Showing posts with label Level 8. Show all posts
Showing posts with label Level 8. Show all posts

Friday, February 16, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 15)

Kamis, 15 Februari 2018

Hari ini ada sesi sharing dari Mba Eria, peserta Bunsay Batch #2 Banten, yang tulisannya tentang cerdas finansial menjadi viral di Facebook. Masya Allah, sangat legowo sekali dengan pemberian nafkah dari suami. Diusahakan agar tidak pernah meminta lagi meskipun uang belanja sudah habis di tengah bulan. Jadi berkaca pada diri sendiri alias makjleb karena saya masih suka meminta lagi dan tidak jarang menuntut.

Dulu, waktu saya masih bekerja di ranah publik, sama sekali tidak pernah meminta kepada suami karena alhamdulillah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri. Sempat keranjingan belanja online juga dan layaknya perempuan pada umumnya, sangat senang sekali membeli baju, kerudung, dan sepatu. Sampai saat diharuskan menjadi ibu yang bekerja di ranah domestik, semua baju, kerudung, dan sepatu yang sudah ditumpuk di lemari dan rak sepatu sama sekali tidak terjamah dan menjadi mubazir. Alhamdulillah sudah disadarkan bahwa hal tersebut tidak penting, dan akhirnya banyak didonasikan ke teman atau saudara yang dengan suka cita menampung.

Berlanjut ke tahap belajar cerdas finansial selanjutnya, saya masih suka belanja buku anak yang mahal-mahal dengan tabungan yang masih dimiliki hasil uang pesangon. Memang, pesangon itu dipakai juga untuk melunasi hutang-hutang yang sebelumnya saya ambil karena merasa dapat membayar cicilannya setiap bulan. Tetapi sisanya yang ada, masih saya gunakan untuk memenuhi hasrat belanja atau makan-makan dan jalan-jalan. Sampai akhirnya tabungan itu habis dan tidak bersisa. Dari situ saya belajar banyak, memulai hanya mengandalkan penghasilan suami untuk kehidupan sehari-hari dan sudah tidak bisa fleksibel dalam berbelanja, makan, atau jalan-jalan.

Dan ternyata perjalanan itu tidak mudah, tidak jarang uang belanja sudah habis dan suami akan menambahnya di akhir bulan hasil pekerjaan sampingan atau jualan. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya agar tidak habis di tengah bulan. Sudah sekitar 4 bulan ini, keuangan keluarga bisa lebih sehat. Ada terus sampai akhir bulan karena saya menerapkan pos-pos belanja dan menepatinya setiap hari. Alhamdulillah.. Cerdas finansial adalah perjalanan panjang bagi saya sendiri, semoga dapat memberikan pengertian kepada anak-anak lebih dini. Karena sejatinya, kebahagiaan bukan hanya seputar uang. Masih banyak rezeki lainnya yang jauh membuat hidup lebih bahagia. Kesehatan, suami penyayang, anak-anak sehat, ceria, dan cerdas, serta keluarga yang utuh. It's priceless!

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Thursday, February 15, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 14)

Akhir-akhir ini Neta sering sekali meminta sesuatu yang random. Coklat, kentang, jam tangan, ban renang, dan barang-barang atau hal-hal lainnya. Setelah ditanyakan kepada Neta, kenapa tiba-tiba suka meminta hal-hal tersebut adalah karena temannya di sekolah juga punya/bawa. Wah padahal baru kelas TKA, tapi peer pressure sudah begitu kental mengena pada anak. Mungkin karena Neta bukan anak yang dibiasakan kekinian dengan barang-barang terbaru atau cemilan enak, dia jadi mudah terpengaruh juga.

Akhirnya Mami berikan pengertian kepada Neta, apakah yang Neta minta itu adalah kebutuhan atau keinginan? Dia dengan polosnya menjawab, "Neta pingin, Mami..". Nah! Berarti bukan kebutuhan kan. Mami lanjutkan lagi deh ceramahnya. Kalau membeli sesuatu, kita lihat dulu, apakah memang butuh atau hanya sekedar ingin. Bila butuh maka hayuk kita beli, bila hanya ingin berarti belum saatnya kita membeli. Neta pun hanya melengos hehehe.. Tak jarang dia ngambek dan mengeluh karena tidak dapat apa yang dia inginkan. Tidak apa-apa.. Pelan-pelan ya Neta. Mami pun perlu waktu yang lama untuk bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tetapi semoga Neta dan Nara bisa lebih cepat menyadari dan mengerti tentang hal ini lebih cepat dari Mami yaa.. Aamiin. :)

