Showing posts with label Kuliah Bunsay IIP. Show all posts
Showing posts with label Kuliah Bunsay IIP. Show all posts

Friday, July 20, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 15)

Hari ini mau review aplikasi edit foto, yaitu PicsArt. Buat apa sih aplikasi ini? Kalau di IIP, untuk menambahkan frame cantik pada foto. Misal saat jadi fasilitator, saat ikut Leader Camp, untuk frame foto logo proyek RBI juga bisa. 

Waktu jadi fasilitator matrikulasi batch #4 dan saat ikut LC, masih minta tolong teman segrup untuk menambahkan frame di foto diri hihihi.. Kemudian saat menambahkan frame di logo proyek RBI, alhamdulillah sudah bisa sendiri, tetapi waktu itu menggunakan aplikasi Snapseed atas petunjuk teman segrup juga. 

Kemudian saat menjadi fasilitator bunsay batch #4 diminta lagi menambahkan frame pada foto diri. Eh koq ya lupa caranya bagaimana, padahal sudah mencoba cari lagi caranya di grup RBI, tetap tidak berhasil hehehe.. Setelah bertanya ke grup fasil bunsay, aplikasi PicsArt-lah yang direkomendasikan, karena lebih mudah katanya, tinggal menambahkan frame saja.

Berikut tampilan aplikasi PicsArt di Playstore:


Tahapan menambahkan frame pada foto:

1. Buka aplikasinya lalu muncul tampilan seperti di bawah ini. Klik tanda + untuk mulai mengedit.


2. Kemudian muncul tampilan seperti di bawah ini. Pilih opsi "Edit".


3. Pilih foto yang akan ditambahkan frame.


4. Geser ke kanan opsi editing (di bawah foto), sampai bertemu pilihan "Tambahkan".


5. Pilih frame (dalam bentuk .png) dan klik "tambahkan".


6. Adjust frame sampai pas sisi-sisinya dengan sisi foto, lalu klik tanda centang di pojok kanan atas.


7. Foto dapat disimpan atau dibagikan di timeline PicsArt.


Lebih mudah daripada ketika menggunakan Snapseed. Dan di PicsArt ini dapat upload dan saling follow layaknya instagram ternyata. Tapi malu juga kalo berbagi foto muka hehehe..

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Thursday, July 19, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 14)

Situs-situs pendidikan anak 11 hari kemarin sudah diulik satu per satu. Mau kembali review aplikasi masak memasak ahhh.. Gara-gara beli tumis oncom di warung nasi, jadi kangen masakan sunda, especially masakan Nenek yang sudah ga ada.. Daripada sedih, rasa kangen dan lapar tidak terobati, lebih baik kita cari resep aja gimana? :D

Ini dia aplikasinya, Resep Masakan Sunda:

Kece ya, yang bikin Mba Rani ;)

Setelah install dan open aplikasinya, berikut tampilannya:

Waaah ada resep apa aja nih?

Waktu pertama lihat tampilannya, yah koq gini. Harus klik satu-satu dong ya untuk tahu apa judul resepnya. Soalnya namanya cuma resep 1, 2, 3, dst gitu. Tapi ga apa-apa deh, ga ada salahnya lihat-lihat. Pas di-klik, coba Resep 2 ya, berikut tampilannya:

Waaah menggiurkan.. sllrrppp! :9

Coba klik semua resepnya dari 1-6, lengkaaap! Dari lauk pauk, sayuran, nasi-nasian, cemilan, sampai resep minuman pun ada! Coba kita lihat tampilan per resep masakannya:

Ada summary, ingredients, dan direction

Hwah.. tinggal tentuin aja nih kapan eksekusinya! Hehehe..

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Wednesday, July 18, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 13)

Rekomendasi web dari Mba DK Wardhani sudah habis. Aplikasi Filio dari Mba Farda sudah dicoba. Laluuu day 13 ini mau buka web apa ya? Aha! Sudah lama ikut bunda sayang, belum mampir ke blog manajernya, Teh Chika. Yuk ah cus klik rumahnisrin.com

Masya Allah.. Lengkapnya blog Teh Chika ini.. Baru buka home-nya sudah terasa aura homeschooling dan ketekunan seorang ibu yang menjalankan HS. Pertanyaan yang muncul dari dalam hati selalu sama: kapan saya bisa seperti itu? Hal apa sajakah yang sudah saya lakukan dalam berikhtiar untuk mendidik anak-anak? Hiks.. Semoga dengan melihat web-web pendidikan anak selama level 12 ini bisa membuat saya lebih konsisten lagi dalam mendidik mereka aamiin..

Back to web-nya Teh Chika. Tab kedua setelah home adalah tentang pendidikan: portofolio Nisrin, Evelyn, dan Kirei (putri-putri Teh Chika) dan kumpulan lapbook. Untuk pilihan referensi dan worksheet tidak ada jendela baru yang muncul, Teh. (Hehe.. siapa tahu Teh Chika baca) :)

Tab berikutnya adalah tentang bunda sayang. Wah apakah ini kumpulan tantangan 10 hari Teh Chika? Manajer BunSay bagaimana ya menuliskan tugasnya? Hehe.. Kepo banget sih. Waaah sekilas membaca banyak tentang dongeng berjudul Si Kempi. Apakah ini dongeng buatan Teh Chika sendiri? (Kenapa banyak tanya ya? Soalnya belum bacaaa hehe..).

Tab selanjutnya DIY tutorial. Waaah.. (lagi). Teh Chika meni rajin pisan! Mulai dari tutorial mainan, busy bag, sampai resep masakan ada. Officially nge-fans lah saya sama Teh Chika, pantesan dipilih jadi manajer bunsay ya, Teh. :D

Tab berikutnya freebie. Wah gratisan nih. Ada satu posting-an tentang Ramadhan Planner tapiii sudah tidak bisa diunduh hiks.. Benar ya, Teh? Atau saya yang kurang teliti mencari tautannya.

Tab terakhir ada profil Nisrin dan fotonya mulai usia 3 tahun, kemudian 5, 6, dan 9 tahun. Waaah sudah besar ya Nisrin!

Sekian review web Teh Chika hari ini. Definitely akan mengunjunginya lagi. Terima kasih ya Teh Chika atas inspirasinya. Barakallah :D

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Tuesday, July 17, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 12)

Rekomendasi terakhir dari Mba DK Wardhani: http://www.ebookanak.com. Masya Allah, ini lebih pusing lagi mau nge-klik yang mana duluan hahaha.. Banyak e-book bertebaran. Dari mana ya mulai ngulik-nya..

