Showing posts with label Tema Wanita. Show all posts
Showing posts with label Tema Wanita. Show all posts

Thursday, March 14, 2019

Menuju Ibu yang Tuntas Amanah

Setiap istri atau ibu adalah ibu rumah tangga, yang tugasnya adalah taat kepada suami, menjaga harta suami/rumah, menjaga kehormatan diri, dan bersama suami menjaga amanah, yaitu anak-anak. Selain tugas-tugas tersebut, seorang istri/ibu memiliki waktu yang biasanya digunakan untuk bekerja, berorganisasi, berdakwah, berbisnis, dan sebagainya. 

Menurut data BPS, pada tahun 2017 terdapat 38,63% wanita yang bekerja sebagai tenaga kerja formal. Angka ini menunjukkan peningkatan dari 2 tahun sebelumnya, yaitu 37,78% di tahun 2015 dan 38,16% di tahun 2016. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak wanita yang memutuskan untuk mengambil peran di luar rumah.

Wanita diperbolehkan keluar rumah, tapi tugas utamanya di rumah. Contoh wanita bekerja di zaman Rasulullah adalah: 
1. Siti Khadijah, seorang pebisnis terhebat di zamannya.
2. Aisyah RA, seorang edukator, pendidik umat di bidang ilmu fiqih, pengobatan, dan syair.
3. Ummu Salamah, seorang tabib dan advokat, serta pendamping Rasulullah SAW dalam peperangan Fath, Thaif, dll.

Sebenarnya apa tugas/amanah manusia yang utama? Jawabannya adalah beribadah, sesuai Al-Quran surat Adz-Zariyat ayat 56: "Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku".

Menjadi wanita yang aktif tidaklah salah, asalkan tuntas amanah utama, menjadi ibu yang bahagia, dan berimbang dalam menjalani setiap peran. Jika tidak tuntas amanah, tidak bahagia, dan tidak berimbang, seorang ibu dikhawatirkan stres dan dapat berdampak melakukan kekerasan (baik kekerasan fisik maupun emosional), yang biasanya dilakukan kepada anak.

Lalu bagaimana caranya agar menjadi wanita, istri, dan ibu yang tuntas amanah?

1. Akidah kokoh: menyertakan Allah dalam setiap aktivitas keseharian. Me-refresh niat setiap harinya. Selalu berdoa, bersyukur, sabar, dan ikhlas hanya mengharapkan rida Allah SWT. Tidak mengeluh dan tidak perhitungan karena Allah-lah yang memperhitungkan amal kita setiap harinya sebagai ibu.

2. Ilmu yang mumpuni: tidak pernah berhenti belajar untuk menjadi ibu yang baik, mengetahui prioritas di rumah, dan belajar bagaimana cara mendidik anak. Berikut adalah tahapan usia mendidik anak ala Rasulullah SAW:
  • 0-6 tahun: fase pelekatan/bonding
  • 7-14 tahun: fase pendisiplinan dengan kasih sayang
  •  >15 tahun: fase kepercayaan
3. Visioner: melihat ke depan, merencanakan masa depan sesuai tujuan (misi dan visi) keluarga. Misalnya mengenai pendidikan anak, rumah, ekonomi, tabungan, wisata, dan sebagainya.

4. Solutif: pandai mengelola emosi. Mengetahui bahwa pemicu amarah adalah setan. Upayakan kondisi hati selalu dekat kepada Allah dengan cara beribadah seperti salat, puasa, zikir, tilawah. Bila marah dapat membaca taawudz, diam sejenak, mengubah posisi menjadi lebih rendah (berdiri ke duduk, duduk ke rebahan), beristighfar, berwudhu, mandi, atau salat.

5. Manajemen waktu: coret kegiatan yang tidak perlu, pahami bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban atas waktu kita selama di dunia. Konsep manajemen waktu:
  • Lakukan terserah asalkan kegiatan bermanfaat dan Allah rida
  • Atur prioritas (mendesak-tidak mendesak, penting-tidak penting)
  • Catat prioritas dan lakukan
  • Jadikan life style
  • Gunakan tools seperti agenda, alarm, aplikasi
6. Berimbang: alokasikan waktu untuk me time seperti olahraga atau mengerjakan yang disukai. Yang perlu digarisbawahi adalah durasi me time-nya tertakar.

