Showing posts with label Kontributor Artikel. Show all posts
Showing posts with label Kontributor Artikel. Show all posts

Friday, April 12, 2019

Resep Bebikinan Brownies Ala Kejar Boga

Kelas belajar boga Ibu Profesional TANGSEL memfasilitasi para anggota yang ingin mengembangkan minat dan hobinya dalam memasak (cooking) maupun membuat kue (baking). Di bulan Februari yang lalu, diadakan kelas bebikinan brownies. Apa saja sih bahan-bahan yang perlu dipersiapkan dan bagaimana cara membuatnya? Yuk simak resepnya di bawah ini.

Resep brownies

Bahan-bahan:
1. Tepung terigu 85 gram
2. Coklat batangan 150 gram
3. Coklat bubuk 35 gram
4. Butter 25 gram
5. Mentega 25 gram
6. Telur 2 butir (ukuran sedang)
7. Gula 150 gram
8. Chocolate chip/almond/mixed nut/mede/keju untuk taburan (sesuai selera)

Cara membuatnya:
1. Cacah coklat batangan kemudian ditim (coklat ditaruh di mangkuk stainless steel/kaca dan mangkuk ditaruh di atas panci berisi air yang mendidih). Usahakan agar coklat tidak terkena uap air. Ini bisa disiasati dengan hanya menambahkan air sebanyak setengah panci. Matikan api setelah air mendidih.
2. Setelah coklat setengah leleh, masukkan butter dan mentega. Aduk sampai coklat leleh dan bercampur dengan butter dan mentega.
3. Di wadah yang berbeda, kocok telur dan gula dengan menggunakan whisk kurang lebih selama 5 menit atau sampai gula larut. Bisa juga menggunakan mixer dengan kecepatan 1 atau gula diblender terlebih dahulu.
4. Panaskan oven
5. Saring tepung terigu dan bubuk coklat
6. Masukkan tepung terigu dan bubuk coklat yang telah disaring ke dalam adonan gula dan telur, kemudian aduk dengan whisk
7. Tambahkan adonan lelehan coklat batangan, butter, dan mentega ke dalam adonan tepung, bubuk coklat, gula, dan telur. Aduk sampai rata
8. Tambahkan taburan ke dalam adonan, sisakan untuk topping
9. Masukkan adonan ke dalam loyang, tambahkan topping pilihan
10. Panggang dalam oven suhu 170-180 degC selama 20-30 menit

 Ini dia hasilnya

Foto bersama member kejar boga

Thursday, March 14, 2019

Menuju Ibu yang Tuntas Amanah

Setiap istri atau ibu adalah ibu rumah tangga, yang tugasnya adalah taat kepada suami, menjaga harta suami/rumah, menjaga kehormatan diri, dan bersama suami menjaga amanah, yaitu anak-anak. Selain tugas-tugas tersebut, seorang istri/ibu memiliki waktu yang biasanya digunakan untuk bekerja, berorganisasi, berdakwah, berbisnis, dan sebagainya. 

Menurut data BPS, pada tahun 2017 terdapat 38,63% wanita yang bekerja sebagai tenaga kerja formal. Angka ini menunjukkan peningkatan dari 2 tahun sebelumnya, yaitu 37,78% di tahun 2015 dan 38,16% di tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak wanita yang memutuskan untuk mengambil peran di luar rumah.

Wanita diperbolehkan keluar rumah, tapi tugas utamanya di rumah. Contoh wanita bekerja di zaman Rasulullah adalah: 
1. Siti Khadijah, seorang pebisnis terhebat di zamannya.
2. Aisyah RA, seorang edukator, pendidik umat di bidang ilmu fiqih, pengobatan, dan syair.
3. Ummu Salamah, seorang tabib dan advokat, serta pendamping Rasulullah SAW dalam peperangan Fath, Thaif, dll.

Sebenarnya apa tugas/amanah manusia yang utama? Jawabannya adalah beribadah, sesuai Al-Quran surat Adz-Zariyat ayat 56: "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku".

Menjadi wanita yang aktif tidaklah salah, asalkan tuntas amanah utama, menjadi ibu yang bahagia, dan berimbang dalam menjalani setiap peran. Jika tidak tuntas amanah, tidak bahagia, dan tidak berimbang, seorang ibu dikhawatirkan stres dan dapat berdampak melakukan kekerasan (baik kekerasan fisik maupun emosional), yang biasanya dilakukan kepada anak.

Lalu bagaimana caranya agar menjadi wanita, istri, dan ibu yang tuntas amanah?

1. Akidah kokoh: menyertakan Allah dalam setiap aktivitas keseharian. Me-refresh niat setiap harinya. Selalu berdoa, bersyukur, sabar, dan ikhlas hanya mengharapkan rida Allah SWT. Tidak mengeluh dan tidak perhitungan karena Allah-lah yang memperhitungkan amal kita setiap harinya sebagai ibu.

2. Ilmu yang mumpuni: tidak pernah berhenti belajar untuk menjadi ibu yang baik, mengetahui prioritas di rumah, dan belajar bagaimana cara mendidik anak. Berikut adalah tahapan usia mendidik anak ala Rasulullah SAW:
  • 0-6 tahun: fase pelekatan/bonding
  • 7-14 tahun: fase pendisiplinan dengan kasih sayang
  •  >15 tahun: fase kepercayaan
3. Visioner: melihat ke depan, merencanakan masa depan sesuai tujuan (misi dan visi) keluarga. Misalnya mengenai pendidikan anak, rumah, ekonomi, tabungan, wisata, dan sebagainya.

4. Solutif: pandai mengelola emosi. Mengetahui bahwa pemicu amarah adalah setan. Upayakan kondisi hati selalu dekat kepada Allah dengan cara beribadah seperti salat, puasa, zikir, tilawah. Bila marah dapat membaca taawudz, diam sejenak, mengubah posisi menjadi lebih rendah (berdiri ke duduk, duduk ke rebahan), beristighfar, berwudhu, mandi, atau salat.

5. Manajemen waktu: coret kegiatan yang tidak perlu, pahami bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas waktu kita selama di dunia. Konsep manajemen waktu:
  • Lakukan terserah asalkan kegiatan bermanfaat dan Allah rida
  • Atur prioritas (mendesak-tidak mendesak, penting-tidak penting)
  • Catat prioritas dan lakukan
  • Jadikan life style
  • Gunakan tools seperti agenda, alarm, aplikasi
6. Berimbang: alokasikan waktu untuk me time seperti olahraga atau mengerjakan yang disukai. Yang perlu digarisbawahi adalah durasi me time-nya tertakar.

Insya Allah, jika melakukan keenam hal di atas dengan sungguh-sungguh, kita dapat berproses menjadi istri dan ibu yang tuntas amanah dan bahagia. Aamiin :)

Sumber:
1. Materi presentasi & talkshow TransforMOM oleh Ummu Balqis di Wisuda Batch 6 Ibu Profesional Jakarta, 20 Januari 2019 di Kampus Bisnis Umar Usman
2. Resume Talkshow TransforMOM oleh Panitia WOKE 2019

Tuesday, October 2, 2018

5 Tips Supaya Bisa Membaca Buku Sampai Selesai

Mari kita tengok rak buku yang ada di rumah. Apakah buku-buku yang ada di sana sudah dibaca semua atau hanya teronggok setelah dibeli? Ooopsss.. Koq ya lebih banyak yang hanya menjadi pajangan ya.. Padahal waktu belinya, semangat 45 banget hihihi.. 