Di home ada tampilan e-book terbaru. Lalu ada pilihan e-book cerita dan cerita dongeng. Tab berikutnya adalah kategori, ada 16 kategori, yaitu bahasa, cerita, cerita dongeng, coloring, dongeng, e-book gratis, ensiklopedikid, gambarpedia, ibadah, Indonesiaku, islampedia, kisah islam, PAUD/TK, poster, dan tokopedia. Coba klik e-book gratis, ternyata tidak gratis (dasar emak-emak, nyarinya gratisan aja), ada infaqnya Rp 10.000 per buku, tapi masih worth it koq, dibandingkan membeli buku ya kan.. ;)

Tab berikutnya: katabaca. Ini adalah sister-nya situs e-book anak. Sama-sama dibuat kontennya oleh penulis yang sama, yaitu Nurul Ihsan. Di katabaca banyak juga terdapat e-book dengan berbagai kategori seperti baca tulis hitung, cerita dongeng, kisah islam, komik, ilmu islam, dan ilmu umum.

Tab berikutnya: toko buku. Di sini bisa membeli buku-buku secara online dengan katalog yang cukup lengkap, ada sale-nya juga untuk buku tertentu.

Tab berikutnya: studio. Di sini menyediakan jasa pengerjaan percetakan buku dan media promosi. Lengkap yaa.. Dari e-book, toko buku, sampai penerbit ada semua.

Tab berikutnya: download. Tata cara mengunduh e-book lewat web dan email ada di sini. 

Tab berikutnya: donasi. Ada pilihan e-book gratis, nomor rekening donasi/infaq, Gerakan Indonesia Berbudi (berbagi buku digital), dan katalog buku digital 2018.

Agak kecewa juga sih ternyata tidak benar-benar gratis yaa. hehehe.. Mami belum jadi menambah stok printable deh.. Tidak apa-apa, ini pun pembuatnya sudah sangat hebat karena sudah berhasil menerbitkan banyak buku. Kalau aku kapan menerbitkan buku? Hihi..

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Monday, July 16, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 11)

Hari ini melanjutkan referensi web dari Mba DK Wardhani, yaitu gurubumi.com. Waaah.. ini keren banget masya Allah dan saya baru tahu pula! Ada produk edukasi berupa buku aktivitas, buku kuartet, paper craft, dan poster edukasi yang siap dikirim ke rumah masing-masing dengan cara membelinya. Ada printable berupa buku aktivitas dan lembar aktivitas. Ada artikelnya juga! Lengkap kap kap!

Untuk buku aktivitas baru ada satu, yaitu Buku Aktivitas Anak Bermain di Taman Bersama Bumbli dan Jeje, untuk anak usia paud/TK-SD kelas 1, termasuk ke dalam mata pelajaran seni & keterampilan serta permainan anak, harganya Rp 45.000.

Untuk kartu kuartet ada dua yaitu, kartu kuartet budaya warna biru (16 provinsi) dan biru (18 provinsi), untuk anak usia di atas 8 tahun, termasuk ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, sosial, dan permainan anak, harganya masing-masing  Rp 65.000.

Untuk kartu papercraft ada dua yaitu, Boca Toys seri Retro 1 dan 2, untuk anak usia PAUD-kelas 3 SD, termasuk ke dalam mata pelajaran seni & keterampilan serta permainan anak, harganya masing-masing Rp 40.000.

Untuk poster ada seri Garuda Pancasila, seri anggota tubuh (anak laki-laki dan perempuan), ada juga poster lomba agustusan, poster edukasi seri Ramadhan, poster provinsi. Seru yaa! Harganya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 10.000 saja. :)

Untuk buku aktivitasnya banyak jenisnya (berbayar tetapi masih terjangkau koq). Yang gratis adalah lembar aktivitasnya dan masya Allah banyak sekaliii, saya seperti menemukan harta karun hehehe..

Artikelnya juga bagus-bagus, ada yang tentang mengajarkan anak berpuasa di bulan Ramadhan, belajar musim, mengetahui gaya belajar anak, dan masih banyaaak lagi. Sehari saja tidak cukup mengulik, salut dengan pembuat situs ini! Dan terima kasih Mba Dini sudah menyebarkannya lewat status FB sehingga saya dapat mengetahuinya! :D

Yuk cus klik gurubumi.com.

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Sunday, July 15, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 10)

Besok Neta sudah mulai sekolah lagi, naik ke kelas TKB. Insya Allah tidak akan se-hectic ketika baru masuk kelas TKA, karena sekarang Neta sudah terbiasa dengan lingkungan sekolahnya. Berbeda ketika baru masuk tahun lalu, Neta menangis di hari pertamanya masuk sekolah. Maminya pun lebih khawatir, apakah Neta bisa sekolah dengan baik. 

Dari pengalaman di TKA kemarin, Mami pun jadi banyak belajar. Bukan hanya anak saja yang belajar. Dulu Mami terlalu fokus kepada ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang ada di sekolah. Sekarang sudah menyadari, fokus yang terbaik adalah untuk pendidikan Neta. Hal lainnya hanyalah pendukung. Kedewasaan seorang ibu juga diperlukan dalam berhubungan dengan pihak lain seperti sekolah maupun ibu-ibu lainnya. Yang terpenting sekarang adalah perkembangan Neta, ingin sekali membuat portofolio pembelajaran Neta di sekolah. Dengan demikian diperlukan komunikasi yang lebih baik lagi dengan Bunda Gurunya dan pencatatan.

Pencatatan yang bisa Mami lakukan baru sekedar di Google Spreadsheet saja seperti yang ada di tautan berikut: 

Lalu teringat status Facebook Mba Farda beberapa saat yang lalu. Beliau menuliskan tugas bunsay level 12-nya dengan aplikasi yang dibuat oleh Mba Farda dan Semanggi Family sendiri. Masya Allah.. Filio namanya. Saya pun mencoba mengunduhnya di sini. Berikut tampilan untuk menambahkan portofolio anak:



Ada tanggal, judul kegiatan, tempat kegiatan, nama anak, deskripsi kegiatan, tujuan kegiatan, fitrah, aspek perkembangan, fasilitator, ekspresi anak, hikmah kegiatan, tindak lanjut, dan doa. Untuk fitrah ada pilihan fitrah iman, bakat, berpikir dan nalar, seksualitas, perkembangan pre aqil baligh, serta perkembangan post aqil baligh. Untuk aspek perkembangan ada pilihan kognitif, emosi, sosial, motorik, dan kemandirian. Ekspresi anak ada emoticon senang, sedih, marah, takut, dan jijik. Kreatif sekali! :)

Semoga dapat dengan konsisten Mami pakai untuk mencatat portofolio Neta dan Nara, baik untuk kegiatan di rumah maupun di sekolah. Terima kasih Mba Farda dan Semanggi Family! :D

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Saturday, July 14, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 9)

Rekomendasi berikutnya dari Mba DK Wardhani: http://homelearningme.blogspot.com/. Dibuat oleh Mba Echa Maharani, seorang ibu homeschooler. Tampilan blog-nya sederhana, diawali dengan sebuah tanda tanya lalu ada tagline: life is about questioning.

