Showing posts with label Lembaran Baru. Show all posts
Showing posts with label Lembaran Baru. Show all posts

Thursday, January 25, 2018

Bertemu Ibu Septi di Milad Ibu Profesional Jakarta

Sebuah lembaran baru, pertama kalinya, bertemu founder dari komunitas yang telah saya ikuti sejak Januari tahun lalu ini. Yup, Ibu Septi Peni Wulandani, alhamdulillah akhirnya saya berkesempatan bertatap muka langsung, berjabat tangan langsung, dan mendengarkan ilmu dari beliau langsung di acara Milad Ibu Profesional Jakarta yang ke-6, 21 Januari lalu.

Acara dimulai dengan pemutaran video pembuka yang berisi tentang keamanan dan keselamatan, yaitu tentang denah lokasi, assembly point saat keadaan darurat, informasi P3K, dilarang merokok, dan membuang sampah sesuai tempat yang disediakan. Ada juga penjelasan tentang Changemaker Family Card yang menjadi salah satu isi dari goodie bag yang didapatkan peserta. Kartu ini berkaitan dengan tema milad ke-6 Ibu Profesional Jakarta, yaitu Changemaker Family.

Changemaker Family Card, untuk menuliskan project family

Selanjutnya, setelah video pembuka, MC membuka acara dengan hebohnya. Siapakah MC-nya? Jeng jeng tak lain dan tak bukan yang telah tersohor di komunitas saya yang lain (itbmotherhood), yaitu Thya Maknyes! Ternyata doi ibu profesional Jakarta siiis!

Numpang nampang sama MC

Dan yang ditunggu-tunggu pun telah hadir, siapa lagi bila bukan Ibu Septi dan Pak Dodik yeayyy! Saya sengaja duduk paling depan agar dapat dekat dengan beliau-beliau ini. Dan supaya bisa foto juga tentunya hehehe..

Bersama Bapak dan Ibu (foto saat coffee break)

Setelah itu, ada pemutaran video lagi, kali ini video dari sie acara tentang "menjadi ibu". Cukup lucu dan mengundang tawa juga videonya karena menghadirkan antara "ekspektasi" dan "kenyataan" menjadi seorang ibu, juga antara "before" dan "after" menjadi seorang ibu, dimana semua yang telah menjadi ibu pasti bisa relate.

Dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, yaitu mba Fita dan sambutan leader IP Jakarta, yaitu Uni Eci. Kemudian dikembalikan ke MC. MC pun menyebutkan terima kasih kepada tim Kids Corner (KC) yang menjadi panitia acara tetapi tidak dapat menghadiri sesi acara di panggung. Oleh karena itu, ada salah satu panitia yang menyiarkan live di Instagram @ibuprofesionaljakarta agar tim KC dan yang lainnya dapat menyaksikan kemeriahan acara ini.

Berlanjut ke video perjalanan IIP dan Ibu Profesional Jakarta, dirangkai dengan penyematan pin kepada empat Changemaker Family, yaitu Mba Mumun, Teh Erna, Mba Annisa, dan mba Efi, dan diakhiri dengan foto bersama pengurus Ibu Profesional Jakarta sebelum dilangsungkan coffee break.

Saat coffee break, peserta sudah bersiap-siap dengan wadahnya masing-masing dan membawa minum masing-masing pula. Wah saya tertinggal info ini, jadi ketika coffee break saya hanya berhasil membawa 2 buah kue dengan menggunakan tissue. Yang menarik dari coffee break ini, makanannya beraneka ragam, sepertinya donasi dari member IP Jakarta. Mulai dari bolu pisang, keripik, puding, sampai donat JCo semua ada :9

Setelah break, acara dilanjutkan dengan pemutaran video rumah belajar (rumbel) dan divisi Sejuta Cinta (SC) beserta hadirnya perwakilan tiap rumbel dan divisi di atas panggung. Ada 4 rumbel di IP Jakarta, yaitu rumbel boga, menulis, menjahit, dan berkebun. Setiap rumbel dan divisi SC juga mengisi stand yang ada di acara ini.