Kesibukan sehari-hari terkadang membuat kita lupa, tidak meluangkan waktu untuk membaca buku. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitas seorang ibu seakan-akan tiada hentinya. Hobi membaca buku pun sekedar menjadi isian atau jawaban ketika ada pertanyaan "hobinya apa?". Padahal untuk baca chat atau timeline media sosial bisa betah berlama-lama hiks.. 

Tetapi jangan khawatir, berikut ada beberapa tips yang dapat dipraktikkan supaya bisa membaca buku sampai selesai:

1. Niat

Yup, betul sekali. Awalilah dengan niat, "saya mau membaca buku ini sampai selesai". 

2. Pilih buku yang kita sukai atau yang kita butuhkan atau yang dirasa bermanfaat bagi kita

Dulu waktu sekolah, baca buku pelajaran koq tidak selesai-selesai. Berbeda dengan baca komik atau Harry Potter. Meskipun banyak dan bukunya tebal, bisa selesai dalam waktu yang singkat. Kenapa bisa begitu? Karena saya menyukainya hehehe..

Kalau sekarang, buku-buku parenting menjadi daya tarik tersendiri untuk dibaca. Sehingga lebih banyak membaca buku-buku jenis ini daripada jenis buku lainnya. Karena dirasa bermanfaat dan merasa membutuhkan ilmunya juga.

Pilih saja genre buku yang Mommies suka, insya Allah akan lebih cepat selesai membacanya.

3. Tentukan target dan waktu membaca 

Dimulai dari yang mudah dan memungkinkan terlebih dahulu. Misalnya 1 bulan ingin selesai membaca 1 buku. Lalu lihat jumlah bab dalam buku, misalnya ada 8 bab. Dalam 1 bulan terdapat 4 minggu, berarti dalam 1 minggu membaca 2 bab buku.

Kemudian dibagi lagi dalam target harian, misal hanya bisa baca saat weekend. Berarti hari Sabtu baca 1 bab dan hari Minggu baca 1 bab. Lalu alokasikan waktu untuk membaca, misalnya jam 05.00-05.30 pagi.

4. Masukkan dalam to do list dan praktikkan

Jika senang menulis di jurnal harian, tulis aktivitas membaca sebagai bagian dari hal yang harus dikerjakan pada hari itu atau bisa tuliskan reminder di HP. Jangan lupa praktikkan untuk membaca pada waktu yang telah ditentukan yaa hehehe.. Karena rencana tanpa aksi hanyalah rencana belaka (ya iya lah..). :D

5. Simpan buku yang sedang dibaca di tempat yang mudah dijangkau

Misal di meja samping tempat tidur. Sehingga bila ada waktu luang, buku pun menjadi pilihan untuk mengisi waktu. Kalu bisa, justru gadget-nya yang disimpan jauh-jauh, supaya lebih tergoda untuk membaca buku daripada bermain HP. :)

Demikianlah tips-tips supaya bisa membaca buku sampai selesai. Oya, bisa dipraktikkan juga untuk membaca Al-Quran lho! Semoga bermanfaat yaa.. :)

Sunday, August 12, 2018

Aksi untuk Bumi, Kita Bisa Mulai Melakukan 7 Hal Ini Lho Moms!

Pernah terbayang ga sih Mom, sampah yang kita hasilkan tiap hari itu sebenarnya lari kemana? Kalau saya, langsung terbayang tumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), beserta lalat-lalat dan beberapa pemulung yang sedang mengais sampah. Jadi, sampah kita itu sebenarnya musnah atau hanya berpindah tempat? Sehat kah cara kita membuang sampah? Mungkin di daerah kita bersih karena sampah diangkut ke TPA tadi. Bagaimana dengan masyarakat sekitar TPA? Lalu bila semua orang di dunia membuang sampah dengan cara yang sama (membuang ke TPA), akankah anak-anak kita nanti memiliki tempat tinggal yang layak?

Yuk kita mulai melakukan hal-hal sederhana berikut, Moms. Istilahnya think globally, act locally. Perbaikan untuk bumi bisa dilakukan dimulai dari rumah, oleh kita para ibu. Simak yuk, Moms!

1. Belanja tanpa plastik (membawa wadah dan tas belanja sendiri)

Ini adalah hal pertama yang saya praktikkan karena yang paling mudah. Dimulai dari belanja ke warung dengan membawa tas belanja sendiri. Tas belanjanya tidak beli baru koq, Moms. Saya menggunakan tas bekas yang didapat dari berkat pengajian. Jangan lupa sebelum belanja mempersiapkan apa saja yang mau dibeli atau membuat list terlebih dahulu kalau belanjanya banyak. Misal mau belanja ikan, sayuran, dan bawang merah. Berarti saya bawa satu wadah yang cukup untuk ikan, satu wadah untuk sayuran, dan jaring-jaring untuk bawang. Wadahnya juga memanfaatkan yang sudah ada di rumah. Mulai dari wadah bermerk sampai wadah bekas, misal bekas membeli homemade nugget, dan jaring-jaring juga bekas tempat bawang waktu membelinya di supermarket.

Selain belanja di warung, saat beli makan di luar, atau jajan minuman juga bawa wadah sendiri yuk. Saat pergi keluar untuk jalan-jalan juga persiapkan membawa tas jinjing berisi barang-barang berikut:
- Tas kain (kalau sewaktu-waktu belanja selain makanan dan minuman)
- Tas jaring (bisa untuk alternatif selain tas kain)
- Sapu tangan (pengganti tissue, misal untuk membersihkan hidung anak ketika pilek)
- Lap (untuk mengelap yang kotor)
- Tempat makan (kalau sewaktu-waktu beli makan/tidak direncanakan)
- Tempat minum (air putih dan botol kosong kalau sewaktu-waktu jajan minuman)
- Peralatan makan (sendok/garpu/sumpit/sedotan yang disimpan di dalam tempat bersih)
Sumber: Instagram @dkwardhani

Terlihat repot ya. Saya juga bagian bawa tas jinjing beserta isinya ini masih sering lupa. Tapi kalau belanja yang direncanakan insya Allah sudah ingat untuk membawa wadah dan tas sendiri, disesuaikan dengan barang yang mau dibeli.