Scroll ke bawah, seperti biasa ada post terbaru, kemudian terpopuler, dan pembagian berdasarkan label/kategori. Kita coba ulik yang mana ya..

Label homeschooling. Masya Allah.. Perjalanan seorang ibu menjadi homeschooler nyata adanya. Bahwa semua itu adalah proses.. Jadi malu sendiri. Sudah sampai mana saya sebagai ibu berusaha mendidik anak. Hiks.. Seperti website-website sebelumnya, tidak cukup 1 hari untuk mengulik.

Diputuskan beralih ke buku Anti Mati Gaya. Penasaran karena termasuk ke tulisan terpopuler. Dan mau intip, siapa tahu ada tautan unduh gratis. Eh ternyata benar hehe.. Cerita awal buku Anti Mati Gaya ini masya Allah.. Ditulis dengan tangan, di atas meja setrika, karena printer rusak. Somehow koq relate ya dengan saya? Hihihi.. Meskipun demikian, buku Anti Mati Gaya ini sukses menjadi sesuatu yang viral lho. Yuk ah cus unduh di sini.  

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Friday, July 13, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 8)

Rekomendasi selanjutnya dari Mba DK Wardhani: ummujita.com. Sebuah blogpost tentang homeschooling keluarga muslim Indonesia yang ditulis oleh Mba Maya, Ibunda dari Jita, Aisyah, dan Bassam. Tampilannya seperti blog saya karena sama-sama blogpost, ada label belajar, belajar sains, gratis unduh, homeschooling, pengasuhan, dan resep kesukaan. Ada juga tautan menuju website lain sebagai referensi.

Coba ulik label yang gratis unduh dulu yaa.. hehe.. Waa.. Cukup lengkap. Ada belajar bahasa Arab, hadits, matematika, sains, calis, kemudian yang bagus sekali: catatan mengenai homeschooling dan kurikulum pra-sekolah dan TK. Masya Allah.. Ini sih tidak bisa selesai mengulik hanya dalam waktu sehari. :)

Akhirnya saya mengunduh kurikulum pra-sekolah dan TK. Ada tujuh tema, yaitu Aku, Lingkunganku, Kebutuhanku, Binatang dan Tumbuhan, Rekreasi, Pekerjaan, Air, Udara, dan Api, Serta Alat Komunikasi, Tanah Airku, dan Alam Semesta. Barakallah Mba Maya.. Terima kasih sudah menuliskan dan membagikannya secara gratis. :)

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia


Thursday, July 12, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 7)

Website berikutnya dari Mba DK Wardhani: https://issuu.com/dinidiankusumawardhani. Berisi buku-buku belajar bahasa Arab sederhana, tentunya ditambah dengan ilustrasi yang ciamik dari putri Mba Dini: Keni, beserta teman-temannya. Waaah.. Mba Dini memang terkenal kreatif dan produktif sekali dalam bidang pendidikan anak-anak karena putra-putrinya melakukan homeschooling

Ada cerita tentang serangga, bumi, semut, sekolah, warna, pasukan gajah, dan langit. Tertarik mengunduh cerita tentang sekolah yang ilustrasinya anak perempuan. Ternyata tidak bisa diunduh ya hehe.. 

Ooo.. Ternyata web issuu.com ini adalah untuk para penulis yang mau menerbitkan bukunya. Istilahnya publisher. Jadi mungkin memang buku-buku yang di-upload di sini tidak bisa diunduh, hanya untuk dinikmati/dibaca secara online. Yowess.. Ga apa-apa, coba nanti dicari aplikasinya, supaya bisa sambil baca di HP. :)

Oke deh! Sampai besok! :D

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Wednesday, July 11, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 6)

Web keempat rekomendasi Mba DK Wardhani: bukansekadarcalis.wordpress.com. Wow.. free printable lagiii. Bukan sekedar baca tulis, tetapi juga menumbuhkan bibit keimanan dalam bingkai Al-Quran. Dapat terlihat dari printable-nya yang sangat menarik: 35 Kartu Berkisah. Ini tautan artikelnya: https://bukansekadarcalis.wordpress.com/2016/05/29/kartu-berkisah/. Langsung unduh ahhh! :D 

Kartunya bergambar, disesuaikan dengan kisah ayat dalam Al-Quran, plus ada printable board-nya juga. Masya Allah.. Kalau yang senang dan bisa membuat printable seperti ini insya Allah menjadi amal jariyah ya, pahalanya terus mengalir. Semoga bisa mengikuti jejak para pembuat free printable islami ini. Aamiin.. 

Ada juga panduan aktivitas dan lembar gambar kartu berkisah, di artikel lainnya. Tab website-nya sendiri ada home, landasan (mesin pencari), syarat dan ketentuan unduh, serta tentang penulis. Untuk kategorinya ada Kisah dalam Al-Quran, Mengenal Huruf, Menulis, dan Printables atau DIY. Yuk lihat-lihat website-nya!

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia

Tuesday, July 10, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 5)

Lanjut situs ketiga rekomendasi Mba DK Wardhani, yaitu serusetiapsaat.com. Waaah yang ini memuat tentang buku-buku cerita berilustrasi gratis! Masya Allah, selalu amaze juga dengan yang pandai menulis dan/atau bisa ilustrasi. Plus membagikan hasil karyanya secara cuma-cuma.

Coba kita ceka-ceki ada apa saja di web ini..

Di home ada tampilan e-book terlaris dan terbaru, ada juga berita terbaru. Kemudian di tab selanjutnya ada profil. Diketahui penulisnya adalah Mba Gita, bersama dengan putrinya bernama Cha. Lalu ada tab e-book, berisi pilihan Belajar Membaca, Cerita Berima, Cerita Tanpa Teks, dan Fabel. Tetapi pilihan Belajar Membaca dan Fabel masih kosong. Tertarik dengan Cerita Tanpa Teks, koq bisa yah? Apa isinya hanya gambar? Mari kita intip.

Ada empat cerita tanpa teks, saya unduh tiga buah: Pemburu Layang-Layang, Antrean Para Kucing, dan Kota Bahagia. Ternyata Mba Gita memang sengaja membuat cerita tanpa teks agar yang membaca berimajinasi dan membuat sendiri ceritanya. Bagus ya idenya! Dan ternyata Mba Gita tidak sendirian dalam mebuat buku-buku ini. Ada ilustrator dan penulis lainnya juga. Sebuah kolaborasi yang apik. Daaan.. buku cerita pun kini bisa lebih interaktif ya. Misal buku Antrean Antrean Para Kucing ada aplikasinya juga, dimana kita bisa merekam cerita yang kita buat sendiri. Kereeen!