Rumbel boga, menjual aneka makanan hasil buatan sendiri

Rumbel berkebun, sudah bisa menghasilkan benih dan bibit sendiri serta ada praktik composting

Rumbel menjahit, bisa eksplor mesin jahit dan mencoba tutorial kit langsung

 Hasil rumbel menjahit (sew & craft)

 Hasil rumbel menjahit (sew & craft)

Hasil rumbel menjahit (sew & craft)

Mampir di stand Sejuta Cinta: divisi sosial IP Jakarta dengan success story membina warga kurang mampu untuk dapat menjahit dan produktif

Pouch hasil produksi binaan divisi Sejuta Cinta Ibu Profesional Jakarta

Untuk rumbel menulis tidak terfoto hiks.. karena saat mengunjunginya, stand-nya sudah mau dibereskan. Saat di panggung dijelaskan ada penjualan buku antologi hasil karya rumbel menulis IP Jakarta berjudul "Pulang" di stand-nya.

Setelah perkenalan rumbel dan divisi Sejuta Cinta, dilanjutkan dengan sesi sharing dari keempat Changemaker Family. Yang pertama tampil adalah Mba Mumun (Siti Munawaroh), pendiri sanggar belajar "Hasanah Center" Jakarta yang mengajarkan berbagai macam keterampilan untuk kaum ibu dan perempuan. Mba Mumun ini meskipun sudah berumur lebih dari 40 tahun, semangatnya masih sangat tinggi. Dibuktikan juga dengan aktif di divisi Sejuta Cinta IP Jakarta.

Yang kedua teh Erna Listia. Teh Erna adalah senior saya ternyataaa, sudah kenal lebih dulu di komunitas itbmh. Beliau bersama suami adalah owner Resto Bebek Dower yang dijadikan tempat acara milad ini. Awalnya teh Erna adalah seorang ibu yang bekerja di ranah publik yang kemudian saat kehamilan kedua mulai berpikir bagaimana caranya mengatur waktu untuk pumping di tengah kesibukan pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk mobile baik ke luar kota ataupun ke luar negeri. Oleh karena itu, teh Erna memberanikan diri untuk resign dari pekerjaannya dan merintis usaha sendiri. Tahun 2011 dimulai dengan 1 cabang, 17 karyawan, dan 20 ekor bebek per hari, di 2017 telah menjadi 18 cabang, 300 lebih karyawan, dan 2000 ekor bebek per hari.

Yang ketiga adalah mba Annisa Miranty Gumay, seorang ibu tunggal dari 4 anak. Suaminya telah berpulang mendahului ke Rahmatullah, dimana seminggu kemudian Mba Annisa baru mengetahui sedang hamil anak ke-empat. Tapi beliau tetap tegar menjalani kehidupan bersama 4 anaknya. Beliau adalah seorang guru ekonomi di SMAN 71 Jakarta, ketua rumbel Sew & Craft IP Jakarta, penggagas proyek RaQueeFa Bookhouse dan Komik Keluarga.

Yang keempat adalah mba Efi Femiliyah. Mba Efi mengadakan project keluarga dengan putrinya, Bellva, sebagai Project Manager. Project-nya adalah Jumat Berbagi, dimana Mba Efi sekeluarga menyiapkan makanan yang akan dibagikan kepada jamaah selepas sholat Jumat. Selain itu, mba Efi juga mengagas Taman Baca Warga 67 di wilayah tempat tinggalnya. Setelah sharing session selesai, ada pemberian hadiah kepada para Changemaker Family.

Tiba saatnya puncak acara, yaitu talkshow bersama Ibu Septi dan Pak Dodik. Diawali dengan Pak Dodik yang naik ke atas panggung, mencari tissue untuk Bu Septi yang sedang menangis haru setelah mendengarkan sharing session dari 4 Changemaker. Kemudian Bu Septi naik ke atas panggung sambil bercerita tentang mengapa beliau merasa terharu.

Beliau flashback ke 6 tahun lalu, dimana saat itu beliau merintis komunitas Ibu Profesional. Beliau yang kala itu adalah seorang ibu rumah tangga berjuang agar profesi ibu rumah tangga tidak dipandang sebelah mata. Banyak ibu rumah tangga kala itu merasa rendah diri dan tidak berharga. Kini, para ibu rumah tangga atau yang sekarang disebut ibu yang bekerja di ranah domestik dapat bangga terhadap dirinya sendiri serta bermanfaat bagi lingkungan. Ibu Septi yang tidak memiliki kakak atau adik perempuan biologis, kini memiliki 18.000 saudara perempuan di seantero nusantara, pun di luar negeri.

