Mba Annisa, dan mba Efi, dan diakhiri dengan foto bersama pengurus Ibu Profesional Jakarta sebelum dilangsungkan coffee break.

Saat coffee break, peserta sudah bersiap-siap dengan wadahnya masing-masing dan membawa minum masing-masing pula. Wah saya tertinggal info ini, jadi ketika coffee break saya hanya berhasil membawa 2 buah kue dengan menggunakan tissue. Yang menarik dari coffee break ini, makanannya beraneka ragam, sepertinya donasi dari member IP Jakarta. Mulai dari bolu pisang, keripik, puding, sampai donat JCo semua ada :9

Setelah break, acara dilanjutkan dengan pemutaran video rumah belajar (rumbel) dan divisi Sejuta Cinta (SC) beserta hadirnya perwakilan tiap rumbel dan divisi di atas panggung. Ada 4 rumbel di IP Jakarta, yaitu rumbel boga, menulis, menjahit, dan berkebun. Setiap rumbel dan divisi SC juga mengisi stand yang ada di acara ini.

Rumbel boga, menjual aneka makanan hasil buatan sendiri

Rumbel berkebun, sudah bisa menghasilkan benih dan bibit sendiri serta ada praktik composting

Rumbel menjahit, bisa eksplor mesin jahit dan mencoba tutorial kit langsung

 Hasil rumbel menjahit (sew & craft)

 Hasil rumbel menjahit (sew & craft)

Hasil rumbel menjahit (sew & craft)

Mampir di stand Sejuta Cinta: divisi sosial IP Jakarta dengan success story membina warga kurang mampu untuk dapat menjahit dan produktif

Pouch hasil produksi binaan divisi Sejuta Cinta Ibu Profesional Jakarta

Untuk rumbel menulis tidak terfoto hiks.. karena saat mengunjunginya, stand-nya sudah mau dibereskan. Saat di panggung dijelaskan ada penjualan buku antologi hasil karya rumbel menulis IP Jakarta berjudul "Pulang" di stand-nya.

Setelah perkenalan rumbel dan divisi Sejuta Cinta, dilanjutkan dengan sesi sharing dari keempat Changemaker Family. Yang pertama tampil adalah Mba Mumun (Siti Munawaroh), pendiri sanggar belajar "Hasanah Center" Jakarta yang mengajarkan berbagai macam keterampilan untuk kaum ibu dan perempuan. Mba Mumun ini meskipun sudah berumur lebih dari 40 tahun, semangatnya masih sangat tinggi. Dibuktikan juga dengan aktif di divisi Sejuta Cinta IP Jakarta.

Yang kedua teh Erna Listia. Teh Erna adalah senior saya ternyataaa, sudah kenal lebih dulu di komunitas itbmh. Beliau bersama suami adalah owner Resto Bebek Dower yang dijadikan tempat acara milad ini. Awalnya teh Erna adalah seorang ibu yang bekerja di ranah publik yang kemudian saat kehamilan kedua mulai berpikir bagaimana caranya mengatur waktu untuk pumping di tengah kesibukan pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk mobile baik ke luar kota ataupun ke luar negeri. Oleh karena itu, teh Erna memberanikan diri untuk resign dari pekerjaannya dan merintis usaha sendiri. Tahun 2011 dimulai dengan 1 cabang, 17 karyawan, dan 20 ekor bebek per hari, di 2017 telah menjadi 18 cabang, 300 lebih karyawan, dan 2000 ekor bebek per hari.

Yang ketiga adalah mba Annisa Miranty Gumay, seorang ibu tunggal dari 4 anak. Suaminya telah berpulang mendahului ke Rahmatullah, dimana seminggu kemudian Mba Annisa baru mengetahui sedang hamil anak ke-empat. Tapi beliau tetap tegar menjalani kehidupan bersama 4 anaknya. Beliau adalah seorang guru ekonomi di SMAN 71 Jakarta, ketua rumbel Sew & Craft IP Jakarta, penggagas proyek RaQueeFa Bookhouse dan Komik Keluarga.

Yang keempat adalah mba Efi Femiliyah. Mba Efi mengadakan project keluarga dengan putrinya, Bellva, sebagai Project Manager. Project-nya adalah Jumat Berbagi, dimana Mba Efi sekeluarga menyiapkan makanan yang akan dibagikan kepada jamaah selepas sholat Jumat. Selain itu, mba Efi juga mengagas Taman Baca Warga 67 di wilayah tempat tinggalnya. Setelah sharing session selesai, ada pemberian hadiah kepada para Changemaker Family.

Tiba saatnya puncak acara, yaitu talkshow bersama Ibu Septi dan Pak Dodik. Diawali dengan Pak Dodik yang naik ke atas panggung, mencari tissue untuk Bu Septi yang sedang menangis haru setelah mendengarkan sharing session dari 4 Changemaker. Kemudian Bu Septi naik ke atas panggung sambil bercerita tentang mengapa beliau merasa terharu.