Inspiratif sekaliii para pembuat situs pendidikan iniii.. Baru buka tiga situs tapi sudah merasa kemana saja saya? Kenapa hanya buka situs yang itu-itu saja? Love banget games bunsay level kali ini! Benar-benar membuka wawasan dan cakrawala. ;)

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia 

Monday, July 9, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 4)

Hari ini melanjutkan list website pendidikan anak dari Mba DK Wardhani. Website yang kedua: muslimkecil.com. Masya Allah, ini membuat saya lebih amaze lagi. Sebuah situs pendidikan anak muslim, utamanya memuat kisah-kisah bergambar dari Al-Quran dan Hadits. Lengkap juga dengan kategori lainnya seperti akhlak, doa-doa, fiqh, tauhid, dan masih banyak lagi. Belum meluncur ke semua kategori. Insya Allah akan mengulik lagi ke depannya.

Ada satu post terbaru yang menarik, yaitu "Asyiknya Sekolah" dimana ada adab berangkat sekolah beserta doa keluar rumah dan naik kendaraan, dan ada papercraft-nya juga. Insya Allah tanggal 16 Juli, Senin depan, Neta akan mulai sekolah lagi. Cocok sekali dengan artikel ini. Yuk intip papercraft dan panduan adabnya di sini.

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia 

Sunday, July 8, 2018

Game Level 12: Keluarga Multimedia (Day 3)

Fyuuuh.. Hari ini jadwal padat (hehe.. sok sibuk). Pagi acara playdate Ninena di HokBen, siangnya lanjut halal bihalal itbmh_jaktangsel sampe soreee. Jam setengah 6 baru pulang. Walhasil sampai rumah mandi, mandiin anak-anak, makan bersama, daaan teringat akan tugas RBI dan Bunsay. 

Tugas RBI cincai lah yaa.. karena playdate Ninena adalah project RBI. Tinggal tulis laporan sedikit, tambah foto, setor deh! Kalau bunsay? Belum ngapa-ngapain nih..

Kemarin aplikasi resep dan to do list untuk Maminya sudah, koq untuk pendidikan anak belum ya? Padahal kan ini bunsay. Bunsay untuk pendidikan anak kan yah

Alhamdulillah teringat teteh saya pernah share status Mba DK Wardhani tentang situs-situs pendidikan anak. Langsung saya cari dan reshare. Situs pertama: cerivitas.com.

Wow.. Selalu merasa amaze dengan ibu-ibu homeschooler yang punya website ciamik, pandai membuat printable ataupun worksheet, dapat menulis dengan baik dan rutin, serta melek IT. Kapan ya saya bisa begitu? Teringat NHW#9 saya waktu matrikulasi, kepingin punya website berbagi printable gratis untuk pendidikan anak malah belum kesampean. Harus dibuat project seperti RBI mungkin ya supaya jalan. 

Kembali ke cerivitas.com. Ternyata website ini berisi pembelajaran matematika untuk SD. Wah belum cocok untuk Neta (5 tahun, TKB) dan Nara (2 tahun) ya. Tapi menarik deh! Matematika bisa dipelajari dengan menyenangkan lewat cerita, permainan, dan tantangan. Mau coba download satu ah untuk Neta yang Grade 1, siapa tahu Neta sudah bisa mengikuti. :)

Worksheet yang diunduh berjudul Papies: Permainan Matematika Mencari Selisih dan Penjumlahan. Tautan unduh sebagai berikut:
http://cerivitas.com/web/product/papies-permainan-matematika-mencari-selisih-dan-penjumlahan/
Jangan lupa untuk mengikuti cara download yang ada di sini.

Bisa untuk bermain sambil belajar esok hari nih worksheet-nya! 

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia 

Sunday, May 27, 2018

Game Level 11: Learning by Teaching Fitrah Seksualitas (Day 10)

Hari kesepuluh yang melakukan presentasi adalah Kelompok 10, terdiri dari Mba Erna Leri, Mba Fasta Biqil Khairani Tasran, Mba Rizky Ajeng Andriani, dan saya sendiri, Nika Yunitri. Kami berempat sudah sempat membuat materi presentasi bersama-sama secara offline. Sayangnya, HP Mba Ajeng rusak sehingga tidak dapat hadir saat presentasi di grup. Presentasinya sendiri dilakukan kemarin hari Sabtu, 26 Mei 2018, pukul 05.00. 

Berikut presentasi Kelompok 10 dengan tema:
Percaya Diri Mendidik Seksualitas Anak di Era Digital

Materi:

Sesi tanya jawab:

1. Yani Indriati

Mba, bagaimana ya menjelaskan tentang seksualitas kepada anak sesuai usia, karena kan selama ini dianggap tabu ya... adakah referensi yang bisa digunakan?

Jawab: (Nika)

Sebelum menjawab, izin menyamakan pengertian seksualitas ya.

Seksualitas bukanlah tentang seks, melainkan dapat berupa pengenalan gender, pemahaman pubertas.

Pengenalan gender dapat dilakukan sejak usia dini seperti: Adik perempuan seperti Ibu, kalau pipis di toilet perempuan ya.

Pemahaman pubertas misal kita bisa masuk ketika anak-anak bertanya.
"Ma, kenapa di ketiak Mama ada rambutnya?"
"Ini salah satu tanda perubahan dari anak-anak menjadi dewasa, Dek. Nanti Adek juga akan tumbuh rambut di ketiak jika umurnya sudah menuju dewasa."

Tambahan: (Mba Fasta)

Tambahan contoh percakapan orangtua-anak:

"Dulu waktu Ayah kecil, Ayah penasaran tentang ... . Waktu itu Ayah tidak bisa bertanya ke siapa-siapa soal ini, malu. Ayah baru tahu pas sudah SMA. Sekarang kalau kamu merasa penasaran soal sesuatu, tanya saja sama Ayah. Ayah janji tidak akan marah sama pertanyaan-pertanyaan kamu.

Tanggapan: (Mba Yani)

Misal ke usia lebih lanjut, bertanya tentang mimpi basah, tentang perasaan ke seseorang, tentang bagaimana proses reproduksi sehingga ada anak.

Usia baligh ini yang kepikiran banget jadi PR, adakah referensi yang bisa di-share dalam menjawab tantangan-tantangan yang sering dianggap tabu itu?

Jawab: (Nika)

Jika anak bertanya, kita tenang dulu, kendalikan diri, tarik nafas, dan cek pemahaman anak.

Lalu kita bisa menjawab dengan jawaban terbaik saat itu, tanpa dilebihkan atau dikurangi. Kemudian jika anak masih ingin tahu, baru kita memperbolehkan bertanya lagi. 

Referensinya ada di salah satu sumber bacaan kami:

Tambahan: (Mba Erna)

Ini untuk proses menstruasi yaa..

2. Yunita Daniati

Bagaimana cara menjauhkan anak-anak dari pornografi ketika sedang memegang gadget terkait fitrahnya? Terkadang anak melihat gadget temannya yang tidak diawasi orang tuanya di sekolah dan anak tanpa sadar telah menonton pornografi.