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Wednesday, February 14, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 13)

Selasa, 13 Februari 2018

Setelah kemarin jadwal membeli mainan dari hasil celengan kardus tidak jadi dilakukan karena Mami lupa membawa uang ketika menjemput sekolah, akhirnya hari ini terlaksana juga. Neta dengan mantap memilih stiker-stikeran, mainan favoritnya. Stiker-stikeran ini terdiri dari gambar perempuan plus baju dan perlengkapannya, mirip dengan mainan Mami dulu yang terbuat dari kertas. Sekarang sepertinya mainan orang-orangan dari kertas sudah tidak ada ya, digantikan dengan mainan stiker ini. Sedangkan Nara memilih balon untuk ditiup di rumah. Harga mainan stiker 3000 rupiah, sedangkan harga balon 1000 rupiah saja. Masih ada sisa 1000 dari hasil menabung di celengan kardus hihihi.. Mainan tidak harus mahal kok, yang terpenting bukan harganya melainkan orang tua ikut bermain bersama anak. :)

Stiker orang-orangan

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Tuesday, February 13, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 12)

Senin, 12 Februari 2018

Hari ini Mami kembali aktif membuat mainan untuk anak-anak. Dimulai dengan membuat mainan untuk Nara. Seperti biasa, Mami mengambil bahan dari printable. Sudah di-print untuk keperluan seminggu, jadi setiap harinya tinggal gunting-gunting saja. Tapi Mami mulai hari ini mencoba me-laminating dengan menggunakan lakban bening agar mainannya lebih awet. Bagian lainnya berupa alas main ditempel di kardus sebelum diberi lakban bening juga.

Dulu waktu awal-awal berlangganan printable berbayar, rasanya mau punya mesin laminating sendiri di rumah. Tapi tidak disetujui oleh Papi. Katanya kalau mau laminating ke tukang fotokopi saja. Sempat kesal juga karena kenapa sih tidak disetujui, padahal untuk keperluan pendidikan anak. Setelah dipikir-pikir, memang tidak urgent juga, masih bisa digantikan dengan peralatan lain yang lebih sederhana dan lebih murah, seperti lakban bening dan gunting. Anak-anak pun lebih senang dengan mainan hasil karya tangan Maminya sendiri hehehe.. Terima kasih Papi sudah menjadi benteng Mami dalam berbelanja berlebihan. :)

Dengan kardus, lakban bening, dan gunting, mainan menjadi lebih awet

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Monday, February 12, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 11)

Hari ini Mami, Neta, dan Nara mengamati perkembangan sayur kangkung dan bayam yang tiga hari lalu sudah ditanam benihnya. Ternyata belum ada perkembangan yang berarti. Neta pun menjadi lebih bersemangat untuk menyiram tanamannya agar cepat tumbuh menjadi sayuran katanya. Perkembangan sayuran dicatat juga di buku My Nature Journal karya Kenia Dyanti & DK Wardhani. Seperti ini penampakannya:

 Buku My Nature Journal

 Lembar pengamatan perkembangan tanaman

Lembar pengamatan bercocok tanam kangkung (baru Neta check list bagian benihnya)

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Sunday, February 11, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 10)

Sabtu, 10 Februari 2018

Hari ini jadwal Mami begitu padat hahaha.. Sok sibuk banget ya. Paginya sibuk mengerjakan urusan domestik, supaya siangnya bisa dengan tenang memandu matrikulasi offline lanjut persiapan acara Milad IP Tangsel yang ke-2 untuk besok sampai malam. Huhu.. maafkan Mami ya Papi, Neta, dan Nara.