Ibu Septi pun kali ini tidak menyiapkan slide presentasi ataupun kertas plano. Beliau spesial membahas dan mengupas keempat Changemaker yang sebelumnya telah hadir. Ibu Septi mengatakan bahwa dari seorang ibulah, peradaban dimulai. Dapat dengan mudah kita sebutkan, tokoh besar yang diasuh hanya oleh seorang ibu. Misalnya Nabi Isa, Nabi Muhammad, Thomas Alva Edison. Tetapi tokoh besar yang hanya diasuh oleh seorang ayah, kita akan agak lama berpikir menyebutkannya. Oleh karena itu, mendidik satu ibu sama dengan mendidik satu generasi.

Kemudian waktunya Pak Dodik bercerita, beliau hanya mengucapkan ada pertanyaan? Hehe.. kemudian sesi tanya jawab pun dimulai. Ada yang bertanya bagaimana cara menurunkan ego suami? Pak Dodik menjawab, tidak perlu diturunkan. Jika ada yang tidak sreg dengan suami, bicarakan, dan buat kesepakatan bersama. Tidak perlu mengubah orang lain, ubahlah diri sendiri terlebih dahulu.

Lalu ada mantra-mantra IIP:
1. 4E (Enjoy, Easy, Excellent, dan Earn), untuk membangun passion dan keahlian, baik untuk anak maupun diri sendiri.
2. Tips membangun keluarga: main bareng, ngobrol bareng, aktivitas bareng.

Ada juga yang bertanya tentang kuliah Bunsay, dimana anaknya tidak mau difoto. Bu Septi menjawab agar berkomunikasi terlebih dahulu kepada anak agar saat anak beraktivitas, Bunda izin memfoto. Lalu sepakati juga waktu gadget atau saat Bunda mengerjakan tugas tersebut, dengan anak dan suami. Kelas Bunda Sayang adalah sarana dimana mempraktikkan ilmu yang didapat, tidak sekedar membaca dan kemudian kebingungan menerapkannya. Atau istilahnya badai/tsunami informasi parenting.

Hadir juga Mba Enes lho.. Putri pertama dari Bu Septi dan Pak Dodik ini cantik dan murah senyum sekali. Awalnya hanya dihubungi lewat telepon oleh panitia, ala-ala surprise di TV, eh ternyata hadir juga di acara. Kemudian mba Enes juga sharing dan menjawab pertanyaan. Salah satunya pertanyaan: apa yang diingat mba Enes tentang pola asuh Ibu & Bapak? Mba Enes menjawab tentang "bola tenis". Saat sekitar usia SD kelas 1 atau 2, mba Enes menangis. Kemudian bapak datang membawa bola tenis dan memantulkannya di lantai. Lalu Bapak bertanya: bagaimana bila bola tenis ini dilemparkan ke bantal? Mba Enes menjawab: tidak akan memantul.. Lalu Bapak bilang: itulah mengapa Bapak tidak memberikan kemudahan dan yang enak-enak untuk Enes, agar Enes dapat memantul seperti bola tenis. Mba Enes juga ingat bahwa Bapak dan Ibu selalu satu suara. Tidak ada misalnya oleh Ibu tidak boleh, lalu oleh Bapak boleh, ataupun sebaliknya.

Me and Mba Enes

Fyuuuh.. panjang juga ya. Sebelum ke kesimpulan, MC bagi-bagi doorprize. Banyak banget doorprize-nya. Mantab! Kemudian tiba pada kesimpulan dari Pak Dodik dan Ibu Septi. Dari Pak Dodik: perubahan dunia semakin cepat, anak harus dipersiapkan agar adaptif dan tidak gagap akan perubahan. Kuatkan di dalam keluarga agar terbiasa dengan perubahan, baru dapat berkarya keluar. Dari Bu Septi: Coba sebutkan pekerjaan yang 5-10 tahun lalu tidak ada, kini ada? Oleh karena itu pendidikan pun layaknya berubah. 

Education 1.0: I know, you don't know, I teach you 
Education 2.0: I know, you know, let's discuss
Education 3.0: You know better, let me hear

Acara pun dilanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada Bapak, Ibu, dan Mba Enes dari rumbel dan sponsor. Lanjut doorprize dan kuis. Lalu pengumuman untuk mengumpulkan bendera di setiap stand yang dikunjungi. Peserta dengan jumlah bendera terbanyak akan mendapatkan hadiah. Kemudian peserta bebas istirahat, sholat, dan makan siang. Sesi terakhir berfoto bersama pengurus, panitia, Bu Septi, Pak Dodik, dan mba Enes tentunya.