Jawab: (Mba Fasta)

1. Yang paling utama adalah menanamkan pemahaman tentang agama sedini mungkin. Dalam hal ini mengajarkan agama tidak sekedar anak menjadi bisa, misal bisa baca/hafal Al-Quran, orang tua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu. 

2. Menguatkan bonding antara orang tua dan anak seperti yang pernah di bahas di presentasi-presentasi sebelumnya. Menjalin dan menjaga bonding dengan anak ini sangatlah urgent karena dengan ikatan yang kuat anak akan bisa lebih 'mendengarkan' orang tua.

3. Dengan nilai agama yang baik dan bonding dengan orang tua yang baik pula diharapkan anak sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk.

4. Kehidupan anak di luar ketika jauh dari orgtua bukanlah 'kuasa' kita untuk mencegahnya. Selain tentunya berdo'a ke Allah agar anak-anak kita dijauhkan dari hal-hal buruk dan menjerumuskan, ikhtiar kita membangun value ke anak semoga dapat membuatnya lebih bijak dalam mengambil apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk.

3. Mahargyani Yogyantari

Bagaimana jika anak sudah terlanjur terpapar pornografi?

Jawab: (Nika)

Berikan pemahaman bahwa yang sudah ia lihat tersebut bukanlah hal yang baik. Misal:
"Ma, tadi aku lihat video orangnya tidak pakai baju."
"Wah, Adek lihat dimana?"
"Di HP temen waktu istirahat sekolah tadi."
"Apa yang sedang orang di video tersebut lakukan, Dek? Kok tidak pakai baju."
"Iya, tadi Adek lihat yang laki-laki buka pakaiannya di depan perempuan."

Duh, naudzubillah min dzalik (sambil elus dada) 😭

Tenang dulu Bun, tenang. Lalu kita jawab:
"Wah, tidak boleh itu Dek, kita lihat video seperti itu. Adek saja kalau buka baju menyembunyikan diri kan ya dari orang lain. Lain kali tidak boleh lagi lihat video sepert itu. Kalau diajak teman, jangan mau lagi. Adek main sama teman lain yang baik saja. Atau lapor Bu Guru."

Kita juga bisa komunikasikan dengan gurunya di sekolah.

Tambahan: (Mba Fasta)

Menurut kami yang perlu dilakukan awalnya adalah tetap tenang, kemudian ajak diskusi hangat, minta anak menceritakan pengalaman dan pendapatnya dan kita dengarkan seutuhnya, dengarkan dan dengarkan, kemudian bisa ingatkan dengan 'value' agama dan 'value' keluarga, jelaskan konsekuensi dari paparan pornografi dan 'value' yang tidak terjaga, untuk kasus paparan pornografi yang sudah berat jangan ragu untuk berkonsultasi ke ahlinya (psikolog dan tenaga ahli lainnya).

4. Marisa Andi Bumbung

Era digital ini mempunyai 2 sisi. Baik dan buruk. Sehingga saya sebagai orang tua terkadang merasa parno. Apakah mengizinkan anak mengakses internet  atau memberi batasan (misal saat ini anak boleh mengakses internet, hari sabtu dan minggu. Maksimal 1 jam). Padahal teman sebayanya sudah diberikan fasilitas internet tanpa batas. 

Saya ingin bisa disiplin, namun dengan kasih sayang kepada anak. Memberi batasan yang tegas, tanpa terkesan kaku dan galak kepada anak.

Kiatnya bagaimana ya?

Jawab: (Mba Fasta)

Betul Mba, ada 2 sisi mata pisau ya dan kita orang tua harus aware.

Kebijakan Mba Marisa membatasi penggunaan gadget kami rasa sudah merupakan bentuk 'sayang' ke anak, kembali lagi ke 'value' yang ada di keluarga Mba Marisa. 😊

Mungkin keluarga lain memiliki 'value' yang berbeda, dan bisa jadi berpotensi mempengaruhi 'value' anak kita ketika berada di lingkungan teman-temannya.

Mungkin yang bisa jadi pertimbangan adalah seperti jawaban poin 2 di atas mba sebagai bentuk ikhtiar kita membangun imun anak mengambil hal baik dan meninggalkan yang buruk. Karena suatu saat memang mereka akan memiliki kehidupannya sendiri, berjuang sendiri di luar sana tanpa ada kita orang tua di dekatnya. 

Tambahan: (Mba Erna)

Sedikit tambahan.

Mengenalkan batasan kepada anak sangat penting agar anak dapat mengetahui hal yang boleh dan tidak, tentunya harus disertai dengan penjelasan.

Misal:
Gadget hanya boleh 1 jam saja agar kesehatan mata terjaga lalu anak bisa dialihkan untuk kegiatan lain.

Dan yang terpenting setelah diberikan penjelasan, batasan tersebut disepakati semua pihak.

Kita juga sebagai orang tua harus konsisten. Tegas bukan berarti tega/tidak sayang.

5. Wenti Indrianita

Terima kasih materinya. Mau tanya ya. Menurut kelompok 10, kepercayaan yang seperti apakah yang bisa diberikan kepada anak dalam menghadapi era digital?  Terutama jika kelak anak sudah aqil baligh, masuk usia remaja dan mengenal sosial media atau whatsapp misalnya. Apakah meminta password sosial media anak atau mengecek hp-nya diam-diam adalah sesuatu yang baik? 

Bagaimana mengarahkan anak agar menggunakan sosial media dengan bijak? Karena sekarang saja banyak sekali trend tak penting yang dilakukan remaja di media sosial. Dan anak bisa terlanjur ikut ikutan sekalipun buat iseng.

Jawab: (Nika)

Memberikan kepercayaan tentunya setelah kita menanamkan value yang baik dalam keluarga ya Mba. Boleh keluar rumah (tidak diam di rumah saja), bergaul dengan berbagai macam orang, sampai rumah apabila anak bercerita kita dengarkan terlebih dahulu (tidak men-judge). Memperbolehkan punya gadget/media sosial sesuai usia. Misal FB min 13 tahun. Izin meminta password bila diperbolehkan atau saling berteman, jadi kita tahu apa yang di-post anak. Kalau diam-diam sebaiknya jangan. Hargai privasi anak. Kalau mau mengecek buka password yang sudah diberikan, bilang dulu.

Bagaimana mengarahkan supaya bersosial media yang baik?
1. Jadilah teladan, orang tua juga harus bijak terlebih dahulu dalam pemakaiannya.
2. Beritahu apa sebaiknya yang boleh dan tidak boleh di-post. Misal yang tidak boleh di-post: no telpon, alamat lengkap, dsb.
3. Tetap memantau. Jika ada post yang tidak baik, bertanya dulu maksud post-nya, dan berikan pengertian post tersebut tidak baik.