2. Food preparation

Saya sendiri lebih suka membeli bahan masakan per hari dan secukupnya supaya tidak terlalu lama menyimpan di kulkas. Tetapi ada beberapa bahan yang saya simpan dengan metode food preparation, misalnya cabe dan bumbu dapur seperti jahe, lengkuas, kunyit, daun salam, dan sereh. Caranya cuci bersih cabe atau bumbu dapur, lalu masukkan ke wadah beralaskan tissue atau lap. Alhamdulillah cabe dan bumbu dapur lebih awet dan meminimalkan yang terbuang. Untuk sayuran dan lauk juga bisa lho kalau Mommies belanjanya per minggu atau sekalian banyak. :) 

3. Memilah sampah

Kalau saya memisahkan sampah menjadi empat macam, yaitu sampah organik (sisa memasak dan bahan organik lainnya), sampah yang bisa diterima bank sampah (seperti kertas bersih, berbagai jenis gelas dan botol plastik, kemasan tetrapak, kardus, dsb), sampah plastik yang tidak diterima bank sampah tetapi masih bisa diolah (kemasan mie instan, kemasan sachet misalnya bungkus kopi, kemasan refill seperti minyak goreng, deterjen, pewangi, dsb), dan sampah yang dikirim ke TPA (popok sekali pakai, tissue, selotip, stiker, dll).

Kalau sampah organik dibuat kompos. Cara membuat komposter sederhana dengan biaya 0 rupiah ada di poin 4 yaa.. Untuk sisa hewani seperti tulang ayam dan ikan, diberikan ke kucing yang banyak berseliweran di depan rumah. Oya pastikan untuk membeli bahan masakan sesuai yang akan dimasak dan makan secukupnya agar tidak terbuang. Kalau ada sisa biasanya suami saya yang habiskan makanannya hehehe..

Sampah yang diterima bank sampah dipastikan bersih dan kering (dicuci dan dijemur terlebih dahulu). Coba cek bank sampah sekitar rumah, menerima jenis sampah apa saja kah. Kalau saya mau ke bank sampah Melati Bersih, berlokasi di Perumahan Bukit Pamulang Indah. Panduan pilah sampah dan lokasi dapat dicek di www.banksampahmelatibersih.com.

Untuk sampah plastik yang tidak diterima bank sampah, saya cuci dan jemur juga. Rencananya mau dibuat ecobricks. Tapi sampai saat ini baru tahap menyimpan saja, belum membuat karena belum ada waktunya hehehe.. sok sibuk. Cara membuatnya mudah sebenarnya. Gunting kecil-kecil sisa plastik lalu masukkan ke botol plastik sampai padat. Nanti ecobricks bisa digunakan untuk membuat tembok, meja, atau kursi. Memang perlu berkolaborasi dengan orang lain ataupun dengan komunitas ecobricks supaya ecobricks dapat dimanfaatkan. 

Jenis sampah plastik yang tidak diterima bank sampah merupakan sampah terbanyak yang ada di rumah saya. Karena kami sekeluarga masih suka membeli makanan dalam kemasan misalnya mie instan, nugget dan kawan-kawannya. Anak-anak juga suka jajan, entah itu biskuit, permen, atau makanan kecil lainnya. Ga sehat banget yah.. Tapi masih susah nih untuk berhenti. Sebenarnya ada gerakan eating clean yang sejalan dengan gerakan zero waste ini, yaitu memakan makanan alami (bukan makanan dalam kemasan), tidak makan tepung gluten, tidak pakai kecap, saus, dll. Tapi ya itu, kami sekeluarga masih belum bisa menerapkannya (emoticon tutup mata).

Untuk sampah yang dibuang ke TPA masih ada nih hiks.. Kalau saya, yaitu popok sekali pakai dan tissue. Semoga ke depannya mantap untuk mulai toilet training anak kedua (doakan ya teman-teman) dan bisa mengajak keluarga terutama suami untuk berhenti membeli tissue.

4. Membuat komposter

Saya membuat komposter dengan menggunakan bahan dan peralatan yang ada di rumah. Pertama bolongi bagian bawah ember bekas cat (yang besar), lalu masukkan dedaunan kering. Campur tanah dan pupuk di tempat terpisah. Setelah bercampur, masukkan ke ember bekas cat. Baru masukkan sisa sampah organik dan tambahkan air beras. Terakhir tutup dengan dedaunan lagi dan plastik untuk meminimalkan penguapan. Sampah organik bisa ditambahkan setiap hari ke komposter ember bekas cat ini. Dua sampai tiga hari diaduk dan jaga kelembabannya dengan menambahkan air beras kalau terlalu kering, dan organik coklat seperti daun kering kalau terlalu basah. Kalau ada belatung atau cacing tambahkan sisa buah busuk. Nanti 2-3 bulan bisa panen kompos. Ambil 2/3 bagiannya saja, 1/3-nya untuk bahan komposter lagi. Jangan terkena hujan juga yaa..

Tantangannya kalau komposter tidak jalan akan berbau. Sudah mulai berbau nih komposter di rumah. Ada saran ibu-ibu? (Malah bertanya hehehe..).

5. Berkebun

Ini sebagai tindak lanjut agar kompos dapat dimanfaatkan. Tetapi saya juga belum mulai memanfaatkan komposnya karena baru mulai membuat komposter selama kurang lebih satu bulan yang lalu. Berkebun juga baru sebatas pernah menanam cabe dan daun bawang, belum lanjut ke tanaman yang lain. Tapi pernah membayangkan ga sih Moms, kita bisa menanam bahan-bahan masakan sendiri di rumah, mengambilnya untuk dimasak di dapur sendiri (tidak usah belanja sayuran dan bahan organik lainnya), plus memanfaatkan sisa bahan organik yang menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan kebun kita tersebut. Seperti siklus dan berkesinambungan ya. Masya Allah, keren banget kalau bayangan saya itu bisa tercapai di rumah sendiri..

6. Menggunakan lerak sebagai pengganti deterjen

Yang ini juga baru sebatas pernah mencoba lerak yang diberikan oleh Mba Britania Sari. Dan baru simpan nama penjualnya aja hehe.. Belum beli. Mengapa? Karena ini perlu edukasi kepada suami. Saya pernah menggunakan lerak untuk mencuci piring. Tapi untuk mencuci baju atau mengepel lantai belum pernah karena kedua hal tersebut adalah tugas Paksu. Masih belum berani atau menemukan momen tepat untuk edukasi lerak sebagai pengganti deterjen. Menjadi pengingat ketika menulis artikel ini, untuk segera bercerita dan mengajak suami memakai lerak. Doakan agar berhasil ya ibu-ibu.

7. Mengolah minyak goreng jelantah menjadi sabun atau mengirimnya ke belijelantah.com

Yang ini saya juga belum mempraktikkannya. Sudah ada beberapa workshop membuat minyak jelantah berseliweran, tetapi belum berjodoh dengan jadwalnya. Yang berminat yuk hubungi Mba Vina, ada lho workshop-nya Sabtu, 25 Agustus 2018 di rumah Mba Sari Yahya.

Selain dijadikan sabun, minyak jelantah juga bisa dikirim ke belijelantah.com. Kumpulkan minimal 10 liter minyak goreng, hubungi tim belijelantah, dan mereka akan pick up minyak jelantahnya. Minyak jelantah dihargai Rp 1.000-3.000 per liter. Minyak goreng jelantah kemudian akan di-recycle untuk dijadikan biodiesel.
Sumber: Instagram @faraziza.