Yang ini bersama Mba Saroh (Banten), Mba Finny (Bogor), Uni Eci, dan Mba Efi (Jakarta)

Thursday, January 18, 2018

Kelas Menulis bersama Fahd Pahdepie di Ruang Tengah

Hwah.. ini sebuah "lembaran baru". Setelah menjadi ibu, ikut kelas menulis malam-malam. Meninggalkan anak-anak bersama neneknya dan papinya. Lalu setelah sampai, pesertanya anak muda semua. Hiks.. Dan kemudian berasa tua hahaha.. Untungnya tidak jadi membawa anak-anak, karena luas tempat terbatas dan peserta yang datang cukup banyak.

Cukup untuk curhatnya hehehe.. Berikut saya ceritakan tentang kelasnya. Tema pertemuan pertama kali ini adalah tentang ide. Apa itu ide? Menurut KBBI, ide adalah rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan ;cita-cita. Mengapa pembahasan pertama adalah tentang ide? Karena ide-lah yang diperlukan para penulis di awal penulisan. Ide dapat dikaitkan dengan tujuan menulis. Untuk apa menulis? Tulisan apa yang akan dibuat? Fiksi atau non-fiksi? Cerita atau non-cerita?

Ide juga terkait konsep. Misal mau menulis tentang ibu. Konsep "ibu" ini adalah penamaan untuk mempermudah panggilan terhadap orang yang melahirkan atau merawat kita. Jika tidak ada kata "ibu", tentu perlu penjelasan yang panjang jika kita ingin menceritakan ide menulis tentang ibu kita.

Sesi tanya jawab
1. Pernah membaca artikel, bahwa seorang penulis itu harus "selesai" dengan dirinya sendiri. Nah itu bagaimana, apakah dengan menulis artinya tidak boleh punya masalah?

Jawab: Seorang penulis adalah manusia juga. Setiap manusia pasti memiliki problematika kehidupan. Maksudnya "selesai" adalah, ketika ada masalah, seorang penulis dapat menyelesaikan masalahnya dan tetap berbagi dengan cara menulis. Seorang penulis juga harus mengapresiasi tulisan orang lain, dengan cara membaca hasil karya orang lain, bukan hanya ingin tulisannya dibaca dan diapresiasi.

2. Saya ingin membuat love story yang ber-setting di zaman sejarah (Romusha). Bagaimana tahapan menulisnya?

Jawab: Tentukan tujuan menulis. Mau dititikberatkan dimana? (Penanya menjawab di zaman sejarah). Berarti harus riset tentang zaman sejarah (Romusha) dulu, agar cerita yang dibuat sesuai dengan zamannya. Lalu baru kembangkan love story-nya.

"5 Mengapa" (Dari Socrates)
Seorang peserta maju dan diberi pertanyaan:
1. Mengapa datang ke sini? Karena mau belajar menulis
2. Mengapa mau belajar menulis? Supaya bisa jadi penulis
3. Mengapa mau menjadi penulis? Karena suka menulis
4. Mengapa suka menulis? Untuk menghilangkan stress
5. Mengapa mau menghilangkan stress? Agar bahagia

Dari pertanyaan "5 Mengapa", dapat diketahui tujuan sebenarnya mengapa datang ke kelas ini? Yaitu agar bahagia. Coba tanyakan 5 mengapa ini kepada diri anda sendiri ketika ingin menulis suatu ide. Maka jawaban terakhir sejatinya adalah jawabannya.

Empat kemampuan yang harus dimiliki seorang penulis
1. Kemampuan mendengar
2. Kemampuan membaca 
3. Kemampuan berbicara (berkomunikasi)
4. Kemampuan menulis

Keempatnya diperlukan seorang penulis, tidak hanya kemampuan menulis saja. Seorang penulis harus bisa mendengar orang lain, sebagai kemampuan awal agar dapat berbicara dan berkomunikasi. Seorang penulis juga harus rajin membaca, agar dapat menulis dengan baik. Jangan lupa untuk praktik. Tidak mungkin Anda lihai membaca hanya dengan punya buku "Cara Cepat Membaca", jika Anda tidak pernah membaca atau punya buku selain buku tersebut. Demikian pula dengan menulis, kuncinya adalah berlatih.