6. Yopi Tessa Agustina

Bagaimana kalau anak di rumah sudah dibatasi dalam gadget. 
Tapi ternyata di luar, suka ke warnet, main game, karena teman-temannya seperti itu. Sudah beberapa kali diberikan pengertian, malah sembunyi-sembunyi. Bagaimana menyikapinya? Anak usia 11 tahun.

Jawab: (Nika)

- Diberikan alternatif kegiatan positif yang lain. Bisa mengaji, olahraga, musik, seni, dll.
- Dikuatkan family time-nya. Atau misal kegiatan dengan salah satu orang tua: nge-game sama Ayah tapi game yg bermanfaat, didampingi saat main game.

Kesimpulan:

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, terutama tentang seksualitas dan di era digital ini anak-anak dapat dengan mudahnya mencari informasi, sehingga rentan mendapatkan informasi yang salah atau yang tidak sesuai dengan tingkat pemahaman dan umurnya. Sedangkan orangtuanya masih tabu dan kelu untuk membicarakan seksualitas.

Memang, bicara seputar seksualitas dengan anak adalah momen yang sangat canggung tetapi pengetahuan seksualitas yang mumpuni dan keluar dari tabu adalah modal awal orang tua untuk menjelaskan tentang seksualitas.

Pastikan bahwa kita orang tuanya adalah sumber pertama dan utama yang siap menjawab dengan pengetahuan yang benar dan terpercaya anak dalam memahami seksualitas.


Studi kasus dari Teh Chika:

Saya mau ikut tanya/minta saran aja ya.. 🙏🏻

Sejak bunsay #1, saya meminta saran atas kasus ini,

Anak didik di TBM yang saya fasilitasi usianya 12 tahun, perempuan.

Ia sangat tomboi, bukan hanya dalam sikap atau sifat, tapi secara jasmani ia belum ada tanda-tanda pubertas. 

Suaranya bahkan semakin lama semakin berat, seperti laki-laki.

Saat ada sesi curhat, saya sering mengecek perkembangan pubertas anak-anak, dan anak tersebut dengan tegas menolak:

"Aku tidak mau menstruasi, aku juga tidak mau seperti perempuan."

Tapi dia masih suka ke masjid pakai mukena, tapi setelah shalat langsung bergabung dengan anak laki-laki. 

Apa yang bisa saya lakukan sebagai "orang lain" dan topik apa yg bisa didiskusikan, namun tidak menyinggungnya.

Hasil diskusi studi kasus:

Pengalaman menjadi tomboi-nya sedikit melegakan dan membuat harapan dan semangat saya muncul kembali..

📌 accepting
📌 perdalam ikatan emosional
📌 menjadi sahabatnya
📌 menghadirkan sosok yang keren versi dia? 😅 Biar termotivasi begitu.. Karena kami punya rekan fasilitator laki-laki yang jadi idola, tapi cuma hadir beberapa bulan sekali. Dan anak-anak memang maunya nempel saja kalau yang keren ini hadir.

Kesimpulan dari saya:

Pendidikan seksualitas bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan kepada anak-anak. Malah orang tua harus siap membekali anak-anak dengan pendidikan ini untuk kebaikan masa depan mereka. Jadilah teman bagi anak-anak, siapkan masa pubertas mereka. Senantiasa dampingi pula dalam setiap aktivitasnya di era digital ini. Teknologi bagaikan 2 sisi mata logam. Ada kebaikan dan keburukan di dalamnya, tetapi manusia sendirilah yang menentukan apakah teknologi menjadi kebaikan atau keburukan bagi dirinya dan keluarganya.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas  

Saturday, May 26, 2018

Game Level 11: Learning by Teaching Fitrah Seksualitas (Day 9)

Hari kesembilan yang melakukan presentasi adalah Kelompok 9, terdiri dari Mba Erlina Ayu Pratiwi, Mba Ika Peronika, dan Mba Tri Heryani. Presentasinya dilakukan kemarin hari Jumat, 25 Mei 2018, pukul 05.00. Tetapi saya baru bisa khusyuk membaca besok malamnya.

Berikut presentasi Kelompok 9 dengan tema:
Lingkungan dan Fitrah Seksualitas Anak

Materi:

Sesi tanya jawab:

1. Tresna Cahya

Anak-anak yang lebih besar umumnya lebih mudah terpengaruh oleh teman, apalagi waktu yang mereka habiskan di sekolah cukup banyak dibanding di rumah. Bagaimana cara antisipasi kemungkinan adanya pengaruh buruk dari teman-teman anak?

Jawab: (Mba Tri)


Menurut hasil rangkuman dari beberapa seminar yang saya ikuti, beberapa solusinya adalah

1. Perkuat karakter anak dengan agama dan pembiasaan adab yang baik

2. Orang tua harus mengenal teman teman sang anak agar bisa mengantisipasi pengaruh buruk yang mungkin timbul

3. Orang tua harus menjadi tempat yang nyaman bagi sang anak. Supaya anak mau terbuka

4. Pola asuh yang tepat yang diterapkan oleh keluarga.

2. Marisa Andi Bumbung

Bagaimana caranya mengedukasi kepada anak bahwa dirinya berharga? Baik untuk balita maupun anak usia 5-12 tahun.

Jawab: (Mba Tri)


1. Dengan memperlakukan dia dengan baik, tidak sembarangna menyentuhnya, minta izin kalau kita akan menyentuh bagian yang pribadi.

2. Mencontohkan dan menerapkan adab yang baik. Menutup pintu kalau di kamar mandi, tidak membuka pakaiannya di depan orang lain.

3. Ajak anak mengenali bagian tubuhnya, dan jelaskan fungsi setiap bagian dengan bahasa sederhana. Katakan, tubuhnya adalah karunia yang sangat berharga dan harus dijaga dengan baik.

4. Bangun kebiasaan positif. Misalnya, tidak berganti baju di tempat terbuka, tidak pipis di sembarang tempat, dll.

5. Tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh tertentu, seperti alat vital, dari sentuhan orang lain. Tentu saja, disertai penjelasan sederhana yang bisa ia terima dan mengerti dengan baik.

6. Biasakan anak berpakaian sesuai identitas kelaminnya sejak dini. Banyak kelalaian orang tua untuk hal ini. Mereka membuat anak perempuan menjadi tomboy, dan anak laki-laki menjadi feminin. Dalam kondisi ekstrem, anak bahkan bisa mengalami kebingungan identitas seksual.

3. Nika Yunitri

Bagaimana caranya mengantisipasi cepatnya arus informasi?

Jawab: (Mba Erlina)


1. Dengan menyaring semua konten yang bersentuhan dengan anak. Baik tontonan, aplikasi, bacaan dll. Sebisa mungkin dampingi dan bahas saat anak anak bersentuhan dengan media informasi.