Masih banyak lho Moms aksi-aksi positif lainnya untuk menyelamatkan bumi kita. Sedikit atau sekecil apapun, apabila dimulai saat ini dan konsisten menjalankannya insya Allah akan bermanfaat. Jangan lupa untuk sharing juga perjalanan aksi untuk bumi ini, agar semakin banyak yang aware dan memulai perjalanannya menyelamatkan bumi. :)

Wednesday, July 11, 2018

Mau Membuat Acara yang Melibatkan Anak-Anak? Bisa Mencoba 7 Kegiatan ini Moms!

Suka mati gaya kah Moms bila mau berkegiatan bersama anak? Ingin kumpul sama teman-teman tapi ada anak-anak yang harus diasuh? Atau sekedar hanya ingin mengumpulkan anak-anak dan beraktivitas bersama mereka? Yuk simak 7 kegiatan berikut yang bisa dicoba bila mau membuat acara yang melibatkan anak-anak:

1. Bermain
Yup, dunia anak adalah dunia bermain. Kalau ada anak-anak dan ingin mereka "anteng" ya siapkan permainan! :) Mulai dari mainan yang kecil seperti puzzle sampai mainan yang besar seperti yang ada di playground. Macam kids corner acaranya IIP gitu hehe.. Untuk mainan yang ada di playground, sekarang sudah banyak tempat menyewa koq, Moms. Tinggal search di Instagram atau googling, sudah banyak berseliweran tempat penyewaan mainan. Disesuaikan saja dengan kondisi dan budget Mommies semuanya. 

Bila jumlah anaknya banyak bisa juga mencoba bermain permainan tradisional seperti ular tangga atau bermain bola bila ada ruang/lahan yang luas. Bisa juga coba boardgame seperti ludo atau monopoli untuk anak yang sudah lebih besar. Setelah sekian lama tidak main boardgame, ternyata seru banget lho

2. Menari dan menyanyi
Yang ini tentunya anak-anak suka juga. Pasang lagu baby shark, anak-anak umumnya langsung bergoyang menirukan tariannya. Bisa juga menggunakan lagu anak-anak Indonesia yang ga kalah enaknya dong sama lagu luar negeri. Banyak pula judulnya, tinggal pilih, mau tentang balon, naik delman, pelangi, dan lainnya, tinggal search aja di Youtube. Heheheh..

3. Berkegiatan seni seperti mewarnai, menggambar, crafting/DIY
Yang ini mudah banget lho, Moms! Cari printable mewarnai, print, lalu ajak anak-anak mewarnai dengan krayon, pensil warna, spidol, ataupun alat mewarnai lainnya. Lalu biarkan mereka berkreasi sesuka hati! Bisa juga kita menggambar bersama. Mommies tidak bisa menggambar? Samaaa hehe.. Tapi jangan khawatir, sekarang banyak koq buku-buku yang mengajarkan orang tua untuk bisa menggambar bersama anaknya, misal buku Sulap Huruf Jadi Gambar karya Wafiq Sehat atau Drawing Mama dari Familia Kreativa.

Kita bisa juga membuat sesuatu bersama anak-anak, misalnya membuat mainan dari kardus, membuat papercraft, memasak/baking, dan sebagainya. Banyak sekali sekarang referensi kegiatan ini, mulai dari situs atau buku. Tinggal searching dan googling saja!

4. Dongeng atau membaca buku
Ditambah dengan alat peraga seperti boneka tangan, intonasi suara yang menarik, dan gerak pendongeng yang atraktif dapat menjadi daya tarik untuk anak-anak. Bisa menggunakan cerita yang dibuat sendiri atau yang sudah ada, atau tinggal membaca saja cerita yang ada di buku. Pasti Mommies semua sudah cukup lihai yaa membacakan buku untuk anak-anak. ;)

5. Menonton video edukasi
Banyak sekali sekarang channel-channel di Youtube yang edukatif untuk anak-anak, misalnya Make Me Genius, Paman Apiq, Whiz Kid Science, dan lain-lain. Tinggal cari sesuai kebutuhan anak-anak kita Moms dan jangan lupa tetap mendampingi saat menonton. Untuk anak visual-auditori cocok sekali media ini, mereka bisa dengan cepat menyerap apa yang dijelaskan. 

Di beberapa museum juga diputar video edukasi ketika kita berkunjung, misalnya di Museum Layang-Layang, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Di dalam video edukasi diceritakan sejarah layang-layang, penyebarannya di Indonesia dan di luar negeri, serta jenis-jenis layang dan fakta-fakta unik lainnya. Sangat menarik untuk ditonton anak-anak maupun orang dewasa. 

6. Memberikan kuis/hadiah/doorprize
Anak-anak pasti sangat senang dengan hadiah. Mommies bisa menyiapkan pertanyaan atau games sederhana atau mengocok nama siapa yang mendapatkan hadiah. Bisa juga diberikan kepada yang paling pertama datang tepat waktu atau kriteria lainnya. 

7. Makan dan minum
Setelah selesai berkegiatan, jangan lupa menyelipkan kegiatan ini, yaitu makan dan minum. Bisa membawa bekal dari rumah lebih baik. Makannya bersama-sama, insya Allah anak-anak akan belajar tentang kebersamaan dan lebih lahap makannya! :D

Yuk dicoba Moms kegiatan-kegiatan di atas. Because time spent with children is never wasted!

Referensi:

Tuesday, May 22, 2018

Bunda Mau Membuat Acara Playdate? Yuk Simak 7 Hal Penting yang Perlu Dipersiapkan!

Playdate berasal dari dua buah kata Bahasa Inggris, yaitu play yang artinya bermain dan date yang artinya perjanjian. Dapat diartikan sebuah acara dimana-mana anak-anak berjanjian untuk bermain bersama. Playdate bisa dilakukan oleh 2 orang anak atau lebih dan istilah ini pertama kali dipopulerkan di negara Amerika. Playdate bisa sesederhana mengundang teman-teman anak ke rumah atau berkegiatan di luar rumah dengan tema tertentu. Contoh kegiatan playdate misalnya membuat kerajinan tangan bersama, mendongeng, berpetualang di alam, mengenal profesi, belajar memasak, membuat kue, dan sebagainya. 

Di Indonesia sendiri, playdate akhir-akhir ini sangat marak dilakukan oleh para orang tua untuk memberikan anak-anak kesempatan bermain bersama plus menambah pengalaman melakukan beragam kegiatan. Karena tidak jarang anak-anak zaman sekarang lebih sering bermain sendiri di rumah atau orang tua bingung menentukan kegiatan positif apa yang sebaiknya dilakukan oleh anak-anak bersama teman-teman sebaya. Oleh karena itu, sekarang banyak bermunculan event organizer dan komunitas playdate di sekitar kita. 

Bunda juga bisa lho mulai membuat acara playdate sendiri. Kegiatan event organizer playdate ini bisa Bunda jadikan sebagai hobi, kegiatan sosial, bahkan untuk menambah pemasukan dompet Bunda (hehehe..). Saya sendiri menemukan hobi membuat playdate secara tidak sengaja. Hal ini bermula dari kebutuhan saya bersosialisasi dengan sesama ibu dan keinginan agar anak pertama saya memiliki teman bermain dan berkegiatan positif. Akhirnya dari niatan tersebut, "kecemplung"-lah saya di sebuah komunitas menjadi playdate arranger istilah kerennya. Padahal saya yakin, saya tidak jauh lebih tahu dari teman-teman saya. :)

Hanya bermodalkan keinginan tadi dan modal nekat juga, hampir setiap bulan sejak tahun 2017, playdate (atau terkadang momsdate dan family date) berhasil diadakan di komunitas yang saya ikuti tersebut. Alhamdulillah animo teman-teman terhadap acara-acara ini sangat tinggi dan tak jarang saya dibantu oleh teman-teman juga dalam menyelenggarakan acara. Hal ini membuat semangat saya terus ter-recharge untuk mengadakan playdate, utamanya sih supaya anak sendiri tetap memiliki berbagai pengalaman dan teman baru, serta sebagai ajang refreshing untuk saya dan keluarga.

Hasil dari belajar secara autodidak menjadi playdate arranger, berikut saya share 7 hal penting yang perlu dipersiapkan Bunda dalam membuat acara playdate:

1. Tentukan tema kegiatan

Yup, inilah hal pertama yang perlu ditentukan dalam membuat acara playdate. Kalau saya senangnya membuat acara yang memang anak saya belum pernah berkegiatan tersebut atau apabila sudah pernah melakukannya, tema kegiatan playdate yang dibuat adalah tema yang saya atau anak-anak sukai. Istilahnya inside out. Apa yang saya (dan anak-anak) suka dan inginkan, itulah acara yang akan saya buat hehehe.. Atau bisa juga menampung ide dari teman-teman komunitas jika memang Bunda berkecimpung dalam sebuah komunitas. Paling tidak, jika nanti Bunda membuat playdate, ada partisipannya. Kalau opsi yang kedua ini agak outside in sih ya. Tapi jika dalam berkomunitas, prinsip Bunda berbagi dan melayani, kenapa tidak? :)

2. Tentukan tempat dan waktu

Setelah menentukan tema, tentukanlah tempat berlangsungnya acara. Misal kegiatan mendongeng bisa di perpustakaan, di taman, atau di rumah salah satu peserta. Kemudian tentukan waktu berlangsungnya acara. Secara umum, playdate umumnya dilakukan saat weekend dimana jumlah peserta relatif lebih banyak daripada acara dilakukan saat weekday. Tapi tidak menutup kemungkinan juga untuk mengadakan saat hari biasa, karena banyak ibu yang mencari kegiatan untuk anaknya yang belum sekolah atau menjalankan homeschooling. Jika mengadakan untuk komunitas, bisa ditanyakan juga kepada teman-teman jadwal yang mereka bisa hadir, biasanya dilakukan dengan voting. Yang terpenting, jadwalnya adalah waktu ketika Bunda sebagai event organizer (EO) bisa hadir. Ya iyalah.. :D

3. Tentukan siapa-siapa saja narasumber/pengisi dan pendukung acara dan simpan nomor kontaknya

Tentukan siapa saja yang mengisi acara. Misal kegiatan mendongeng, apakah Bunda sendiri yang menjadi pendongengnya? Apakah perlu MC atau yang lainnya? List kebutuhan tersebut dan tentukan orang-orangnya. Bisa dari praktisi atau teman-teman sendiri. Jangan lupa untuk minta nomor kontaknya dan berkomunikasilah dengan baik. :)

Minta juga nomor kontak pendukung acara, misalnya Bunda menyewa tempat, pastikan senantiasa update info kepada contact person-nya. Atau misalnya Bunda mengadakan playdate di restoran, simpan nomor kontak manajer atau PIC-nya agar sewaktu-waktu Bunda dapat menghubungi mereka.

4. Buat rundown acara dan persiapkan teknis acara

Meskipun acaranya sederhana, paling tidak Bunda mengetahui dengan pasti rangkaian kegiatan dari mulai acara sampai selesai, agar dapat diketahui perlengkapan apa saja yang diperlukan dan supaya tidak ada jeda kosong dalam acara. Inilah yang disebut rundown. Jika acaranya cukup lama, rundown ini dapat dituliskan dan menjadi reminder Bunda saat acara berlangsung nanti.

Untuk teknis acara sangat perlu juga dipersiapkan, apakah memerlukan sound system, laptop, infocus, dan peralatan multimedia lainnya? Apakah perlu tikar sebagai alas? Bagaimana dengan konsumsi dan minum peserta? Dan lain sebagainya. Jika memang memungkinkan, Bunda dapat survey terlebih dahulu ke tempat berlangsungnya acara agar dapat memperhitungkan segala aspek yang diperlukan. Kelihatannya sangat ribet ya? Tidak juga koq Bunda. Jika memang Bunda tidak sempat survey, manfaatkan contact person tempat supaya Bunda bisa senantiasa bertanya.

5. Tentukan anggaran, jumlah peserta, dan HTM

Yang ini berhubungan dengan keuangan. Buat anggaran dari fee pengisi acara, sewa tempat, biaya perlengkapan, konsumsi, dan lain-lain. Kemudian tentukan jumlah pesertanya. HTM atau Harga Tiket Masuk adalah jumlah anggaran dibagi jumlah peserta. Bisa juga Bunda menentukan jumlah peserta di awal, lalu anggaran-anggaran lainnya menyesuaikan sehingga didapatkanlah HTM per peserta. Yang perlu diingat untuk jumlah peserta adalah kapasitas ruangan/tempat yang dijadikan lokasi acara.

Bagi saya, HTM di bawah Rp 50.000 sangatlah menarik (hehehe.. emak irit). HTM Rp 50.000-Rp 100.000 bisa dipertimbangkan untuk ikut. Kalau sudah di atas Rp 100.000 harus berkali-kali berpikir (hahaha..). Tapi ini dikembalikan ke Bunda masing-masing sih.. Ini hanya pendapat pribadi. :)

Tak jarang, playdate komunitas bisa tidak ber-HTM alias gratis.. tis.. tis.. (emak senang nih). Bagaimana caranya? Pengisi acara dari anggota komunitas sendiri, tempat adalah rumah anggota komunitas atau taman umum, perlengkapan dipinjamkan dari anggota komunitas, bahan dan perlengkapan untuk berkegiatan bawa masing-masing, makan dan minum potluck alias bawa masing-masing juga. Seru ya? Acaranya gratis dan berasaskan gotong-royong tetapi insya Allah membawa manfaat yang sangat banyak.

6. Siapkan administrasi pendaftaran dan publikasikan acara

Kalu saya senangnya pakai Google Form untuk pendaftaran karena lebih praktis dan jadi tidak banyak "japri"-an. Data yang terpenting diketahui adalah nama anak, usia anak, nama ibu, nomor kontak ibu, dan bukti transfer bila ada HTM. Meskipun demikian, menjadi customer service pendaftaran adalah suatu "pekerjaan" tersendiri menurut saya. Harus siap ditanya berbagai macam hal meskipun di publikasi sudah dicantumkan info-infonya dan belajar berhubungan dengan berbagai macam orang. Intinya harus sabar dan praktikkan komunikasi produktif saat menjadi bagian pendaftaran ini hehehe..