Cara men-develop ide menjadi sebuah tulisan (dari Mark Levi)
1. Brainstorming: dapat dilakukan dengan mengobrol, menonton film, mendengarkan curhatan orang lain, jalan-jalan, mendengarkan radio, dll. Brainstorming yang simpel adalah menuliskan kata-kata yang berhubungan atau tidak berhubungan langsung dengan ide yang kita miliki
2. Clustering: memutuskan kata-kata mana yang dipakai atau tidak dipakai dari hasil brainstorming di atas
3. Jotting: menulis kasar. Tulis semua hasil brainstorming dan clustering  dengan kasar. Yang perlu diingat adalah tulisan yang kita buat tidak harus langsung bagus. Oleh karena itu diperlukan proses selanjutnya, yaitu:
4. Editing, dan
5. Re-writing

Sekian reportase saya dari kelas menulis pertama bersama Fahd Pahdepie di Cafe Ruang Tengah, Ciputat. Semoga dapat mentransfer sesuai yang disampaikan oleh Mas Fahd hehe.. Berikut fotonya, numpang eksis dulu yaa :)

Ibu-ibu sendiri

Wednesday, January 10, 2018

Cerita Lembaran Baru Menjadi Pengurus IIP Tangsel

Tulisan ini dimaksudkan sebagai penggugah teman-teman member IIP Tangsel agar mau menjadi bagian dari kepengurusan IIP Tangsel :) Tulisannya curhat lagi hehehe.. Memang yang paling mudah adalah bercerita tentang pengalaman pribadi yaa..

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Awal posisi yang saya ambil di IIP adalah koordinator mingguan ke-5 di Matrikulasi Batch 3 Tangsel. Bila mengingat saat itu, lucu deh. Saya sempat mau mengundurkan diri dari posisi tersebut. Sudah menyampaikannya juga kepada mba Adit yang kala itu adalah fasil saya, dan mba Ika sebagai ketua kelas. Alasannya karena "takut ga kepegang". Tapi koq ya seperti ada yg memanggil "ayo lanjutkan..". Jadinya tidak jadi mengundurkan diri deh..  Akhirnya kembali menyampaikan ke mba Adit dan mba Ika, saya lanjut menjadi korming 5.

Setelah rampung bertugas menjadi korming, koq malah penasaran coba lagi posisi lain ya. Waktu itu dibuka pendaftaran panitia JJS. Akhirnya daftar sebagai sie acara. Padahal ya, semenjak menjadi ibu-ibu tidak punya pengalaman kepanitiaan sebelumnya. Tapi ya dijalani saja.. yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak kenal menjadi kenal. Tadinya tidak tahu bagaimana caranya bisa pergi-pergi dengan 2 anak, akhirnya menjadi tahu dan sekarang jadinya kemana-mana terus haha.. Yang tadinya tidak bisa buat google form beserta file responnya, jadi bisa dengan belajar autodidak lewat google. Yang tadinya tidak kenal dekat dengan ibu-ibu IIP, jadi punya teman dan sahabat baru alhamdulilah..

Lalu dr kepanitiaan JJS, saya memberanikan diri apply kepengurusan. Jadi offline manager, tapi diterimanya menjadi ketua kejar berkebun. Terus semakin banyak belajar. Tahu bagaimana menyusun proker, tau bagaimana berorganisasi, diajarkan juga public speaking oleh mba Ikhe. Dan semuanya itu didapatkan dengan gratis tis tis! Padahal ya saya itu waktu kuliah kuper, organisasi cuma berani jadi anggota, berbicara dengan orang lain jarang sekali haha.. Alhamdullilah di IIP seperti menemukan diri saya yg lain wkwkwk..

Lalu ketika dibuka rekrutment sekretaris, ingat mba Nani dan mba Ika bilang saya cocok di posisi tersebut. Tadinya sudah tidak mau melamar karena masih menjadi ketua kejar berkebun. Tetapi akhirnya apply juga 😂 Dan di sinilah saya sekarang menjadi sekretaris yang cemilannya data, gform, spreadsheet, dan bit.ly 🤣

Jadi pengurus itu bagi saya membahagiakan karena punya sahabat-sahabat baru 😘 Jangan takut, kepengurusan IIP Tangsel adalah 1 tim, kita saling back up dan membantu 🤝🏻 We are not alone dear ❤

Wednesday, January 3, 2018

Passion Menulis, Menulis Passion

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada IIP. Karena bergabung dengan komunitas inilah saya menemukan passion saya, terus bersemangat menjalani keseharian sebagai seorang ibu, terus belajar dan melakukan hal yang bermanfaat baik untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Penemuan passion.. sesuatu yang membuat saya menjalani hidup dengan lebih bahagia. Alhamdulillah.. terima kasih IIP dan Ibu Septi :)