2. Tanamkan dengan bahasa anak mengenai mana informasi yang baik dan tidak baik.

Tanggapan: (Teh Chika)

Yang ini jadi teringat kontrak gadget yang beberapa tahun sempat viral.

Dan mungkin ada yang bisa share, sebaiknya kapan anak dapat akses gagdet? Atau berapa lama screen time yang wajar?

Jawaban: (Mba Erlina)



4. Yunita Daniati

Bagaimana jika orang tua tidak suka dengan lingkungan bermain anak, terutama temannya anak-anak karena dikhawatirkan memberikan pengaruh buruk, akan tetapi jika kita bicarakan "kenapa bunda tidak suka kamu main sama dia, karena dia itu suka nakal atau berisik" lalu keesokannya dia malah ngomong sama temannya bunda tidak suka kalau kamu berisik jadi jangan berisik, padahal karena ada hal lain yang dikhawatirkan memberikan pengaruh. Bagaimana mengkomunikasikannya?

Jawab: (Mba Erlina)


1. Kalau bisa mendekati temannya dan merubah perilakunya akan baik sekali, tapi kalau tidak bisa, lebih baik dialihkan ke lingkungan yang lebih baik. Karena anak anak adalah masa yang krusial. Mereka harus tumbuh dengan baik di lingkungan yang baik. Sambil kita perkuat di dalamnya. perkuat imannya dan adabnya.
2. Mengkomunikasikan secara santai dengan bahasa yang dimengerti anak.
3. Memberi tahu anak kita perilaku apa saja yang kurang baik dari diri anak tersebut, tanpa menyebutkan anak tersebut sebagai subyek, jadi anak kita akan melakukan penilaian dengan sendirinya dan memutuskan sikapnya.

Kesimpulan:

Keteladanan dan kedekatan antara orang tua dan anak adalah kunci utama dalam menumbuhkan fitrah seksualitas, sebagaimana telah dijelaskan oleh Ust. Harry Santosa, bagaimana kehadiran ayah dan ibu dalam tahapan usia anak merupakan bagian dari Pendidikan fitrah seksualitas.

Di samping keteladanan dan kedekatan, tentu ada hal lain yang perlu dipersiapkan oleh ayah dan ibu agar anak anak tumbuh menjadi dewasa yang bertanggung jawab dengan fitrah seksualitasnya. Salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana memberi pengarahan kepada anak agar dapat memenuhi fitrah seksualitasnya, dan salah satu cara memberi arahan yang baik adalah dengan memberikan  pendidikan seks.

"Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia, dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya."

"Maka, perlakukanlah anakmu sebagaimana perlakuan seseorang yang mengetahui bahwa andaikan ia berbuat baik pada anaknya, niscaya ia akan mendapatkan pahala dan andaikan ia berbuat buruk niscaya ia akan memperoleh hukuman."(Al Khislal, hal.568)

Tanggapan dan kesimpulan dari saya:

Anak mau tak mau akan terpapar lingkungan dan semakin besar akan semakin sering berinteraksi dengan lingkungan. Tugas orang tualah membekalinya dengan nilai-nilai keluarga dan keimanan agar yang negatif dari lingkungan tidak terbawa oleh anak. Batasan-batasan, aturan, dan kedisiplinan juga diperlukan, tentunya dengan diskusi dan kesepakatan terlebih dahulu. Hadapi anak sebagai seorang manusian yang utuh. Yang tak kalah penting, membangun kedekatan dengan anak. Dampingi anak saat menonton tv dan bergadget.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas 

Friday, May 25, 2018

Game Level 11: Learning by Teaching Fitrah Seksualitas (Day 8)

Hari kedelapan yang melakukan presentasi adalah Kelompok 8, terdiri dari Mba Faradilla Ardasy, Mba Nareswari Putri Sulisvianthi, Mba Mahargyani Yogyantari, dan Mba Yesi Agustina. Presentasinya dilakukan kemarin hari Kamis, 24 Mei 2018, pukul 05.30. Tetapi saya baru bisa khusyuk membaca besok malamnya.

Berikut presentasi Kelompok 8 dengan tema:
Keseimbangan Peran Orang Tua dalam Pengasuhan Terkait Maraknya Kasus LGBT


Sesi tanya jawab

1. Ika Peronika

Kalau penyebabnya faktor genetik, apakah bisa diobati teman-teman?

Jawab: (Mba Yesi)

Di beberapa riset, ada  intervensi terapi hormon di saat anak usia tertentu. Ada juga yang operasi modifikasi kelamin kalau ternyata hormon dominannya bukan yang sesuai tampilan badannya. Karena ada kasus anak-anak yan dari kecil sudah merasa mereka LGBT.

🐾Pendidikan agama yang ajeg 

Pernah ada kasus dimana ada bawaan gay dari lahir tapi karena dia dididik agamanya baik oleh orang tuanya, dia berusaha melaawan hasrat itu (walau berat).

2. Fara Noor Aziza

Untuk case LGBT, karena faktor genetik, apa penyebabnya?
Adakah deteksi dini yang bisa dilakukan?
Apa do dan don't nya untuk ibu hamil?

Tadi baca: baru, tidak bikin stress ibu hamil saja.

Jawab: (Mba Yesi)

Sejak 50-60 tahun sudah ada berbagai riset tentang genetik mempengaruhi kemunculan homoseksualitas pada seseorang. Hanya saja hasilnya tidak bisa generalisir. 

Yang pernah diteliti adalah kelebihan atau kekurangan hormon androgen pada periode gestasi awal (hamil muda). Ada sindrom CAH (liat di slide) yang bisa dideteksi karena ada ciri-ciri tertentu yang mungkin muncul (mungkin juga tidak/tersamar).

Yang kami belum tahu adalah apakah di Indonesia, ahli fetomaternal melakukan check up sejauh itu. 

Do and Dont-nya.. Sebenarnya sudah ditulis di solusi. 

Yang utama adalah menyediakan lingkungan minim stres selama promil. Memang kadang tidak ideal untuk sebagian orang, tapi minimal kehamilan tersebut adalah sesuatu yang memang diharapkan, bukan yang unplanned dan unwanted.

3. Irma Rachmawati

Berhubung anakku perempuan dan laki-laki. Bagaimana cara mengantisipasi agar adik tidak kecenderungan bermain mainan kakaknya yang perempuan dan sebaliknya. Soalnya biasanya si adik ikut-ikutan si kakak mainnya.
Minta tips-tipsnya ya.. Kalau ada rekomendasi mainan atau tontonannya juga boleh.

Jawab: (Mba Yesi)

Pisahkan mainan pribadi dan mainan bersama.

Misal mainan pribadi anak perempuan: barbie/boneka

Misal mainan pribadi anak laki-laki: thomas n friends

Untuk mainan bersama:
Beli mainan yang warnanya netral, sekarang banyak juga mainan masak-masakan/sapu-sapuan/kasir-kasiran yang netral warnanya.