Sepulangnya dari persiapan acara milad, Mami menyempatkan untuk mengecek celengan lumba-lumba yang tempo hari telah dibuat bersama Neta dan Nari. Hihi.. tutupnya sudah copot dan uang logamnya bisa diambil untuk dihitung. Sebelumnya, jika ada uang logam 100 atau 200, Mami berikan kepada Neta dan Nara untuk dimasukkan ke celengan tersebut. Setelah dihitung ternyata sudah ada 5000 rupiah. Waaah.. sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit yaa.. :)

Lalu Mami bertanya kepada Neta, "Neta, uang di celengan sudah ada lima ribu, nih. Mau dibelikan apa?". Neta menjawab, "Mainan.". Hehehe.. Baiklah Neta, Senin besok bisa beli mainan di abang gerobak depan sekolah sama-sama Nara ya. :)

Celengannya sudah terbuka tutupnya

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Saturday, February 10, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 9)

Jumat, 9 Februari 2018

Hari ini Mami membuatkan mainan kamera dari kardus untuk Neta dan Nara. Sebenarnya sudah lama dapat kit-nya, waktu belajar bareng Mba Uchy Widya. Sudah ada beberapa bagian yang sudah ditempel juga, jadi hanya tinggal sedikit finishing lagi. 

Kamera dari kardus

Ketika sudah jadi, Neta dan Nara senang sekali. Malah keduanya berebutan mau coba pakai dan bermain. Haduh.. harus buat 2 sepertinya nih hehehe.. Dari sini tidak hanya Neta dan Nara yang belajar, tetapi Mami juga, bahwa mainan yang menyenangkan dan edukatif untuk anak tidaklah harus mainan mahal. Dengan mainan dari bahan bekas pakai, dengan nilai plus dibuat oleh sendiri oleh ibunya, anak-anak pun sudah senang serta meninggalkan memori dan bonding yang lebih kuat antara anak-anak dan orang tua.

Sudah beberapa bulan terakhir, Mami pun "taubat" membelikan mainan dan buku-buku yang mahal atau impor. Dulu waktu Mami masih bekerja, semuanya bisa dibeli tanpa berpikir panjang. Setelah Mami tidak bekerja, ada masa-masa peralihan, dimana Mami masih suka beli dengan uang tabungan sendiri yang lama-lama habis juga karena tidak ada pemasukan lagi. 

Berangkat dari pengalaman tersebut, Mami coba bicarakan dengan Papi. Papi yang memang lebih rasional dari Mami (hehehe) menyarankan bahwa boleh saja membelikan mainan dan buku, tapi setiap bulan ada budget maksimal dan beli sesuai kebutuhan saja. Sekarang kalau beli buku, buku berbahasa Indonesia saja, di toko buku terdekat. Ternyata meskipun harganya jauh lebih murah dari buku impor, isinya tetap bagus kok, ada penanaman moral sesuai budaya Indonesia, dan tentunya anak-anak lebih mengerti karena berbahasa Indonesia. Beli mainan pun sekarang cukup di abang gerobak depan sekolah Neta. Dengan harga mainan berkisar antara 1000-3000 rupiah, anak-anak sudah sangat senang. Karena yang terpenting adalah apakah orang tua mau menemani mereka bermain, bukan berapa harga mainannya. :)

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Friday, February 9, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Usia Dini (Day 8)

Hari ini Mami mengajarkan konsep rezeki, bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki, dengan mengajak anak-anak untuk menanam tanaman sayuran bersama. Neta memilih menanam benih bayam dan Nara menanam benih kangkung. Sudah ada dua buah pot berisi tanah di teras. Mami bantu lubangi bagian tengahnya dengan stik es krim. Lalu Neta dan Nara menaruh masing-masing benih ke dalam lubang dan Mami menutupnya kembali.

Lalu Mami bertanya, "Setelah ini tanamannya diapakan ya?". Neta menjawab, "Disiraaam.". Neta pun langsung sigap mengambil mainan berbentuk penyiram tanaman dan mengisinya dengan air. Nara juga ikut menyiram tanaman kangkung yang telah ia tanam. Lalu Mami bertanya lagi, "Setelah disiram ditaruh di mana ya?". Neta menjawab, "Di tempat yang terkena sinar matahari.". Yup, benar sekali, Neta! :)

Terakhir Mami menjelaskan bahwa benih bisa menjadi tanaman sayuran yang bisa kita makan merupakan rezeki dari Allah semata yang dapat menumbuhkannya. Air dan sinar matahari juga rezeki dari Allah yang dapat digunakan untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Alhamdulillah, kita masih bisa mendapatkan dan menikmati makanan, air, dan sinar matahari dengan mudah ya, Nak! :)

Tanaman bayam dan kangkung yang ditanam Neta dan Nara

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Thursday, February 8, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 7)

Rabu, 7 Februari 2018

Bulan Februari ini sudah masuk musim hujan ya. Hampir setiap hari hujan, Tangsel pun cuacanya menjadi dingin. Tentang hujan ini, Mami mencoba menceritakan kepada Neta, merupakan salah satu bentuk rezeki dari Allah. Ceritanya mengambil dari buku "Kreasi Asyik Musim Cilik" karya Azka Madihah. Judul ceritanya "Tik-Tik-Tik... Bunyi Hujan di Atas Genting".