Dari passion berlanjut ke mimpi-mimpi yang insya Allah ingin diwujudkan di tahun 2018 ini. Sebuah lembaran baru, menjadi changemaker, dimulai dari langkah-langkah kecil dengan tujuan besar. Apakah mimpi yang ingin dicapai, perubahan apa yang ingin dilakukan, passion apa yang akan digeluti? Ini dia:

amotheranengineer.blogspot.co.id
Yup, blog inilah yang saya pilih sebagai sarana penyaluran passion menulis saya. Mulai menulis di blog ini ketika anak pertama saya ulang tahun yang ke-1. Pada awalnya banyak menulis tentang diri sendiri, keluarga, travelling, lalu tentang pekerjaan juga yang kala itu berkarir sebagai seorang engineer. Setelah menjadi ibu rumah tangga, mulai mem-posting tentang masakan dan aktivitas bersama anak. Sempat hiatus juga blog-nya, sampai akhirnya mengikuti kelas Bunda Sayang di IIP dan menulis Tantangan 10 Hari-nya di sini. Sekarang isi blog-nya malah IIP semua hehe.. Setor tugas kelas Matrikulasi Koordinator Tambahan, Training for Fasilitator Matrikulasi Batch 5, sampai terakhir ikut Kejar (Kelas Belajar) Menulis IIP Tangsel pun semuanya ditulis di sini.

Karena di IIP seperti 'dipaksakan' untuk selalu menulis, lama-lama jadi teringat juga dengan kegiatan yang sebenarnya sudah saya sukai sejak SMP ini. Dulu suka membuat cerita pendek, lalu di sekolah sangat senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia, suka juga dengan quotes-quotes berbahasa Inggris yang singkat kalimatnya tetapi dalam maknanya.

Menulis adalah kegiatan yang saya nikmati (Enjoy), seringkali dapat mengalir begitu saja (Easy), beberapa kali dinilai bagus oleh teman dan pembaca, alhamdulillah (Excellent), dan menghasilkan, misalnya digunakan sebagai artikel harian di grup member IIP Tangsel dan menjadi salah satu Journal Owlet di kelas Bunsay Leader (Earn). Hal ini menjadi pemicu saya agar merutinkan menulis lagi di blog, di luar materi IIP.

Apa saja yang rencananya akan saya tulis di blog? Passion-passion saya yang lain selain menulis, yaitu:

  1. Pendidikan Anak (Usia Dini): aktivitas-aktivitas bersama anak-anak baik yang dilakukan di rumah setiap hari, di alam, tentang buku anak, kunjungan ke tempat-tempat wisata anak, dll.
  2. Memasak simpel: Resep masakan sehari-hari di rumah dengan konten pendukung lainnya seperti lama memasak, harga bahan, porsi, review-review produk, dsb.
  3. Buku dan literasi: gerakan membaca #OneMonthOneBook, kunjungan ke perpustakaan-perpustakaan, mengadakan peminjaman buku secara online dan gratis.
  4. Event organizer: menuliskan tentang kegiatan-kegiatan komunitas yang saya ikuti selain IIP, yaitu @itbmh_jaktangsel, dimana saya berperan sebagai playdate arranger, dan dilakukan insya Allah minimal 1 kali per bulan.
Rencana jadwal penulisan di blog (selain Tantangan 10 Hari kelas Bunsay):
  1. Senin: Pendidikan Anak (Usia Dini) selama 1 minggu sebelumnya, dapat dijumpai pada label Kegiatan Neta Nara.
  2. Rabu: One Week One Post Kejar Menulis IIP Tangsel (sesuai tema), dapat dijumpai pada label One Week One Post (OWOP).
  3. Jumat: Memasak simpel (menu Senin-Jumat), dapat dijumpai pada label #noweveryonecancook.
  4. Sabtu: 
    • Jurnal belajar kelas Bunsay Leader, dapat ditemui pada label Kelas Bunsay Leader
    • #OneMonthOneBook, dapat ditemui pada label #OneMonthOneBook
    • Kegiatan @itbmh_jaktangsel, dapat ditemui pada label @itbmh_jaktangsel
Semoga dapat konsisten menulis dan tulisannya bermanfaat bagi pembaca. Aamiin!

#changemakerfamily
#IbuProfesional6th

------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini dimaksudkan sebagai mulainya penulis mengikuti tantangan "Changemaker Family" yang diselenggarakan oleh IIP dalam rangka ulang tahunnya yang ke-6. Juga untuk menyetor tulisan One Week One Post (OWOP) Kejar Menulis IIP Tangsel dengan tema "Lembaran Baru".