Video: 


4. Nilla Dwi Respati Yamni

Bagaimana cara menghindari LBGT pada anak-anak saat berinteraksi dengan teman sebayanya?

Jawab: (Mba Yesi)


Dari awal sudah diinfokan jenis kelamin apa si anak, dan jenis kelamin apa si temannya. 

Dikasih tahu apa itu aurat dan batas-batasan apa yang boleh dilakukan kalau main sama yang beda jenis kelamin (contoh: tidak boleh bersentuhan berlebihan, tidak boleh memperlihatkan aurat kepada siapapun).

5. Firsty Nurtiasih

Misalkan contoh kasus anak yang sudah terkena sexual abuse, kasusnya dilecehkan sama orang dekat, tapi dia simpan dan seolah baik-baik saja, sampai saatnya anak itu dewasa dan berkeluarga apakah berdampak sama kehidupan berumahtangganya?

Jawab: (Mba Yesi)


🐾Sexual abuse itu biasanya tertanam dalam..

Tidak ada istilah baik-baik saja kalau terkena pelecehan seksual. Mereka biasanya tidak membicarakannya karena takut distigma negatif padahal mereka yang jadi korban.

🐾Tergantung dari pribadinya. Trauma itu pasti karena pelecehan itu menyakitkan lahir batin. 

Inilah pentingnya bonding antara ortu dan anak agar anak terbuka sama ortu. Di saat anak ada perbedaan perilaku si orang tua bisa melakukan pendekatan dan probing.

🐾Bisa ya, bisa tidak. Beberapa teman saya mendapatkan pelecehan seksual di masa kecilnya, bahkan ada yang dilakukan oleh oknum dokter gigi yang tiap bulan harus dia kunjungi, tapi Mamanya tidak menunggu di dalam. Di saat ia menikah, ia sudah bisa memaafkan semua masa lalunya, tanpa orang tuanya tahu. Tapi memang si anak punya konsep diri yang sangat positif sejak kecil, self esteem-nya kuat.

6. Yopi Tessa


Berhubung anakku laki-laki 4 tahun suka liat bundanya dandan. Seringkali pengen minta lipstik, bedak, parfum dll. Pernah lipstik bunda dipakai, sembunyi-sembunyi atau pakai bedak di pojokan.
Itu bagaimana menyikapinya.. khawatir juga..

Jawab: (Mba Yesi)

Anak laki-laki usia 4 tahun biasanya mencontoh perilaku ibunya. Kita amati saja apakah pure hanya bermain, atau jadi kebiasaan yang tidak wajar. 

Diingatkan kembali apa kelaminnya, apa yang boleh dilakukan anak laki-laki dan yang tidak boleh. Lalu diberikan contoh.

Misal: "Anak laki-laki tidak boleh pake make up, lihat deh Ayah, Paman, Om, Kakek tidak pakai lipstik. Kamu laki-laki seperti Ayah, Paman, Om, Kakek, jadi tidak pake lipstik ya.."

Bisa juga kasih visualisasi wanita-wanita yang pake make up dan laki-laki yang tidak pake make up.

Bila Ayah di rumah, ayah dapat mendampingi lebih banyak di waktu 18-21 atau weekend. Supaya seimbang role model laki-laki dan perempuannya.

7. Tia Martiana Navratilova

Anak saya laki-laki 7 tahun,  saat ini dia belum pernah bertanya. Tapi apabila dia melihat banci,  khawatir dia bertanya itu laki-laki atau perempuan, bagaimana saya menjawabnya ? 🤔 Harus sesuai fakta atau sesuai penampilan dan tingkah laku?

Jawab: (Mba Yesi)

Diinfokan apa itu banci dan jelaskan kalau perilaku begitu tidak lazim di masyarakat. Bagaimanapun anak harus tahu yang mana salah dan benar dan menganalisanya, insya Allah akan terbangun filternya di anak. Karena kita tidak bisa mensterilkan anak hanya melihat yang baik-baik saja.

Gaya bahasa disesuaikan dengan usia ya..

Walaupun ada orang laki-laki yang berpakaian seperti perempuan karena profesi (cross dresser, tapi secara alami dia tidak gay).

8. Yunita Daniati

Jika anak laki2 dicap cengeng oleh lingkungan, dan bahwa yang boleh mennagis hanya wanita dan laki-laki tidak boleh menangis, bagaimana memberi tahu lingkungannya dan anaknya sendiri agar tidak merasa seperti wanita?

Jawab: (Mba Yesi)

Tanamkan ke anak menangis itu boleh asal tidak berlebihan. Siapapun (laki dan perempuan) boleh mengekspresikan perasaannya termasuk lewat menangis.

Karena menangis juga merupakan metode penyaluran (katarsis) emosi. Malah sebaiknya kita mengajarkan anak gradasi emosi supaya anak mampu mengenali dirinya sendiri (ini kecerdasan emosional lho).

Sedikit tambahan: di Jepang ada buku parenting berjudul "Nakeru Ko o Sodateyo". Artinya: Mari kita besarkan anak mampu menangis. 

Karena jiwa yang lembut menghasilkan hati yang lembut dan pribadi yang ramah. 

Kalau saya pribadi, saya selalu tarik anak di saat dia akan menangis di publik, biarlah dia menangis sepuasnya di saya. Karena orang lain suka tidak peduli soal tangisan anak laki-laki.

Kesimpulan 

Setiap manusia memiliki fitrah seksualitas dalam dirinya, laki-laki dan perempuan. Namun seiring berjalannya kehidupan, ada tantangan dan halangan seorang anak dalam menjaga fitrahnya seperti pergaulan yang bebas, parenting yang salah, media sosial dan sebagainya hingga berujung pada LGBT. Namun kita tidak boleh menutup mata ada LGBT yang cacat sejak lahir karena hormon dan genetik.

Alih-alih menumbuhkam fitrah seksualitas anak, orang tua malah membesarkan anaknya dengan stereotypengender. Padahal hal tersebut justru mengkerdilkan anak dan berefek buruk secara jangka panjang.

Tugas kitalah sebagai madrasah pertama bagi anak untuk menjaga fitrah anak pada usia pengasuhannya, bahkan sejak dalam kandungan. 

Agar kelak ketika kita harus melepas mereka pasa saat aqil baligh mereka sudah terbekali dengan fitrah yang ajeg sehingga akan lebih kuat menghadapi tantangan hidup.

Tanggapan dan kesimpulan dari saya

Memang isu LGBT ini mengkhawatirkan.. Semoga saya dan suami dapat membekali diri anak-anak dengan iman agama yang kuat dan Allah senantiasa melindungi Neta dan Nara, aamiin..

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#LearningByTeaching
#FitrahSeksualitas