Beliau flashback ke 6 tahun lalu, dimana saat itu beliau merintis komunitas Ibu Profesional. Beliau yang kala itu adalah seorang ibu rumah tangga berjuang agar profesi ibu rumah tangga tidak dipandang sebelah mata. Banyak ibu rumah tangga kala itu merasa rendah diri dan tidak berharga. Kini, para ibu rumah tangga atau yang sekarang disebut ibu yang bekerja di ranah domestik dapat bangga terhadap dirinya sendiri serta bermanfaat bagi lingkungan. Ibu Septi yang tidak memiliki kakak atau adik perempuan biologis, kini memiliki 18.000 saudara perempuan di seantero nusantara, pun di luar negeri.

Ibu Septi pun kali ini tidak menyiapkan slide presentasi ataupun kertas plano. Beliau spesial membahas dan mengupas keempat Changemaker yang sebelumnya telah hadir. Ibu Septi mengatakan bahwa dari seorang ibulah, peradaban dimulai. Dapat dengan mudah kita sebutkan, tokoh besar yang diasuh hanya oleh seorang ibu. Misalnya Nabi Isa, Nabi Muhammad, Thomas Alva Edison. Tetapi tokoh besar yang hanya diasuh oleh seorang ayah, kita akan agak lama berpikir menyebutkannya. Oleh karena itu, mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi.

Kemudian waktunya Pak Dodik bercerita, beliau hanya mengucapkan ada pertanyaan? Hehe.. kemudian sesi tanya jawab pun dimulai. Ada yang bertanya bagaimana cara menurunkan ego suami? Pak Dodik menjawab, tidak perlu diturunkan. Jika ada yang tidak sreg dengan suami, bicarakan, dan buat kesepakatan bersama. Tidak perlu mengubah orang lain, ubahlah diri sendiri terlebih dahulu.

Lalu ada mantra-mantra IIP:
1. 4E (Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn), untuk membangun passion dan keahlian, baik untuk anak maupun diri sendiri.
2. Tips membangun keluarga: main bareng, ngobrol bareng, aktivitas bareng.

Ada juga yang bertanya tentang kuliah Bunsay, dimana anaknya tidak mau difoto. Bu Septi menjawab agar berkomunikasi terlebih dahulu kepada anak agar saat anak beraktivitas, Bunda izin memfoto. Lalu sepakati juga waktu gadget atau saat Bunda mengerjakan tugas tersebut, dengan anak dan suami. Kelas Bunda Sayang adalah sarana dimana mempraktikkan ilmu yang didapat, tidak sekedar membaca dan kemudian kebingungan menerapkannya. Atau istilahnya badai/tsunami informasi parenting.

Hadir juga Mba Enes lho.. Putri pertama dari Bu Septi dan Pak Dodik ini cantik dan murah senyum sekali. Awalnya hanya dihubungi lewat telepon oleh panitia, ala-ala surprise di TV, eh ternyata hadir juga di acara. Kemudian mba Enes juga sharing dan menjawab pertanyaan. Salah satunya pertanyaan: apa yang diingat mba Enes tentang pola asuh Ibu & Bapak? Mba Enes menjawab tentang "bola tenis". Saat sekitar usia SD kelas 1 atau 2, mba Enes menangis. Kemudian bapak datang membawa bola tenis dan memantulkannya di lantai. Lalu Bapak bertanya: bagaimana bila bola tenis ini dilemparkan ke bantal? Mba Enes menjawab: tidak akan memantul.. Lalu Bapak bilang: itulah mengapa Bapak tidak memberikan kemudahan dan yang enak-enak untuk Enes, agar Enes dapat memantul seperti bola tenis. Mba Enes juga ingat bahwa Bapak dan Ibu selalu satu suara. Tidak ada misalnya oleh Ibu tidak boleh, lalu oleh Bapak boleh, ataupun sebaliknya.

Me and Mba Enes

Fyuuuh.. panjang juga ya. Sebelum ke kesimpulan, MC bagi-bagi doorprize. Banyak banget doorprize-nya. Mantab! Kemudian tiba pada kesimpulan dari Pak Dodik dan Ibu Septi. Dari Pak Dodik: perubahan dunia semakin cepat, anak harus dipersiapkan agar adaptif dan tidak gagap akan perubahan. Kuatkan di dalam keluarga agar terbiasa dengan perubahan, baru dapat berkarya keluar. Dari Bu Septi: Coba sebutkan pekerjaan yang 5-10 tahun lalu tidak ada, kini ada? Oleh karena itu pendidikan pun layaknya berubah. 

Education 1.0: I know, you don't know, I teach you 
Education 2.0: I know, you know, let's discuss
Education 3.0: You know better, let me hear

Acara pun dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada Bapak, Ibu, dan Mba Enes dari rumbel dan sponsor. Lanjut doorprize dan kuis. Lalu pengumuman untuk mengumpulkan bendera di setiap stand yang dikunjungi. Peserta dengan jumlah bendera terbanyak akan mendapatkan hadiah. Kemudian peserta bebas istirahat, sholat, dan makan siang. Sesi terakhir berfoto bersama pengurus, panitia, Bu Septi, Pak Dodik, dan mba Enes tentunya.

Yang ini bersama Mba Saroh (Banten), Mba Finny (Bogor), Uni Eci, dan Mba Efi (Jakarta)

Thursday, January 18, 2018

Kelas Menulis bersama Fahd Pahdepie di Ruang Tengah

Hwah.. ini sebuah "lembaran baru". Setelah menjadi ibu, ikut kelas menulis malam-malam. Meninggalkan anak-anak bersama neneknya dan papinya. Lalu setelah sampai, pesertanya anak muda semua. Hiks.. Dan kemudian berasa tua hahaha.. Untungnya tidak jadi membawa anak-anak, karena luas tempat terbatas dan peserta yang datang cukup banyak.

Cukup untuk curhatnya hehehe.. Berikut saya ceritakan tentang kelasnya. Tema pertemuan pertama kali ini adalah tentang ide. Apa itu ide? Menurut KBBI, ide adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan ;cita-cita. Mengapa pembahasan pertama adalah tentang ide? Karena ide-lah yang diperlukan para penulis di awal penulisan. Ide dapat dikaitkan dengan tujuan menulis. Untuk apa menulis? Tulisan apa yang akan dibuat? Fiksi atau non-fiksi? Cerita atau non-cerita?

Ide juga terkait konsep. Misal mau menulis tentang ibu. Konsep "ibu" ini adalah penamaan untuk mempermudah panggilan terhadap orang yang melahirkan atau merawat kita. Jika tidak ada kata "ibu", tentu perlu penjelasan yang panjang jika kita ingin menceritakan ide menulis tentang ibu kita.

Sesi tanya jawab
1. Pernah membaca artikel, bahwa seorang penulis itu harus "selesai" dengan dirinya sendiri. Nah itu bagaimana, apakah dengan menulis artinya tidak boleh punya masalah?

Jawab: Seorang penulis adalah manusia juga. Setiap manusia pasti memiliki problematika kehidupan. Maksudnya "selesai" adalah, ketika ada masalah, seorang penulis dapat menyelesaikan masalahnya dan tetap berbagi dengan cara menulis. Seorang penulis juga harus mengapresiasi tulisan orang lain, dengan cara membaca hasil karya orang lain, bukan hanya ingin tulisannya dibaca dan diapresiasi.

2. Saya ingin membuat love story yang ber-setting di zaman sejarah (Romusha). Bagaimana tahapan menulisnya?

Jawab: Tentukan tujuan menulis. Mau dititikberatkan dimana? (Penanya menjawab di zaman sejarah). Berarti harus riset tentang zaman sejarah (Romusha) dulu, agar cerita yang dibuat sesuai dengan zamannya. Lalu baru kembangkan love story-nya.

"5 Mengapa" (Dari Socrates)
Seorang peserta maju dan diberi pertanyaan:
1. Mengapa datang ke sini? Karena mau belajar menulis
2. Mengapa mau belajar menulis? Supaya bisa jadi penulis
3. Mengapa mau menjadi penulis? Karena suka menulis
4. Mengapa suka menulis? Untuk menghilangkan stress
5. Mengapa mau menghilangkan stress? Agar bahagia

Dari pertanyaan "5 Mengapa", dapat diketahui tujuan sebenarnya mengapa datang ke kelas ini? Yaitu agar bahagia. Coba tanyakan 5 mengapa ini kepada diri anda sendiri ketika ingin menulis suatu ide. Maka jawaban terakhir sejatinya adalah jawabannya.

Empat kemampuan yang harus dimiliki seorang penulis
1. Kemampuan mendengar
2. Kemampuan membaca 
3. Kemampuan berbicara (berkomunikasi)
4. Kemampuan menulis

Keempatnya diperlukan seorang penulis, tidak hanya kemampuan menulis saja. Seorang penulis harus bisa mendengar orang lain, sebagai kemampuan awal agar dapat berbicara dan berkomunikasi. Seorang penulis juga harus rajin membaca, agar dapat menulis dengan baik. Jangan lupa untuk praktik. Tidak mungkin Anda lihai membaca hanya dengan punya buku "Cara Cepat Membaca", jika Anda tidak pernah membaca atau punya buku selain buku tersebut. Demikian pula dengan menulis, kuncinya adalah berlatih.