Untuk publikasi acara, siapkan e-flyer serta caption untuk disebar di grup WA maupun berbagai media sosial. Untuk memudahkan pembuatan e-flyer, bisa menggunakan aplikasi seperti Canva dll. Untuk caption-nya pastikan tertulis semua info-info yang biasanya ingin diketahui peserta seperti nama acara, waktu dan tempat acara, tautan peta, narasumber/pengisi acara, kegiatan apa saja yang dilakukan, untuk usia berapa, fasilitas apa saja yang didapatkan peserta, HTM, tautan formulir pendaftaran, kontak yang bisa dihubungi, dsb.

7. Siapkan hal menarik supaya para peserta bersemangat mengikuti acara

Poin yang ini saya pelajari dari Mba Ayu (Dwi Yunita Indah Sari) sebagai Ketua Kejar Playdate IP Tangsel tahun lalu. Mba Ayu bilang, pada dasarnya peserta akan senang dan bersemangat jika di acara ada goodie bag (misalnya mainan atau makanan kecil untuk anak-anak), hadiah atau doorprize (misalnya untuk peserta yang datang tepat waktu), dan makanan (misalnya setelah acara berkebun ada rujakan). 

Pada intinya, mengadakan playdate adalah mengapresiasi para peserta (baik anak, ibu, dan ayah) serta melayani dengan sebaik-baiknya. Meskipun repot, tetapi saya merasa sangat senang melakukannya karena tujuannya adalah untuk membahagiakan orang lain (anak-anak beserta para orang tuanya). :)

Bagaimana Bunda, tertarik untuk menjadi event organizer playdate? Semoga artikel ini bisa menjadi referensi para Bunda yaa.. :D 

Tuesday, May 8, 2018

Ini Dia Persiapan di Dapur yang Diperlukan Saat Ramadhan!

Tidak terasa bulan Ramadhan sebentar lagi ya. Para Bunda suka galau ga sih pas bulan Ramadhan tiba? Inginnya kita meningkatkan jumlah waktu untuk ibadah di bulan Ramadhan, tetapi tugas-tugas kita sebagai ibu tidak berkurang sama sekali. Misalnya tugas memasak, bagaimana cara menyiasati agar waktu memasak setiap harinya semakin singkat? Alhamdulillah bulan lalu diberikan tipsnya oleh Mba Irma, Cikgu Kejar Boga IP Tangsel. Apakah itu? Simak di bawah ini.

Membuat Bumbu Dasar Putih, Merah, dan Kuning

Yup, benar sekali. Dengan membuat bumbu dasar, memasak setiap harinya akan menjadi lebih singkat dan praktis. Berikut resep bumbu dasar yang dibagikan oleh Mba Irma:

Bumbu Dasar Putih
Bahan-bahannya:
- 1 ons bawang merah
- 1/2 ons bawang putih
- 5 kemiri (baiknya yang sudah digoreng)
- 2 sdm minyak goreng

Bumbu Dasar Merah
Bahan-bahannya:
- 1 ons bawang merah
- 1/2 ons bawang putih
- 1 ons cabai merah
- 5 kemiri (baiknya yang sudah digoreng)
- 2 sdm minyak goreng

Bumbu Dasar Kuning
Bahan-bahannya:
- 1 ons bawang merah
- 1/2 ons bawang putih
- 3-4 buah kunyit
- 5 kemiri (baiknya yang sudah digoreng)
- 2 sdm minyak goreng

Cara membuatnya, haluskan bahan-bahan di atas. Untuk penyimpanan, bumbu dasar dapat disimpan di botol kaca berpenutup. Kalau saya menggunakan botol kaca bekas bumbu spaghetti bolognese. Kemudian bumbu dasar disimpan di chiller atau bagian bawah kulkas. Mba Irma sengaja memberikan resep dengan jumlah bahan-bahan yang tidak terlalu banyak, supaya tetap fresh dan cepat habis. Paling lama penyimpanan di kulkas sekitar 10 hari.

Selanjutnya berikut saya bagikan resep masakan yang sudah saya coba dari setiap jenis bumbu dasar di atas.

Resep Tumis Tauge Tahu (Menggunakan Bumbu Dasar Putih)

Tauge adalah sayuran favorit saya. Mengapa? Eittts.. jangan su'udzon dulu hehehe.. Karena sayuran ini tidak perlu disiangi atau dipotong-potong. Tinggal dicuci bisa langsung dimasak! :D

Tumis Tauge Tahu dan Bumbu Dasar Putih

Bahan-bahan:
1. Bumbu dasar putih 2 sdm
2. Daun bawang 1 batang iris tipis
3. Cabe keriting merah 5 buah iris serong
4. Tauge 2rb
5. Tahu kuning 3 buah potong-potong dan goreng
6. Garam 1 sdt
7. Lada 1/2 sdt
8. Gula 1/2 sdt
9. Air segelas
10. Minyak goreng untuk menumis

Cara memasak:
1. Tumis bumbu dasar putih sampai harum
2. Masukkan cabai merah, aduk
3. Masukkan tauge, tahu, garam, lada, gula, dan air. Aduk sampai rata
4. Terakhir masukkan daun bawang, aduk sebentar. Jadi deh!

Resep Telur Masak Nanas (Menggunakan Bumbu Dasar Merah)

Kalau ini resepnya diambil dari buku 90 Resep Masakan Menu Praktis untuk Sebulan, penulis Laras Kinanthi, Penerbit Demedia Pustaka, tentunya dengan modifikasi. Segeeer deh pakai nanas! :9

Telur Masak Nanas

Bahan-bahan:
1. 4 butir telur, rebus, kupas
2. Minyak secukupnya, untuk menggoreng dan menumis
3. 3 sdm bumbu dasar merah
4. 3 lembar daun jeruk
5. 1 batang serai, memarkan
6. 3 cm lengkuas, memarkan
7. 300 mL santan dari 1/2 butir kelapa
8. 1/4 nanas, kupas, potong besar-besar
9. Garam secukupnya
10. 1/2 sdt merica
11. 1/2 sdt gula

Cara membuat:
1. Goreng telur rebus hingga kuning kecokelatan. Angkat, sisihkan.
2. Panaskan minyak, tumis bumbu dasar merah bersama daun jeruk, serai, dan lengkuas hingga harum dan matang. Tuangkan santan, masak sambil diaduk sampai mendidih.
3. Masukkan telur, masak dengan api kecil hingga kuah berkurang setengahnya. Tambahkan nanas, aduk sebentar. Angkat, sajikan.

Resep Pesmol Ikan Kembung (Menggunakan Bumbu Dasar Kuning)

Yang ini resepnya boleh comot Cookpad, dimodifikasi sedikit. Resep aslinya pesmol ikan mas, tetapi karena saya tidak terlalu suka ikan mas (banyak durinya), jadilah pakai ikan yang ada di warung saja hehe..