Insya Allah, jika melakukan keenam hal di atas dengan sungguh-sungguh, kita dapat berproses menjadi istri dan ibu yang tuntas amanah dan bahagia. Aamiin :)

Sumber:
1. Materi presentasi & talkshow TransforMOM oleh Ummu Balqis di Wisuda Batch 6 Ibu Profesional Jakarta, 20 Januari 2019 di Kampus Bisnis Umar Usman
2. Resume Talkshow TransforMOM oleh Panitia WOKE 2019

Wednesday, April 11, 2018

5 Tips Cara Memaafkan Orang Lain

Sebagai seorang wanita tak jarang kita tersandung masalah dengan orang lain. Akibat sekedar lisan yang menyakiti hati atau sampai perbuatan yang terkadang sampai sekarang membuat saya bertanya-tanya mengapa orang lain berbuat seperti itu. Alhamdulillah di perkuliahan IIP, materi pertama kelas bunsay adalah mengenai komunikasi produktif, dimana cara seseorang berucap atau berbuat sesuatu tergantung pada FoE (Frame of Experience) dan FoR (Frame of Reference) masing-masing. Pengetahuan ini sedikit banyak menyadarkan saya tentang gesekan-gesekan yang mungkin terjadi dengan orang lain semasa kita hidup. Adapun hidup terus berlanjut, tak jarang pula orang yang pernah bermasalah dengan kita adalah orang yang akan kita temui sampai akhir hayat. Sehingga mau tak mau kita tak bisa menghindar, harus menghadapinya. Apa saja sih sebaiknya yang harus dilakukan seorang wanita agar bisa memaafkan dan kembali menjalin hubungan positif dengan orang yang pernah memiliki masalah dengan kita? Berikut tips-tipsnya:

1. Forgive and forget

Yang pertama harus dilakukan untuk memaafkan orang lain adalah ya memaafkan. Memang awalnya sulit. Tetapi kita ingat-ingat kembali, manusia memang tidak luput dari kesalahan. Kita pun tentunya memiliki kesalahan, hal ini bisa menjadi awal penyadaran untuk memaafkan orang lain. Mau orang lain yang kita anggap memiliki kesalahan tersebut meminta maaf pada kita atau tidak, memaafkan sebenarnya adalah untuk kesehatan batin kita. Maka maafkanlah orang tersebut dan kemudian lupakan kesalahannya. Kita bisa bilang pada diri kita sendiri: "Mulai dari 0, ya.". :)

2. Selalu ada hikmah atau maksud dari Allah

Kehadiran seseorang dalam hidup kita bisa menjadi suatu kebahagiaan atau kepahitan. Tetapi Allah selalu memberi hikmah atau maksud dibalik setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Bisa saja orang yang bermasalah dengan kita dihadirkan agar kita belajar bersabar. Terdengar klise ya? Tapi memang benar, mungkin sebelumnya kita belum menjadi orang yang sabar, sampai Allah menguji kesabaran kita lewat orang tersebut. Apakah kita lulus ujian atau tidak? Hanya kita sendiri yang mengetahui jawabannya. 

3. Stop playing victim

Yup, berhenti merasa menjadi korban. Jika ada orang yang berkata menyakitkan hati kita, kita sendirilah yang mengizinkan kata-kata orang tersebut untuk menyakiti hati kita. Padahal bisa saja kita hanya mendengar sambil lalu, menganggapnya tidak penting, dan kemudian hidup kita jauh lebih tenang karena tidak memikirkan apa yang orang lain katakan.

4. Berbuat baik kepadanya

Wah ini.. Hal tersulit yang pernah saya lakukan untuk orang yang pernah bermasalah dengan saya. Waktu mau melakukannya pun sampai termenung, untuk apa saya melakukannya? Kenapa harus dia yang saya baik-baikin? Manusiawi sekali sih ya.. Tapi coba deh.. Seperti tips-tips sebelumnya yang apabila belum dilakukan terasa berat untuk dilakukan, tetapi ketika saya selesai melakukannya, ada perasaaan relieve di dalam hati. Seperti berhasil menunjukkan kualitas pribadi kita. Orang lain boleh berbuat tidak baik kepada kita, tetapi kita akan tetap berperilaku baik kepada siapa pun. Sounds like an angel ya? :D

5. Just smile! Tujukan perhatian kepada keluarga dan hal-hal yang positif

Bener banget! Hanya dengan tersenyum, masalah-masalah yang dihadapi seperti jauh lebih ringan. Setelah itu, fokuskan diri saja untuk keluarga: anak-anak dan suami. Ingat dan lakukan hal-hal yang positif sehingga perlakuan atau kata-kata negatif dari orang lain pun terlupakan. Masih banyak yang bisa kita lakukan, daripada sekedar mengingat-ingat kesalahan orang lain kepada kita.