Cara men-develop ide menjadi sebuah tulisan (dari Mark Levi)
1. Brainstorming: dapat dilakukan dengan mengobrol, menonton film, mendengarkan curhatan orang lain, jalan-jalan, mendengarkan radio, dll. Brainstorming yang simpel adalah menuliskan kata-kata yang berhubungan atau tidak berhubungan langsung dengan ide yang kita miliki
2. Clustering: memutuskan kata-kata mana yang dipakai atau tidak dipakai dari hasil brainstorming di atas
3. Jotting: menulis kasar. Tulis semua hasil brainstorming dan clustering  dengan kasar. Yang perlu diingat adalah tulisan yang kita buat tidak harus langsung bagus. Oleh karena itu diperlukan proses selanjutnya, yaitu:
4. Editing, dan
5. Re-writing

Sekian reportase saya dari kelas menulis pertama bersama Fahd Pahdepie di Cafe Ruang Tengah, Ciputat. Semoga dapat mentransfer sesuai yang disampaikan oleh Mas Fahd hehe.. Berikut fotonya, numpang eksis dulu yaa :)

Ibu-ibu sendiri

Wednesday, January 10, 2018

Cerita Lembaran Baru Menjadi Pengurus IIP Tangsel

Tulisan ini dimaksudkan sebagai penggugah teman-teman member IIP Tangsel agar mau menjadi bagian dari kepengurusan IIP Tangsel :) Tulisannya curhat lagi hehehe.. Memang yang paling mudah adalah bercerita tentang pengalaman pribadi yaa..

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Awal posisi yang saya ambil di IIP adalah koordinator mingguan ke-5 di Matrikulasi Batch 3 Tangsel. Bila mengingat saat itu, lucu deh. Saya sempat mau mengundurkan diri dari posisi tersebut. Sudah menyampaikannya juga kepada mba Adit yang kala itu adalah fasil saya, dan mba Ika sebagai ketua kelas. Alasannya karena "takut ga kepegang". Tapi koq ya seperti ada yg memanggil "ayo lanjutkan..". Jadinya tidak jadi mengundurkan diri deh..  Akhirnya kembali menyampaikan ke mba Adit dan mba Ika, saya lanjut menjadi korming 5.

Setelah rampung bertugas menjadi korming, koq malah penasaran coba lagi posisi lain ya. Waktu itu dibuka pendaftaran panitia JJS. Akhirnya daftar sebagai sie acara. Padahal ya, semenjak menjadi ibu-ibu tidak punya pengalaman kepanitiaan sebelumnya. Tapi ya dijalani saja.. yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak kenal menjadi kenal. Tadinya tidak tahu bagaimana caranya bisa pergi-pergi dengan 2 anak, akhirnya menjadi tahu dan sekarang jadinya kemana-mana terus haha.. Yang tadinya tidak bisa buat google form beserta file responnya, jadi bisa dengan belajar autodidak lewat google. Yang tadinya tidak kenal dekat dengan ibu-ibu IIP, jadi punya teman dan sahabat baru alhamdulilah..

Lalu dr kepanitiaan JJS, saya memberanikan diri apply kepengurusan. Jadi offline manager, tapi diterimanya menjadi ketua kejar berkebun. Terus semakin banyak belajar. Tahu bagaimana menyusun proker, tau bagaimana berorganisasi, diajarkan juga public speaking oleh mba Ikhe. Dan semuanya itu didapatkan dengan gratis tis tis! Padahal ya saya itu waktu kuliah kuper, organisasi cuma berani jadi anggota, berbicara dengan orang lain jarang sekali haha.. Alhamdullilah di IIP seperti menemukan diri saya yg lain wkwkwk..

Lalu ketika dibuka rekrutment sekretaris, ingat mba Nani dan mba Ika bilang saya cocok di posisi tersebut. Tadinya sudah tidak mau melamar karena masih menjadi ketua kejar berkebun. Tetapi akhirnya apply juga 😂 Dan di sinilah saya sekarang menjadi sekretaris yang cemilannya data, gform, spreadsheet, dan bit.ly 🤣

Jadi pengurus itu bagi saya membahagiakan karena punya sahabat-sahabat baru 😘 Jangan takut, kepengurusan IIP Tangsel adalah 1 tim, kita saling back up dan membantu 🤝🏻 We are not alone dear ❤

Wednesday, January 3, 2018

Passion Menulis, Menulis Passion

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada IIP. Karena bergabung dengan komunitas inilah saya menemukan passion saya, terus bersemangat menjalani keseharian sebagai seorang ibu, terus belajar dan melakukan hal yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Penemuan passion.. sesuatu yang membuat saya menjalani hidup dengan lebih bahagia. Alhamdulillah.. terima kasih IIP dan Ibu Septi :)

Dari passion berlanjut ke mimpi-mimpi yang insya Allah ingin diwujudkan di tahun 2018 ini. Sebuah lembaran baru, menjadi changemaker, dimulai dari langkah-langkah kecil dengan tujuan besar. Apakah mimpi yang ingin dicapai, perubahan apa yang ingin dilakukan, passion apa yang akan digeluti? Ini dia:

amotheranengineer.blogspot.co.id
Yup, blog inilah yang saya pilih sebagai sarana penyaluran passion menulis saya. Mulai menulis di blog ini ketika anak pertama saya ulang tahun yang ke-1. Pada awalnya banyak menulis tentang diri sendiri, keluarga, travelling, lalu tentang pekerjaan juga yang kala itu berkarir sebagai seorang engineer. Setelah menjadi ibu rumah tangga, mulai mem-posting tentang masakan dan aktivitas bersama anak. Sempat hiatus juga blog-nya, sampai akhirnya mengikuti kelas Bunda Sayang di IIP dan menulis Tantangan 10 Hari-nya di sini. Sekarang isi blog-nya malah IIP semua hehe.. Setor tugas kelas Matrikulasi Koordinator Tambahan, Training for Fasilitator Matrikulasi Batch 5, sampai terakhir ikut Kejar (Kelas Belajar) Menulis IIP Tangsel pun semuanya ditulis di sini.

Karena di IIP seperti 'dipaksakan' untuk selalu menulis, lama-lama jadi teringat juga dengan kegiatan yang sebenarnya sudah saya sukai sejak SMP ini. Dulu suka membuat cerita pendek, lalu di sekolah sangat senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia, suka juga dengan quotes-quotes berbahasa Inggris yang singkat kalimatnya tetapi dalam maknanya.

Menulis adalah kegiatan yang saya nikmati (Enjoy), seringkali dapat mengalir begitu saja (Easy), beberapa kali dinilai bagus oleh teman dan pembaca, alhamdulillah (Excellent), dan menghasilkan, misalnya digunakan sebagai artikel harian di grup member IIP Tangsel dan menjadi salah satu Journal Owlet di kelas Bunsay Leader (Earn). Hal ini menjadi pemicu saya agar merutinkan menulis lagi di blog, di luar materi IIP.

Apa saja yang rencananya akan saya tulis di blog? Passion-passion saya yang lain selain menulis, yaitu:

  1. Pendidikan Anak (Usia Dini): aktivitas-aktivitas bersama anak-anak baik yang dilakukan di rumah setiap hari, di alam, tentang buku anak, kunjungan ke tempat-tempat wisata anak, dll.
  2. Memasak simpel: Resep masakan sehari-hari di rumah dengan konten pendukung lainnya seperti lama memasak, harga bahan, porsi, review-review produk, dsb.
  3. Buku dan literasi: gerakan membaca #OneMonthOneBook, kunjungan ke perpustakaan-perpustakaan, mengadakan peminjaman buku secara online dan gratis.
  4. Event organizer: menuliskan tentang kegiatan-kegiatan komunitas yang saya ikuti selain IIP, yaitu @itbmh_jaktangsel, dimana saya berperan sebagai playdate arranger, dan dilakukan insya Allah minimal 1 kali per bulan.
Rencana jadwal penulisan di blog (selain Tantangan 10 Hari kelas Bunsay):
  1. Senin: Pendidikan Anak (Usia Dini) selama 1 minggu sebelumnya, dapat dijumpai pada label Kegiatan Neta Nara.
  2. Rabu: One Week One Post Kejar Menulis IIP Tangsel (sesuai tema), dapat dijumpai pada label One Week One Post (OWOP).
  3. Jumat: Memasak simpel (menu Senin-Jumat), dapat dijumpai pada label #noweveryonecancook.
  4. Sabtu: 
    • Jurnal belajar kelas Bunsay Leader, dapat ditemui pada label Kelas Bunsay Leader
    • #OneMonthOneBook, dapat ditemui pada label #OneMonthOneBook
    • Kegiatan @itbmh_jaktangsel, dapat ditemui pada label @itbmh_jaktangsel
Semoga dapat konsisten menulis dan tulisannya bermanfaat bagi pembaca. Aamiin!

#changemakerfamily
#IbuProfesional6th

------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini dimaksudkan sebagai mulainya penulis mengikuti tantangan "Changemaker Family" yang diselenggarakan oleh IIP dalam rangka ulang tahunnya yang ke-6. Juga untuk menyetor tulisan One Week One Post (OWOP) Kejar Menulis IIP Tangsel dengan tema "Lembaran Baru".

Friday, December 29, 2017

Changing Guilty Feelings into Positive Action

Jumat Hangat 
Kelas Bunda Sayang Batch 1 Tangerang 

29 Desember 2017 Pukul 14.00-15.00

By Nika Yunitri

Tema:
Changing Guilty Feelings into Positive Action
(Mengubah Perasaan Bersalah menjadi Aksi Positif)

Cerita ini bermulai ketika saya melahirkan anak pertama, dan berubahlah status saya menjadi seorang ibu. Apakah yang saya rasakan ketika itu? Senang sudah pasti. Terharu, melihat ada makhluk mungil nan elok lahir ke dunia dan dinobatkan sebagai 'anakku'. Selain itu? Jujur saja saya bingung. Menyusui saja belum bisa, menggendong masih kaku, sering menangis karena kurang tidur, dan banyak perasaan2 lainnya yang bercampur aduk menjadi satu. Baru diketahui setelah beberapa waktu bahwa hal yang dirasakan tsb adalah sindrom baby blues.

Alhamdulillah 2 bulan berjalan.. Saya sudah bisa kembali hidup relatif 'normal' dengan kehadiran seorang bayi. Menyusui dan memompa asi sudah handal 👍🏻 Menggendong, mengganti popok, dan beraktivitas sehari-hari bersama bayi di rumah sudah sigap 👍🏻 Tidur sudah mulai cukup karena jam tidur bayi pun dapat dikatakan teratur 👍🏻 Tetapi satu bulan lagi, mami harus kembali bekerja di ranah publik, Nak.

Selama bekerja di ranah publik, alhamdulillah sedikit demi sedikit dapat me-manage waktu untuk berperan sebagai ibu, istri, dan karyawan. Suami pun sangat mendukung dan membantu. Kala itu support system juga memadai. Sejak umur 3 bulan sampai hampir 3 tahun, Neta diasuh oleh kakek-neneknya jika saya sedang bekerja. Lalu lanjut masuk daycare. Sampai akhirnya.. Sekarang Neta diasuh oleh maminya sendiri karena maminya di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja 🤭

Lalu bagaimanakah perjalanan saya dari ibu yang bekerja di ranah publik yang kemudian 'terpaksa' menjadi ibu rumah tangga? Kisahnya ada di sini.

Tetapi setelah 'berhasil' menyebut diri sebagai ibu rumah tangga bahagia, masih ada satu perasaan yang mengganjal dan belum terselesaikan. Apakah itu? Yup, Guilty Feelings (Perasaan Bersalah).

Jujur saya akui, ketika saya bekerja di ranah publik, tidak jarang ketika saya pulang ke rumah, hanya tersisa sedikit energi untuk membersamai Neta. Sering saya, si pelor & kebluk ini, tidur terlebih dahulu daripada Neta dan kemudian Neta akan diasuh papinya sampai tertidur. Rupanya kebiasaan ini berlanjut, Neta jadi lebih dekat dengan papinya, apa-apa maunya sama papi. Kalau papi pergi, Neta nangis. Kalau saya yang pergi biasa saja. Kalau papinya peluk & cium Neta, dia mau. Kalau maminya yang minta, dia tidak mau. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika saya bertanya: Neta sayang papi? Dia jawab iya. Neta sayang mami? Dia jawab ga. 🔪🔪🔪🔪🔪🔪🔪🔪 Makjleb. Sakitnya tuh di sini 😭

Ini bahkan terjadi setelah saya ada di rumah alias sudah beberapa waktu menjadi ibu rumah tangga.

Lalu saya berpikir dan berpikir.. Merenung dan merenung.. Bagaimana menyelesaikan tantangan ini. Perasaan bersalah karena dulu tidak berada sepenuhnya di sisi Neta, adakah cara untuk memperbaikinya sekarang? Alhamdulillah.. Ada jalannya bunda ❤ Berikut saya kupas satu persatu jalannya..

1. Mengakui kesalahan
Saya mengakui kesalahan saya semasa dulu. Saya bercerita kepada suami, meminta maaf kepadanya, meminta maaf juga kepada Neta. Alhamdulillah suami tidak men-judge saya.. Neta juga memaafkan saya insya Allah.. Mengakui kesalahan bukan untuk bersedih, tetapi untuk mencegah mengulanginya lagi.

2. Menerima diri sendiri
Selain meminta maaf kepada suami dan anak, maafkanlah juga diri sendiri.. Ini adanya saya dan sifat saya, kesalahan saya. Mari berubah untuk memperbaiki.

3. Berniat menjadi ibu yang lebih baik lagi setiap harinya
Seorang ibu adalah seorang manusia yang ada kelebihan dan kekurangan. Bisa berbuat hal yang benar dan yang salah. It's ok moms.. Because motherhood is journey.. Yang diazzamkan di dalam hati adalah lakukan terus yang baik. Apabila melakukan kesalahan, sadari, dan kemudian perbaiki. Jangan berlama-lama dalam kubangan 'saya bersalah', ' saya bukan ibu yang baik', dan kalimat2 sejenis.

4. Lakukan yang bisa dilakukan, fokus pada kelebihan diri
Ada quotes yang sangat bagus tentang motherhood:
There is no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one ~Jill Churchill
Quotes yg dapat menyemangati saya di kala down. Dari satu kesalahan yang kita buat sebagai ibu, insya Allah ada beberapa kebaikan lain yang telah kita lakukan sebagai ibu. Saya meyakininya dan menjadikannya penyemangat. Saya tidak sempurna, tapi saya tetap berusaha melakukan hal-hal yang baik untuk anak-anak.

5. Tetap belajar
Saat ini banyak sekali referensi-referensi ilmu parenting. Saya pun senang membaca kemudian mencatat ilmu yang sekiranya sesuai bagi keluarga untuk dipraktikkan. Ini adalah salah satu cara untuk 'upgrade' diri kita sebagai ibu.