Bahan-bahan:
1. 3 buah ikan kembung
2. 1 buah jeruk nipis
3. 3 sdm bumbu dasar kuning
4. 1 ruas jahe
5. 3 lembar daun salam
6. 3 lembar daun jeruk
7. 1 ruas lengkuas
8. 1 batang serai
9. 1 buah tomat
10. 5 buah cabai hijau
11. 2 buah cabai merah
12. Secukupnya cabai rawit
13. 2 batang daun bawang
14. Secukupnya garam
15. Secukupnya gula pasir
16. Secukupnya minyak goreng
17. 200 mL air

Cara membuat:
1. Bersihkan ikan kembung. Lumuri dengan jeruk nipis dan garam. Goreng dalam minyak panas sampai agak kering.
2. Panaskan wajan, masukkan minyak goreng. Tumis bumbu dasar kuning dan jahe sampai harum, tambahkan air.
3. Masukkan daun salam, daun jeruk, lengkuas, dan serai. Aduk rata.
4. Masukkan tomat, cabai hijau, cabai merah, dan cabai rawit.
5. Tambahkan gula dan garam secukupnya. Cicipi dan perbaiki rasanya.
6. Masukkan ikan kembung yang sudah digoreng. Aduk rata.
7. Terakhir masukkan daun bawang. Aduk kembali.

Catatan: tomat bisa diganti dengan belimbing wuluh.

Demikianlah sharing tentang bumbu dasar yang dapat mempersingkat waktu memasak para Bunda di dapur beserta contoh masakannya. Selamat mencoba! :)

Saturday, May 5, 2018

Mantan Pacar Suami Masih Mengganggu, Lakukan 5 Hal ini Moms!

Tak jarang setelah pernikahan, muncul kehadiran mantan pacar suami ke dalam rumah tangga kita. Entah suami kita yang memang terlalu baik sehingga si mantan sulit melupakannya atau memang si mantan yang tidak sadar diri bahwa sekarang suami telah menjalani kehidupan bersama pilihan terbaiknya (ciyeeeh..).

Nah, kalau si mantan masih berusaha hadir dalam kehidupan suami, entah itu masih berhubungan dengan keluarga suami, bilang kangen sama suami, ga bisa lupa, masih ada suami di dalam hatinya, dan kata-kata lain yang terasa panas di hati kita, cukup lakukan hal-hal di bawah ini, Moms:

1. Lihat suami kita
Jika suami masih ada bersama kita, mencintai kita apa adanya, mengerjakan tanggung jawabnya sebagai suami, ayah, dan kepala keluarga, menyayangi anak-anak dengan sepenuh hati, tidak enggan berbagi tugas pengasuhan maupun tugas domestik, maka apa yang perlu dikhawatirkan? He's now yours, Mom! So jangan hiraukan itu mantan beserta kata-kata racunnya.

2. Lihat anak-anak kita
Merekalah buah cinta kita bersama suami. Apakah memori-memori indah dulu si mantan dapat mengalahkan indahnya memori kehadiran buah hati yang lucu-lucu? Oh, tentu tidak. Tidak ada yang dapat mengalahkannya. Dan kehadiran buah hatilah yang akan mempererat dan memperkokoh jalinan pernikahan di antara sepasang suami istri.

3. Tidak bercerita kepada keluarga
Entah itu keluarga suami ataupun keluarga sendiri. Kalau cerita kepada keluarga suami, bisa jadi akan dibilang cemburuan hiks.. dan kalau cerita kepada keluarga sendiri, Moms hanya akan membuat khawatir orang tua. Berceritalah hanya kepada Allah, berdoa dan minta kepada-Nya agar dapat menjalani bahtera rumah tangga bersama suami sampai akhir hayat dengan bahagia.

4. Menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif
Dengan demikian tidak ada waktu tersisa untuk menanggapi apa yang dilakukan si mantan. Sibuk mengurus anak-anak, suami, dan rumah, sibuk beribadah, serta sibuk dengan kegiatan positif lainnya. Maka suami mana yang tidak tambah cinta kepada istrinya bila istrinya melakukan hal-hal tersebut?

5. Ambil hikmahnya
Kehadiran si mantan dapat dijadikan sebagai pertanda bahwa ada wanita lain yang ingin memiliki suami seperti suami kita, menjadikan kita mawas diri agar terus-menerus memperbaiki diri sebagai seorang istri. Mungkin di rumah kita perlu lebih banyak merawat diri, tampil sebaik-baiknya di depan suami. Atau supaya kita tidak banyak mengeluh dan mengomel ketika beliau ada di rumah. Utamanya bersyukur atas kehadiran suami dalam hidup kita. Yang terkadang istri lupa akan kebaikan-kebaikan suami atau karena satu kesalahan, menganggap suami tidak pernah mengerti kita. Bersyukur, jalan sederhana agar yang dimiliki terasa 'lebih'.

So Moms, jangan biarkan orang ketiga merusak hubungan kita dengan suami. Sakit hati atau perasaan tidak nyaman itu wajar atas kehadiran mantan. Tetapi membuatnya menjadi masalah besar atau sakit hati berlebihan dan berkelanjutan, kita sendirilah yang mengizinkan hal itu terjadi. Keep spread the love for hubby and kiddos. And be strong, Moms!

Wednesday, April 4, 2018

5 Tips Menghemat Uang Belanja di Tanggal Tua



Salah satu tugas seorang ibu adalah sebagai manajer keuangan keluarga. Bagaimana caranya mengelola penghasilan yang diberikan oleh suami agar dapat mencukupi kebutuhan keluarga.


Tak jarang, awal bulan para ibu berbelanja dengan kalap karena merasa uang masih banyak tersedia. Tetapi kemudian di akhir bulan, uang belanja pun hanya tinggal sisa-sisanya saja, dan harus melakukan jurus-jurus berhemat ala ibu-ibu.



Berikut 5 tips yang bisa dilakukan untuk menghemat uang belanja di tanggal tua:



1. Memasak



Yup, jangan beli makan di luar. Memasak sendiri bisa sangat menghemat pengeluaran uang belanja. Dengan Rp 30.000 misalnya, ibu sudah bisa berbelanja lauk, sayur, dan menu tambahan (seperti tahu atau tempe) di warung dan cukup untuk 2 kali makan sekeluarga. Bandingkan dengan membeli makan di luar. Rp 30.000 hanya bisa untuk sekali makan dengan jumlah keluarga 3 orang. Itu juga beli makannya di warteg atau RM Padang 10.000. Apalagi kalau di restoran, tentunya jauh lebih mahal.



2. Hindari mini market dan warung jajan anak-anak



Wah gawat kalau anak-anak sudah minta jajan ke mini market atau warung. Yang tadinya di rumah cuma minta es krim satu anak satu buah, pada kenyataannya saat sampai di sana, ada saja yang diminta lagi. Budget uang belanja harian pun bisa membengkak. Sebenarnya bisa disiasati dengan komunikasi terlebih dahulu kepada anak-anak untuk hanya membeli yang diminta. Setelah sampai mini market/warung, tepati sesuai permintaan anak. Tentunya harus tegas ya, Bu. Jangan mudah terkena bujuk rayu anak hehe.. Atau bisa juga bila ada keperluan ke mini market/warung, pergi sendiri saja. Anak-anak bisa ditinggal dengan ayah di rumah, sehingga ibu bisa membeli sesuai kebutuhan yang mau dibeli saja.