 Buku Kreasi Asyik Muslim Cilik

Cerita Tik-Tik-Tik... Bunyi Hujan di Atas Genting

Ceritanya tentang 2 orang anak bernama Asmi dan Izza yang sedang beristirahat di jam istirahat sekolah. Ternyata turun hujan sehingga Asmi, Izza, dan teman-teman tidak bisa bermain di lapangan sekolah. Teman-teman Azmi banyak yang mengeluh karena hujan turun. Ibu Guru pun kemudian mengingatkan anak-anak bahwa Allah menurunkan hujan sebagai rahmat dan berkah-Nya. Manfaat air hujan sangat banyak, misalnya sebagai salah satu unsur yang menumbuhkan tanaman dan sayuran sehingga kita semua bisa memakan hasilnya. 

Karenanya, ketika hujan turun, disunnahkan untuk membaca doa "Allaahumma shayyiban naafi'an" yang berarti: "Ya Allah turunkanlah kepada kami hujan yang bermanfaat". Di surat Ibrahim ayat 32 juga dijelaskan "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu.".

Air hujan itu juga bersih dan segar. Seperti firman Allah dalam surat Al-Furqaan ayat 48, "Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan). Kami turunkan air yang amat bersih dari langit.". Teman Asmi dan Izza, Fatih, pun minta izin kepada Bu Guru untuk bermain hujan-hujanan di luar. Bu Guru memperbolehkan asal kembali mengeringkan badan sebelum masuk ke kelas. Dan anak-anak pun bergembira kembali.

Setelah selesai bercerita, Mami menjelaskan kepada Neta tidak boleh mengeluh atau kecewa lagi ketika turun hujan ya. Hujan adalah rezeki dari Allah untuk manusia. Neta pun mengangguk tanda mengerti. :)

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Wednesday, February 7, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 6)

Selasa, 6 Februari 2018

Setelah dua hari yang lalu mengenalkan uang logam kepada Neta, hari ini Mami mengenalkan jenis uang yang lain, yaitu uang kertas. Kebetulan Neta punya uang mainan kertas, meskipun sudah tidak lengkap sih. Maklum sering dimainkan oleh Nara juga yang masih hobi remas-remas kertas. :) Uang mainannya masih ada yang pecahan Rp 1.000, 10.000, 20.000, dan 50.000.

Uang mainan kertas

Mami menggunakan metode 3 period lessons ketika mengenalkan uang kertas ini. Yang pertama, Mami mengenalkan satu persatu bilangan di setiap uang kertas. Ini yang hijau, ada angka 1, 0, 0, dan 0 uang seribu rupiah. Yang pink, ada angka 1, 0, 0, 0, dan 0 uang sepuluh ribu. Yang hijau, ada angka 2, 0, 0, 0, dan 0 uang dua puluh ribu. Yang biru, ada angka 5, 0, 0, 0, dan 0 uang  lima puluh ribu. 

Neta pun mendengarkan dan mencoba mengingat apa yang Mami ceritakan, "Hoo ini seribu warna hijau ya, Mami.". "Kok ini sama Mami, seribu yang hijau sama yang pink?". Mami menjawab, "Itu beda Neta, yang hijau nolnya ada 3, kalau yang pink nolnya ada 4. "Oh begitu.", jawab Neta. "Kalau hiijau yang satunya, dua puluh ribu ya, Mami. Yang biru lima puluh ribu.". "Iya.", jawab Mami.

