Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

Friday, December 29, 2017

Changing Guilty Feelings into Positive Action

Jumat Hangat 
Kelas Bunda Sayang Batch 1 Tangerang 

29 Desember 2017 Pukul 14.00-15.00

By Nika Yunitri

Tema:
Changing Guilty Feelings into Positive Action
(Mengubah Perasaan Bersalah menjadi Aksi Positif)

Cerita ini bermulai ketika saya melahirkan anak pertama, dan berubahlah status saya menjadi seorang ibu. Apakah yang saya rasakan ketika itu? Senang sudah pasti. Terharu, melihat ada makhluk mungil nan elok lahir ke dunia dan dinobatkan sebagai 'anakku'. Selain itu? Jujur saja saya bingung. Menyusui saja belum bisa, menggendong masih kaku, sering menangis karena kurang tidur, dan banyak perasaan2 lainnya yang bercampur aduk menjadi satu. Baru diketahui setelah beberapa waktu bahwa hal yang dirasakan tsb adalah sindrom baby blues.

Alhamdulillah 2 bulan berjalan.. Saya sudah bisa kembali hidup relatif 'normal' dengan kehadiran seorang bayi. Menyusui dan memompa asi sudah handal 👍🏻 Menggendong, mengganti popok, dan beraktivitas sehari-hari bersama bayi di rumah sudah sigap 👍🏻 Tidur sudah mulai cukup karena jam tidur bayi pun dapat dikatakan teratur 👍🏻 Tetapi satu bulan lagi, mami harus kembali bekerja di ranah publik, Nak.

Selama bekerja di ranah publik, alhamdulillah sedikit demi sedikit dapat me-manage waktu untuk berperan sebagai ibu, istri, dan karyawan. Suami pun sangat mendukung dan membantu. Kala itu support system juga memadai. Sejak umur 3 bulan sampai hampir 3 tahun, Neta diasuh oleh kakek-neneknya jika saya sedang bekerja. Lalu lanjut masuk daycare. Sampai akhirnya.. Sekarang Neta diasuh oleh maminya sendiri karena maminya di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja 🤭

Lalu bagaimanakah perjalanan saya dari ibu yang bekerja di ranah publik yang kemudian 'terpaksa' menjadi ibu rumah tangga? Kisahnya ada di sini.

Tetapi setelah 'berhasil' menyebut diri sebagai ibu rumah tangga bahagia, masih ada satu perasaan yang mengganjal dan belum terselesaikan. Apakah itu? Yup, Guilty Feelings (Perasaan Bersalah).

Jujur saya akui, ketika saya bekerja di ranah publik, tidak jarang ketika saya pulang ke rumah, hanya tersisa sedikit energi untuk membersamai Neta. Sering saya, si pelor & kebluk ini, tidur terlebih dahulu daripada Neta dan kemudian Neta akan diasuh papinya sampai tertidur. Rupanya kebiasaan ini berlanjut, Neta jadi lebih dekat dengan papinya, apa-apa maunya sama papi. Kalau papi pergi, Neta nangis. Kalau saya yang pergi biasa saja. Kalau papinya peluk & cium Neta, dia mau. Kalau maminya yang minta, dia tidak mau. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika saya bertanya: Neta sayang papi? Dia jawab iya. Neta sayang mami? Dia jawab ga. 🔪🔪🔪🔪🔪🔪🔪🔪 Makjleb. Sakitnya tuh di sini 😭

Ini bahkan terjadi setelah saya ada di rumah alias sudah beberapa waktu menjadi ibu rumah tangga.

Lalu saya berpikir dan berpikir.. Merenung dan merenung.. Bagaimana menyelesaikan tantangan ini. Perasaan bersalah karena dulu tidak berada sepenuhnya di sisi Neta, adakah cara untuk memperbaikinya sekarang? Alhamdulillah.. Ada jalannya bunda ❤ Berikut saya kupas satu persatu jalannya..

1. Mengakui kesalahan
Saya mengakui kesalahan saya semasa dulu. Saya bercerita kepada suami, meminta maaf kepadanya, meminta maaf juga kepada Neta. Alhamdulillah suami tidak men-judge saya.. Neta juga memaafkan saya insya Allah.. Mengakui kesalahan bukan untuk bersedih, tetapi untuk mencegah mengulanginya lagi.

2. Menerima diri sendiri
Selain meminta maaf kepada suami dan anak, maafkanlah juga diri sendiri.. Ini adanya saya dan sifat saya, kesalahan saya. Mari berubah untuk memperbaiki.

3. Berniat menjadi ibu yang lebih baik lagi setiap harinya
Seorang ibu adalah seorang manusia yang ada kelebihan dan kekurangan. Bisa berbuat hal yang benar dan yang salah. It's ok moms.. Because motherhood is journey.. Yang diazzamkan di dalam hati adalah lakukan terus yang baik. Apabila melakukan kesalahan, sadari, dan kemudian perbaiki. Jangan berlama-lama dalam kubangan 'saya bersalah', ' saya bukan ibu yang baik', dan kalimat2 sejenis.

4. Lakukan yang bisa dilakukan, fokus pada kelebihan diri
Ada quotes yang sangat bagus tentang motherhood:
There is no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one ~Jill Churchill
Quotes yg dapat menyemangati saya di kala down. Dari satu kesalahan yang kita buat sebagai ibu, insya Allah ada beberapa kebaikan lain yang telah kita lakukan sebagai ibu. Saya meyakininya dan menjadikannya penyemangat. Saya tidak sempurna, tapi saya tetap berusaha melakukan hal-hal yang baik untuk anak-anak.

5. Tetap belajar
Saat ini banyak sekali referensi-referensi ilmu parenting. Saya pun senang membaca kemudian mencatat ilmu yang sekiranya sesuai bagi keluarga untuk dipraktikkan. Ini adalah salah satu cara untuk 'upgrade' diri kita sebagai ibu.

6. Manajemen emosi
Saya akui saya pun masih terus belajar untuk hal yang satu ini. Saat saya emosi kepada anak, yang saya ingat adalah bahwa anak belum 100% sempurna perkembangannya. Kita saja yang sudah dewasa masih melakukan kesalahan. Anak melakukan kesalahan adalah hal wajar karena masih belajar. Cara menanggulangi emosi yang efektif bagi saya adalah:
- Diam (tarik nafas bun)
- Lakukan hal yang disuka (misalnya saya suka makan)
- Berbagi pada suami, bilang perlu pertolongan jika lelah, bila suami ada di rumah. Jika tidak ada di rumah, saya merasa cukup dengan meneleponnya hehe..
Kenali kapan dan mengapa saat kita emosi, dan kenali pula cara mengatasinya ❤

7. Last but not least.. Berdoa kepada Allah
Mohon dilembutkan hati saya & anak-anak.. Agar saya dapat menyayangi anak-anak dengan ikhlas, anak-anak pun dapat menerima & menyayangi maminya ini.. Saya pun berdoa agar saya ridho kepada anak-anak saya, sehingga Allah pun ridho kepada mereka, dan mereka pun mengingat saya sebagai ibunya karena Allah..

Alhamdulillah demikianlah sharing saya tentang mengatasi perasaan bersalah. Alhamdulillah juga sekarang Neta sudah dekat sama mami. Kalau mami pergi, Neta mau ikut. Mau juga dipeluk dan dicium sama mami. Bilang sayang juga sama mami.. Sesuatu yg priceless bisa mengalaminya.. Alhamdulillah wasyukurilah 💞

Terima kasih bunda2 yang mau baca curhatan saya yang panjang ini. Semoga bermanfaat 😊
_________________________________________________________________________________

Tulisan ini dibuat untuk mengisi Jumat Hangat di kelas Bunsay batch 1 Tangerang, sekalian untuk setor One Week One Post (OWOP) dengan tema seputar "Ibu".

#JumatHangat
#KuliahBunsayIIP

Saturday, December 23, 2017

Baper (Bawa Perasaan, Carrying Feelings)

Baper atau bawa-bawa perasaan, sebuah istilah kekinian lainnya yang sering terlihat di sosial media, dan sering dirasakan oleh kalangan ibu-ibu. Ada yang posting makanan, dibilangnya untuk apa, kan ga bagi-bagi. Posting jalan-jalan, dibilangnya pamer. Posting kebaikan suami, dibilangnya hati-hati nanti ada perempuan yang minta dipoligami lho, Bun. Posting tentang anak, kasihan yang belum punya buah hati, Mba. Dan sederet comment-comment lainnya. Susah ya, terus bolehnya posting apa dong? Hehe..

Itulah sulitnya jadi ibu zaman sekarang ya.. sudah terlanjur terbiasa mem-posting segala hal di sosial media (eh saya aja kali yaa..), maka harus siap juga di-comment apa pun oleh pembaca sosmed kita. Awalnya memang ada masa-masa dimana setiap kegiatan langsung di-posting di sosmed lalu lama-lama berpikir untuk apa dan siapa sih? Haruskah semua hal difoto dan di-upload? Lalu muncul rasa tidak ingin posting-posting lagi karena merasa bosan. Tetapi sekarang, lebih memilih mana yang bisa di-posting, mana yang tidak perlu. Apa yang sekarang sering di-posting? Hal-hal yang sekiranya dapat menginspirasi kebaikan terhadap pembacanya. Jadi bila ada yang comment baper pun, perasaan yang dibawa adalah perasaan positif :)

Selain di sosmed seperti di FB dan IG, baper juga dapat tercipta ketika chatting via WA. Apalagi ikut komunitas dan berbagai macam grup yang bersentuhan dengan orang banyak. Ada kalanya ketika menulis sesuatu di grup, ada kekhawatiran bila tidak ada yang membalas, atau balasannya seperti kalimat yang tidak menyukai tulisan kita ataupun tidak setuju dengan pendapat yang kita sampaikan. Ada masa di awal-awal ikut komunitas dan banyak grup, berpikir seperti ini: 'Kenapa sih dia begitu? Kenapa balasannya seperti itu? Kenapa ga begini saja... ". Lama-lama capek juga ya berpikir seperti itu. Stop controlling what we can't control. Berhentilah mengendalikan hal yang tidak bisa dikendalikan. Orang lain mau menulis, membalas, merespon, atau berbicara apapun bukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan bukan? Yang bisa kita kendalikan adalah respon diri kita sendiri terhadap suatu hal, seperti bagaimana kita menghadapi pembicaraan orang lain, apakah dibalas atau tidak dibalas, dibalas dengan emosi atau dengan komunikasi produktif. The choice is yours..

Akhirnya setelah belajar dari pengalaman berkomunikasi via WA: ada hal yang penting untuk ditanggapi dengan serius, ada hal yang bisa ditanggapi dengan candaan, ada juga hal yang tidak perlu ditanggapi. Kebijaksanaan juga berarti dapat menempatkan diri, mana yang perlu dibalas ataupun tidak. Ada juga yang sesuai dengan prinsip silence is gold, tapi ada juga yang apabila kita diam malah menambah runyam suasana. Kedewasaan dalam berkomunikasi lah, serta etika komunikasi yang perlu terlus dilatih agar tidak menimbulkan kebaperan dalam diri. Hihihi.. Yuk ah dilatih lagi komunikasi produktifnya, dan tentunya berpikir positif atas tulisan seseorang. Memang sulit, saya pun masih belajar. Menuliskan ini bukan berarti saya sudah tidak baper, tetapi justru mengingatkan diri sendiri agar tidak mudah baper hehehe.. Semangat, Bundas :*

Tuesday, December 12, 2017

Judging Between Mothers (Menghakimi Antar Sesama Ibu)

Mom's war. Siapa yang tak lekat dengan istilah tersebut, apalagi setelah menjadi seorang ibu? Ditambah lagi dengan kehadiran sosial media di zaman sekarang ini (zaman now istilah kekiniannya). Dimana setiap orang, termasuk seorang ibu, dapat menulis apa saja, berkata apa saja, mem-posting apa saja sesuai keinginan.

Dulu ketika saya masih bekerja di ranah publik, masih teringat jelas sebuah meme tentang percakapan antara ibu rumah tangga berpendidikan S1, dengan ibu bekerja yang menitipkan anaknya kepada pembantu yang notabene kebanyakan hanya lulusan SD. Atau sebuah gambar "lucu" tentang seorang nenek yang terpaksa mengasuh cucu-cucunya karena anak atau menantu perempuannya bekerja di luar rumah. Atau penggalan cuitan seorang ustadz tentang status ibu yang bekerja di luar rumah, dapat dikatakan seorang ibu atau seorang karyawan. Karena waktu di luar rumah lebih lama daripada ketika di dalam rumah. Oh, betapa hati ini begitu sakit melihatnya berseliweran di timeline pribadi.

Sekarang setelah menjadi ibu rumah tangga pun, masih ada perasaan bertanya mengapa seseorang begitu memedulikan pilihan orang lain dalam menjalani hidupnya? Seorang ibu rumah tangga, begitu mulianya karena mendedikasikan dirinya untuk anak-anak dan suami. Tak jarang melupakan kepentingan dan mimpi-mimpi pribadinya demi keluarga. Dua puluh empat jam sehari berkutat dengan pekerjaan itu-itu saja yang seakan-akan tak pernah selesai, meladeni berbagai macam tingkah polah anak yang tak jarang menguji kesabaran, lalu tak lupa melayani suami di sisa-sisa tenaganya. Seorang ibu yang bekerja di ranah publik, berjibaku dengan manajemen waktu agar kebutuhan keluarga dan tuntutan pekerjaan kantor dapat terpenuhi, merelakan sebagian penghasilannya untuk membantu perekonomian keluarga, menjadi wanita mandiri yang bersiap-siap jika sewaktu-waktu suami tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa terlebih dahulu. Adakah yang salah di antara keduanya?

Belum lagi dengan perbedaan metode pengasuhan. Contoh sederhananya saja menyusui atau susu formula, menyuapi atau BLW (baby led weaning), gendong samping atau gendong M-shape, dan lain sebagainya.

Memiliki pengalaman di-judge karena terlihat jarang menyuapi anak, membuat diri ini pun bertanya-tanya. Seberat inikah tugas seorang ibu? Selain harus fokus mengurus keluarga, juga mendengarkan celotehan orang lain tentang cara-cara pengasuhan yang dipilih untuk anak-anak saya sendiri? Sungguh melelahkan hanya dengan memikirkannya saja..

Menyuapi anak adalah salah satu bentuk kasih sayang ibu kepada anaknya. Dengan menyuapi, hubungan antara anak dan orang yang menyuapinya akan terasa hangat, dekat, dan menyenangkan. Tetapi ada nilai (value) yang berbeda pada tiap keluarga, misalnya value kemandirian. Saya percaya, anak-anak yang dipercaya bisa melakukan sesuatu, misalnya makan sendiri, mereka benar mampu melakukannya jika diberikan kesempatan belajar makan sendiri. Selain itu, ada adab makan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu makanlah sambil duduk, bukan sambil jalan-jalan keluar rumah naik sepeda sore-sore misalnya (hehehe.. ketawa dulu lah biar ga tegang).

Yang ingin saya sampaikan setelah berpanjang-panjang menulis adalah.. Come on, Moms.. Tanpa mom's war pun pekerjaan kita sebagai ibu sudahlah banyak.. Kembali mengurus keluarga masing-masing saja, pilih apa yang terbaik untuk keluarga masing-masing, bukan mengurusi pilihan ibu keluarga lain.. Dan yang terpenting, pastikan apapun pilihan para moms, anak-anak senang menjalani prosesnya, tidak meninggalkan trauma, melainkan meninggalkan momen indah yang akan dikenang saat mereka dewasa nanti.

Peace, Moms! We need it more, to keep our insanity, to be happy when raising our kids, and last but not least to be happy as mom yourself. Hugs and kisses for all of mothers including you :* Thanks for reading my post! :D

(Mari berdamai, Mama! Kita memerlukannya lebih, untuk menjaga kewarasan kita, agar bahagia saat membesarkan anak-anak kita, dan yang terpenting untuk berbahagia menjadi seorang ibu. Peluk dan cium untuk semua ibu, termasuk kamu :* Terima kasih telah membaca tulisanku! :D)