3. Strategi "tidak bawa uang"



Ini contohnya bisa dilakukan saat menjemput sekolah. Sering ada abang-abang penjual mainan gerobak yang mangkal di depan sekolah. Lalu anak-anak pun melihat si abang gerobak, minta dibelikan mainan. Karena sudah tahu tabiat anak-anak, akhirnya sering saat jemput sekolah, benar-benar tidak membawa uang sepeser pun. Jadi ketika anak-anak minta dibelikan mainan, keinginannya tidak akan terkabul. Uang belanja pun bisa terselamatkan 😂 😂😂

4. Hindari scroll timeline sosmed. Apalagi kalau follow-nya olshop-olshop. Sungguh gawat! Yang tadinya berniat cuci mata cari hiburan hanya bermodalkan gadget, bisa-bisa gadget malah digunakan untuk ketik kata-kata "mau yang ini", "fix", atau kata-kata jadi membeli lainnya hahaha.. Apalagi sekarang kalau mau bayar-bayar bisa tinggal lewat m-banking (tinggal pakai gadget juga, tidak perlu keluar rumah). Karena itu, kontrolnya ada di diri kita sendiri supaya tidak kebablasan belanja online.

5. Last but not least. Sebenarnya ini ya yang perlu dilakukan sejak awal bulan supaya di akhir bulan tidak kelimpungan. Bagi pos-pos pengeluaran dalam amplop dan namai sesuai jenis pengeluaran. Misal uang makan per hari berapa, uang sekolah anak, uang belanja bulanan, dll. Patuhi setiap pos pengeluaran sehingga saat akhir bulan, uang yang tersisa akan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Jadi penggunaan jurus-jurus berhemat ala ibu-ibu pun bisa tidak dilakukan. Kan uangnya masih ada sampai akhir bulan! 😉

Bagaimana? Yuk lebih bijak lagi dalam pengelolaan keuangan keluarga. Agar para ibu benar-benar bisa menjalankan perannya sebagai manajer keuangan, bukan hanya kasir keluarga. Sepakat ibu-ibu? 😊

Saturday, February 3, 2018

Dampak Depresivitas (Stres) pada Anak Usia Dini

Hari Rabu, tanggal 31 Januari 2018 (sudah lama ya), ada acara short seminar atau penyuluhan psikologis di sekolah Neta. Narasumbernya adalah konselor salah satu konsultan pendidikan dan sumber daya manusia. Tema yang diangkat adalah tentang depresi pada anak usia dini. Seram ya.. Anak usia dini ternyata sudah bisa mengalami depresi atau stres. Berikut resume singkat dari penyuluhan psikologis tersebut.

Penyuluhan diawali dengan pertanyaan, tingkat stres mana yang lebih tinggi: perempuan atau laki-laki, anak atau dewasa? Secara mengejutkan jawabannya adalah perempuan dan anak. Kedua hal ini erat hubungannya. Dimana perempuan atau kaum ibu lebih sering bersentuhan dengan anak. Ibu yang stres biasanya melampiaskannya kepada anak. Meskipun kasus laki-laki atau kaum ayah yang melakukannya pun bukan jarang terjadi. Sedangkan anak-anak yang menjadi korban tidak mengetahui cara menyalurkan atau menyelesaikan depresinya. 

Berikut penyebab-penyebab depresi pada anak:
1. Pola asuh orang tua diktator: harus mengikuti kemauan orang tua, anak tidak diberikan kesempatan berpendapat.
2. Adanya kekerasan berupa kekerasan verbal, psikis, dan fisik. Contoh kekerasan verbal yaitu labelling, seperti "kamu nakal ya" atau "kamu jorok sekali". Contoh kekerasan psikis yaitu membanding-bandingkan, mengancam, atau menakuti-nakuti. Contoh kekerasan fisik yaitu mencubit, menjewer, atau memukul.
3. Tuntutan berlebihan, misalnya di sekolah nilainya harus bagus, juara kelas, pulang sekolah banyak les, dan pencapaian-pencapaian lainnya.
4. Overprotektif, misalnya melarang untuk melakukan berbagai hal seperti "jangan Dek, nanti jatuh". Tanpa memberikan pengertian untuk berhati-hati, ataupun bentuk larangan-larangan lainnya.
5. Banyak peraturan yang terlalu ketat.
6. Tidak tegas, sehingga membuat anak menjadi bingung. Misalnya oleh ibunya boleh tetapi oleh ayahnya tidak boleh.
7. Pemakaian gadget berlebih, menyebabkan sikap anak agresif, tidak sabaran, dan emosi tidak terkontrol. Anak boleh diberikan gadget sendiri saat usia 15 tahun ke atas.
8. Lingkungan, contohnya pengaruh teman bermain seperti penggunaan kata-kata yang tidak baik. Sebaiknya saat keluar rumah tetap didampingi, utamanya untuk anak usia di bawah 7 tahun.

Ciri-ciri anak yang depresi:
1. Sulit tidur, tidur di atas jam 9 (kecuali tidur siang lebih dari 2 jam)
2. Sulit makan
3. Sakit-sakitan, daya tahan tubuh rendah
4. Daya konsentrasi rendah
5. Daya serap rendah
6. Temperamental
7. Sering tantrum
8. Adanya penyimpangan perilaku, misalnya berlaku kasar kepada orang lain

Apabila ada 1-3 gejala terdeteksi pada anak, berarti anak mengalami tingkat depresi rendah (atau sekitar 15%), 1-5 gejala berarti tingkat depresi sedang (sekitar 45%), dan 1-8 gejala berarti tingkat depresi tinggi (sekitar 85%). Tingkat depresi tinggi biasanya anak sudah mengalami penyakit kejiwaan seperti schizophrenia, berkepribadian ganda, dll.

Anak dapat mengalami depresi sejak dalam kandungan, kemudian berlanjut hingga saat lepas ASI dan seterusnya. Sudah berapa kali membentak anak? Dimana membentak anak sama dengan memutuskan sambungan sel-sel syaraf anak. Anak pun akan terus mengalami depresi jika pola asuh orang tua tidak berubah.

Konsultan pendidikan ini di akhir acara menawarkan assessment untuk mengetahui tingkat depresi anak, pola asuh orang tua, bakat dan potensi anak, serta kesiapan anak masuk SD. Assessment dilakukan dengan melihat body languange, bola mata, garis tangan, dan tanya jawab, baik anak maupun orang tuanya. Biayanya Rp 175.000 jika assessment dilakukan di sekolah, sedangkan bila dilakukan di rumah biayanya Rp 950.000.

Neta sendiri belum ikut assessment-nya, rencana saat akan masuk SD saja. Sekarang yang dilakukan adalah refleksi terhadap pola asuh yang selama ini telah diterapkan. Lebih banyak peluk, cium, dan sabar. Berkomunikasi dengan suami tentang pengasuhan. Less angry, more love. Semoga bisa istiqomah, aamiin. Karena anak adalah buah cinta yang kita undang sendiri untuk hadir ke dalam kehidupan kita, tentu tidak ingin bila mereka mengalami depresi karena kesalahan kita sendiri bukan? Yuk berubah.. :)