Selanjutnya Mami bertanya, yang mana seribu? Yang mana sepuluh ribu? Yang mana dua puluh ribu? Yang mana lima puluh ribu? Alhamdulillah Neta sudah bisa menjawab dengan benar. Mami lanjut bertanya sambil menunjuk setiap pecahan uang satu per satu, ini berapa? Nah, kalau pertanyaan terakhir Neta terlihat masih bingung. Baru bisa menjawab dengan benar yang seribu saja. Yang lainnya, masih Mami bantu jawab dan ingatkan lagi. Tidak apa-apa, masih bisa diulang di hari-hari selanjutnya ya, Neta. :)

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Tuesday, February 6, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 5)

Senin, 5 Februari 2018

Setelah libur dua hari, Sabtu dan Minggu, hari ini Neta kembali masuk sekolah. Sejak semester 1, Neta sudah mulai rutin menabung di sekolahnya setiap hari. Tidak banyak sih, setiap harinya Mami sisihkan Rp 2.000 dari uang belanja untuk Neta menabung. Alhamdulillah di awal semester 2, jumlah tabungan Neta sudah hampir Rp 150.000. :)

Setiap harinya, Neta menyetorkan sendiri buku tabungannya kepada Bunda Guru di sekolah. Mami ceritakan juga kepada Neta, bahwa uang yang sedikit apabila ditabung secara rutin lama-lama akan menjadi banyak. Atau peribahasanya: sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Bila Mami bertanya kepada Neta, mau dibelikan apa hasil tabungannya nanti ketika boleh diambil di akhir semester 2 nanti? Neta mau beli mainan katanya, atau bisa juga beli tas baru untuk nanti dipakai saat TKB. Karena tas yang sekarang, tempat menaruh botol minumannya sudah robek. Siiip, nanti kalau tabungannya sudah bisa diambil, kita beli mainan dan tas baru ya, Neta. :)

Buku tabungan Neta di sekolah

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Monday, February 5, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 4)

Minggu, 4 Februari 2018

Hari ini Mami maraton pertemuan IIP, dari meeting persiapan milad di BXC lanjut ke kelas matrikulasi offline di Legoso. Sedangkan anak-anak dan Papi pergi ke rumah Kakek dan Nenek di Pamulang. Baru bertemu lagi ba'da Maghrib, lalu makan malam, dan hari ini ditutup dengan mengobrol santai.

Mami membuka pertanyaan kepada Papi, "Papi, dulu waktu kecil pernah berjualan gak?". Papi pun menjawab, "Pernah, berjualan permen.". Lalu Mami bercerita tentang tugas kali ini, tentang mengajarkan cerdas finansial kepada anak-anak, "Bagaimana ya, Papi? Tugas Mami kali ini mengajarkan anak menabung. Tetapi bingung juga, dari mana ya Papi sebaiknya, uang yang dipakai Neta untuk menabung? Karena Neta belum punya uang jajan sendiri. Apa Neta kita ajarkan berjualan?". Papi pun menjawab, "Sepertinya Neta belum mengerti Mami bila diajak berjualan.".

Mami pun kemudian bertanya kepada Neta, "Neta, Neta mau gak berjualan di sekolah?". Dia menjawab, "Tidak.". Waaah, to the point sekali. Lalu Mami pancing-pancing, "Seperti Mail di Upin Ipin, suka berjualan.". Neta pun menjawab, "Hoo seperti Mail. Nanti aku berjualan mainan ya, dan buah-buahan.". Sepertinya dia sering pretend play di sekolah, berjualan mainan dan buah. Mami pun bertanya lagi, "Bagaimana bila berjualan puding? Neta kan suka buat puding sendiri.". Neta menjawab lagi, "Tidak ah". Hehehe.. Sepertinya Neta belum tertarik ya dengan kegiatan berjualan ini. Ya sudah tidak apa-apa, bisa dicoba lagi lain waktu ya. :)

Kemudian Mami teringat setelah membaca bab terakhir buku Keluarga Muslim Cerdas Finansial karya Teh Patra, bahwa boleh memberikan anak bayaran tertentu setelah anak mengerjakan pekerjaan yang bukan tugasnya. Misalnya mencuci mobil atau motor. Tetapi tidak memberikan upah ketika anak mengerjakan pekerjaan yang memang sudah seharusnya menjadi tugasnya, misal merapikan mainan sendiri atau mencuci piring bekas makan sendiri. Baiklah, berarti mengajak Neta mengerjakan pekerjaan yang bukan tugasnya bisa menjadi sumber tabungan Neta yaa.. Sip, sip, semangaaat!