6. Manajemen emosi
Saya akui saya pun masih terus belajar untuk hal yang satu ini. Saat saya emosi kepada anak, yang saya ingat adalah bahwa anak belum 100% sempurna perkembangannya. Kita saja yang sudah dewasa masih melakukan kesalahan. Anak melakukan kesalahan adalah hal wajar karena masih belajar. Cara menanggulangi emosi yang efektif bagi saya adalah:
- Diam (tarik nafas bun)
- Lakukan hal yang disuka (misalnya saya suka makan)
- Berbagi pada suami, bilang perlu pertolongan jika lelah, bila suami ada di rumah. Jika tidak ada di rumah, saya merasa cukup dengan meneleponnya hehe..
Kenali kapan dan mengapa saat kita emosi, dan kenali pula cara mengatasinya ❤

7. Last but not least.. Berdoa kepada Allah
Mohon dilembutkan hati saya & anak-anak.. Agar saya dapat menyayangi anak-anak dengan ikhlas, anak-anak pun dapat menerima & menyayangi maminya ini.. Saya pun berdoa agar saya ridho kepada anak-anak saya, sehingga Allah pun ridho kepada mereka, dan mereka pun mengingat saya sebagai ibunya karena Allah..

Alhamdulillah demikianlah sharing saya tentang mengatasi perasaan bersalah. Alhamdulillah juga sekarang Neta sudah dekat sama mami. Kalau mami pergi, Neta mau ikut. Mau juga dipeluk dan dicium sama mami. Bilang sayang juga sama mami.. Sesuatu yg priceless bisa mengalaminya.. Alhamdulillah wasyukurilah 💞

Terima kasih bunda2 yang mau baca curhatan saya yang panjang ini. Semoga bermanfaat 😊
_________________________________________________________________________________

Tulisan ini dibuat untuk mengisi Jumat Hangat di kelas Bunsay batch 1 Tangerang, sekalian untuk setor One Week One Post (OWOP) dengan tema seputar "Ibu".

#JumatHangat
#KuliahBunsayIIP

Saturday, December 23, 2017

Baper (Bawa Perasaan, Carrying Feelings)

Baper atau bawa-bawa perasaan, sebuah istilah kekinian lainnya yang sering terlihat di sosial media, dan sering dirasakan oleh kalangan ibu-ibu. Ada yang posting makanan, dibilangnya untuk apa, kan ga bagi-bagi. Posting jalan-jalan, dibilangnya pamer. Posting kebaikan suami, dibilangnya hati-hati nanti ada perempuan yang minta dipoligami lho, Bun. Posting tentang anak, kasihan yang belum punya buah hati, Mba. Dan sederet comment-comment lainnya. Susah ya, terus bolehnya posting apa dong? Hehe..

Itulah sulitnya jadi ibu zaman sekarang ya.. sudah terlanjur terbiasa mem-posting segala hal di sosial media (eh saya aja kali yaa..), maka harus siap juga di-comment apa pun oleh pembaca sosmed kita. Awalnya memang ada masa-masa dimana setiap kegiatan langsung di-posting di sosmed lalu lama-lama berpikir untuk apa dan siapa sih? Haruskah semua hal difoto dan di-upload? Lalu muncul rasa tidak ingin posting-posting lagi karena merasa bosan. Tetapi sekarang, lebih memilih mana yang bisa di-posting, mana yang tidak perlu. Apa yang sekarang sering di-posting? Hal-hal yang sekiranya dapat menginspirasi kebaikan terhadap pembacanya. Jadi bila ada yang comment baper pun, perasaan yang dibawa adalah perasaan positif :)

Selain di sosmed seperti di FB dan IG, baper juga dapat tercipta ketika chatting via WA. Apalagi ikut komunitas dan berbagai macam grup yang bersentuhan dengan orang banyak. Ada kalanya ketika menulis sesuatu di grup, ada kekhawatiran bila tidak ada yang membalas, atau balasannya seperti kalimat yang tidak menyukai tulisan kita ataupun tidak setuju dengan pendapat yang kita sampaikan. Ada masa di awal-awal ikut komunitas dan banyak grup, berpikir seperti ini: 'Kenapa sih dia begitu? Kenapa balasannya seperti itu? Kenapa ga begini saja... ". Lama-lama capek juga ya berpikir seperti itu. Stop controlling what we can't control. Berhentilah mengendalikan hal yang tidak bisa dikendalikan. Orang lain mau menulis, membalas, merespon, atau berbicara apapun bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan bukan? Yang bisa kita kendalikan adalah respon diri kita sendiri terhadap suatu hal, seperti bagaimana kita menghadapi pembicaraan orang lain, apakah dibalas atau tidak dibalas, dibalas dengan emosi atau dengan komunikasi produktif. The choice is yours..

Akhirnya setelah belajar dari pengalaman berkomunikasi via WA: ada hal yang penting untuk ditanggapi dengan serius, ada hal yang bisa ditanggapi dengan candaan, ada juga hal yang tidak perlu ditanggapi. Kebijaksanaan juga berarti dapat menempatkan diri, mana yang perlu dibalas ataupun tidak. Ada juga yang sesuai dengan prinsip silence is gold, tapi ada juga yang apabila kita diam malah menambah runyam suasana. Kedewasaan dalam berkomunikasi lah, serta etika komunikasi yang perlu terlus dilatih agar tidak menimbulkan kebaperan dalam diri. Hihihi.. Yuk ah dilatih lagi komunikasi produktifnya, dan tentunya berpikir positif atas tulisan seseorang. Memang sulit, saya pun masih belajar. Menuliskan ini bukan berarti saya sudah tidak baper, tetapi justru mengingatkan diri sendiri agar tidak mudah baper hehehe.. Semangat, Bundas :*

Tuesday, December 12, 2017

Judging Between Mothers (Menghakimi Antar Sesama Ibu)

Mom's war. Siapa yang tak lekat dengan istilah tersebut, apalagi setelah menjadi seorang ibu? Ditambah lagi dengan kehadiran sosial media di zaman sekarang ini (zaman now istilah kekiniannya). Dimana setiap orang, termasuk seorang ibu, dapat menulis apa saja, berkata apa saja, mem-posting apa saja sesuai keinginan.

Dulu ketika saya masih bekerja di ranah publik, masih teringat jelas sebuah meme tentang percakapan antara ibu rumah tangga berpendidikan S1, dengan ibu bekerja yang menitipkan anaknya kepada pembantu yang notabene kebanyakan hanya lulusan SD. Atau sebuah gambar "lucu" tentang seorang nenek yang terpaksa mengasuh cucu-cucunya karena anak atau menantu perempuannya bekerja di luar rumah. Atau penggalan cuitan seorang ustadz tentang status ibu yang bekerja di luar rumah, dapat dikatakan seorang ibu atau seorang karyawan. Karena waktu di luar rumah lebih lama daripada ketika di dalam rumah. Oh, betapa hati ini begitu sakit melihatnya berseliweran di timeline pribadi.

Sekarang setelah menjadi ibu rumah tangga pun, masih ada perasaan bertanya mengapa seseorang begitu memedulikan pilihan orang lain dalam menjalani hidupnya? Seorang ibu rumah tangga, begitu mulianya karena mendedikasikan dirinya untuk anak-anak dan suami. Tak jarang melupakan kepentingan dan mimpi-mimpi pribadinya demi keluarga. Dua puluh empat jam sehari berkutat dengan pekerjaan itu-itu saja yang seakan-akan tak pernah selesai, meladeni berbagai macam tingkah polah anak yang tak jarang menguji kesabaran, lalu tak lupa melayani suami di sisa-sisa tenaganya. Seorang ibu yang bekerja di ranah publik, berjibaku dengan manajemen waktu agar kebutuhan keluarga dan tuntutan pekerjaan kantor dapat terpenuhi, merelakan sebagian penghasilannya untuk membantu perekonomian keluarga, menjadi wanita mandiri yang bersiap-siap jika sewaktu-waktu suami tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu. Adakah yang salah di antara keduanya?

Belum lagi dengan perbedaan metode pengasuhan. Contoh sederhananya saja menyusui atau susu formula, menyuapi atau BLW (baby led weaning), gendong samping atau gendong M-shape, dan lain sebagainya.

Memiliki pengalaman di-judge karena terlihat jarang menyuapi anak, membuat diri ini pun bertanya-tanya. Seberat inikah tugas seorang ibu? Selain harus fokus mengurus keluarga, juga mendengarkan celotehan orang lain tentang cara-cara pengasuhan yang dipilih untuk anak-anak saya sendiri? Sungguh melelahkan hanya dengan memikirkannya saja..

Menyuapi anak adalah salah satu bentuk kasih sayang ibu kepada anaknya. Dengan menyuapi, hubungan antara anak dan orang yang menyuapinya akan terasa hangat, dekat, dan menyenangkan. Tetapi ada nilai (value) yang berbeda pada tiap keluarga, misalnya value kemandirian. Saya percaya, anak-anak yang dipercaya bisa melakukan sesuatu, misalnya makan sendiri, mereka benar mampu melakukannya jika diberikan kesempatan belajar makan sendiri. Selain itu, ada adab makan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu makanlah sambil duduk, bukan sambil jalan-jalan keluar rumah naik sepeda sore-sore misalnya (hehehe.. ketawa dulu lah biar ga tegang).

Yang ingin saya sampaikan setelah berpanjang-panjang menulis adalah.. Come on, Moms.. Tanpa mom's war pun pekerjaan kita sebagai ibu sudahlah banyak.. Kembali mengurus keluarga masing-masing saja, pilih apa yang terbaik untuk keluarga masing-masing, bukan mengurusi pilihan ibu keluarga lain.. Dan yang terpenting, pastikan apapun pilihan para moms, anak-anak senang menjalani prosesnya, tidak meninggalkan trauma, melainkan meninggalkan momen indah yang akan dikenang saat mereka dewasa nanti.

Peace, Moms! We need it more, to keep our insanity, to be happy when raising our kids, and last but not least to be happy as mom yourself. Hugs and kisses for all of mothers including you :* Thanks for reading my post! :D

(Mari berdamai, Mama! Kita memerlukannya lebih, untuk menjaga kewarasan kita, agar bahagia saat membesarkan anak-anak kita, dan yang terpenting untuk berbahagia menjadi seorang ibu. Peluk dan cium untuk semua ibu, termasuk kamu :* Terima kasih telah membaca tulisanku! :D)