Bener-bener self reminder sih menulis artikel ini. Doakan saya konsisten dengan apa yang saya tulis ya hihihi.. Para Mom juga boleh lho ikut mencoba tips-tipsnya dan jadilah wanita yang lebih bahagia! :)

Saturday, February 24, 2018

Tips untuk Konsisten Menulis

Sebagai wanita, cukup erat kaitannya dengan dunia menulis. Sejak kecil, seorang perempuan cenderung lebih senang menulis di diary daripada laki-laki. Apalagi di era digital sekarang ini, sudah banyak sarana menulis seperti platform blog, status Facebook, cuitan Twitter, caption Instagram, dan sebagainya.

Selain untuk menuliskan curahan hati, menulis dapat bertujuan untuk mengikat ilmu untuk diri sendiri serta membagikan pengalaman/ilmu kepada orang lain. Menulis juga dapat menghasilkan pendapatan tambahan, bahkan menjadi pekerjaan yang cukup menjanjikan. Lalu bagaimana agar bisa menjadi seorang penulis? Banyak-banyaklah menulis dan terus konsisten menulis.

Berikut tips-tips agar bisa konsisten menulis:

1. Tentukan jadwal menulis dan apa temanya

Buat jadwal menulis dan temanya, bisa dimulai dengan tema yang kita sukai. Misal hari Senin tentang pendidikan anak usia dini, Rabu sesuai tema kelas belajar menulis yang diikuti, dan Jumat tentang resep masakan. Bisa juga per bulan, misalnya tema kegiatan komunitas, review buku yang telah dibaca, dan sebagainya. Jadwal menulis dan tema ini penting sebagai panduan sehingga kita mengetahui akan menulis apa setiap waktunya. Jika ada jadwal yang terlewat, jangan khawatir. Tetap menulis. Bisa dilakukan esok harinya atau saat ada waktu luang untuk menulis, misal saat weekend.

2. Siapkan waktu tertentu untuk menulis

Setelah menentukan jadwal dan tema menulis, tentukan juga waktu tertentu untuk menulis. Misal pagi sebelum shubuh, atau saat anak-anak tidur siang, atau saat malam hari ketika anak-anak dan suami sudah tidur. Dengan menentukan waktu menulis, dipastikan ada slot waktu yang digunakan untuk kegiatan ini, bukan hanya mengandalkan sisa-sisa waktu dari rutinitas harian.

3. Tuliskan ide menulis dan point-point yang terpikirkan

Terkadang ide menulis muncul begitu saja, saat melakukan aktivitas sehari-hari. Bila sudah menemukan ide, langsung tulis ide tersebut. Bisa di buku atau handphone. Bila sudah terpikirkan point-point yang mau dijabarkan dari ide tersebut, tulis juga. Ini dapat menjadi kerangka, sebelum lebih lanjut ditulis secara lengkap menjadi sebuah tulisan yang utuh.

4. Jangan terlalu memikirkan apakah tulisan yang dihasilkan akan bagus atau tidak

Mengenai hasil tulisan, kita berusaha sebaik-baiknya agar tulisan enak dibaca, dapat dimengerti pembaca, mengandung informasi bermanfaat, dan sesuai kaidah penulisan. Tapi untuk hasil apakah akan dibaca banyak orang atau apakah akan disukai banyak orang sebaiknya dikesampingkan terlebih dahulu. Yang terpenting menulis terus. Dengan terus menulis, lama-kelamaan akan mengetahui mana jenis tulisan yang bagus atau tidak dan mana yang banyak dikunjungi pembaca. Tetapi saya sendiri memang tidak terlalu menghiraukan hal-hal tersebut. Karena saya memang suka menulis dan seringnya baru menulis untuk diri sendiri (sebagai jurnal belajar dan menumpahkan keruwetan di otak hehehe..).

Bagaimana teman-teman? Tertantang untuk konsisten menulis? :D