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Sunday, February 4, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 3)

Sabtu, 3 Februari 2018

Hari ini mami mengenalkan Neta dan Nara permainan yang suka mami mainkan saat kecil dulu, yaitu mencetak uang logam di atas kertas dengan cara mengarsirnya. Ada yang masih ingat caranya? ;) Masih ingat mami, ketika di SD, belajar penjumlahan uang ratusan dilakukan dengan cara ini:

Mencetak uang logam

Mami mencetak uang logam 200, 100, dan ternyata masih ada juga yang 50 rupiah hehehe.. Tapi setelah itu, Neta dan Nara kurang tertarik ikut mencoba kegiatan ini. Mereka lebih senang mencoret-coret bebas dengan menggunakan stabilo. Itu yang warna hijau hasil coretan Nara :p

Setelah selesai mencoret-coret, mereka lebih memilih kegiatan memasukkan uang-uang logam ke dalam celengan lumba-lumba. Nara juga sudah bisa ikut-ikutan memasukkan koin lho, seperti yang ada di foto ini:

Neta dan Nara sama-sama menabung

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Saturday, February 3, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 2)

Jumat, 2 Februari 2018

Hari ini mami memperkenalkan proses menabung dengan membuatkan Neta celengan dari kardus. Cara membuat celengannya mencontoh dari buku Tutorial Mainan Kardus karya mba Uchy Widya. Tinggal mengikuti pola dan ukurannya, gunting, dan lem. Jadi deh! Ditambahkan gambar hewan agar lebih menarik. Karena mami kurang bisa menggambar, gambar hewannya ambil dari printable hehehe.. Neta pilih gambar hewan lumba-lumba untuk ditempelkan di celengan miliknya. Ini dia penampakannya:

Neta dan celengan lumba-lumbanya

Setelah itu, mami ajak Neta untuk memasukkan uang logam ke dalam celengan barunya. Mami perkenalkan koin Rp 100 dan Rp 200 kepada Neta. Mami juga menjelaskan manfaat menabung kepada Neta, dari yang sedikit lama-lama akan bertambah banyak jika dilakukan terus-menerus. Hasil tabungan pun dapat digunakan untuk membeli hal-hal yang Neta suka atau inginkan. Ketika mami bertanya Neta mau membeli apa dari hasil tabungannya ini, Neta menjawab mau beli mainan, pisang, dan jeruk katanya :)

Neta memasukkan koin ke dalam celengan

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

Friday, February 2, 2018

Game Level 8: Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini (Day 1)

Kamis, 1 Februari 2018

Tantangan kali ini adalah mengenalkan kegiatan menabung, proses menabung, dan membelanjakan tabungan. Seperti biasa, mami lebih senang mengenalkan sesuatu kepada Neta dan Nara lewat buku. Ini dia buku yang mami pilih untuk mengenalkan kegiatan menabung:

Tupi yang suka menabung

Buku ini bercerita tentang seekor tupai yang sangat rajin. Ia mencari makanan pagi-pagi sekali dan menyimpan makanan juga untuk persediaan di musim kemarau. Sedangkan seekor monyet malah mengejeknya karena sikap tupai tersebut, dia berkata untuk apa melakukannya, toh makanan tidak akan lari. Ketika musim kemarau tiba, monyet kelaparan karena tidak menyimpan makanan. Akhirnya tupai yang memberikan monyet makanan dari persediaannya terdahulu.

Ceritanya sangat ringan, cocok untuk dibacakan untuk Neta maupun Nara yang masih berusia kurang dari 2 tahun. Ada kegiatannya juga di dalam buku ini seperti menempel stiker, berhitung, dan mewarnai. Ada penanaman moralnya juga misalnya menyapa ketika bertemu teman, memuji hasil karya teman, tidak membalas ketika diejek teman, bertanya dan membantu ketika teman sedang sakit atau perlu pertolongan, makan tidak terburu-buru, serta meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Hikmah dari cerita pun sangat bagus, mengajarkan agar selalu berhemat, rajin menabung, dan tidak bermalas-malasan. Sikap berhemat dan rajin menabung akan bermanfaat di kemudian hari. Sedangkan sikap boros dan bermalas-malasan akan merugikan diri sendiri.

Info buku:
Judul buku: Tupi yang Suka Menabung
Penulis: Hasna Nelfia
Ilustrator: Imam Kr Moncol
Penerbit: Bestari
Harga: Rp 37.500
Beli di Millennia Cireundeu

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial