Showing posts with label Fasilitator Matrikulasi Batch 5. Show all posts
Showing posts with label Fasilitator Matrikulasi Batch 5. Show all posts

Saturday, March 31, 2018

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 9)


Pertemuan 9 diselenggarakan di rumah saya sendiri hehehe.. Mulai sibuk menyiapkan segala sesuatunya karena akan didatangi tamu-tamu spesial. :D Belajar menjadi tuan rumah yang baik setelah sebelum-sebelumnya melihat bagaimana teman-teman yang menjadi tuan rumah begitu loyal dan memuliakan tamu. Masya Allah.. Alhamdulillah.. Benar-benar banyak belajar hal di matrikulasi offline ini.

Teknik fasilitasi masih sama dengan pertemuan 7 dan 8. Saat review per 2 orang mengalirkan rasanya setelah mengerjakan NHW#8. Dan saat materi dibagi 4 kelompok untuk presentasi hasil diskusi mengenai Bunda sebagai Agen Perubahan. Kali ini penentuan kelompoknya belajar pakai randomizer hehe.. Belajar hal baru lainnya. :D

Yang spesial dari pertemuan kali ini, tentunya adalah makanan-makanannya hihihi.. Eh, sama ada pembagian hadiah untuk para bumil yang mendekati HPL plus buat fasil juga. Eaaa.. alhamdulillah.. :))) Terima kasih mba-mbaku sayang. <3

Ini dia dokumentasinya:

 Wefie dulu kita

Batch limaaa

 Amunisi

 Kado untuk Mba Nia

 Kado untuk Mba Rima

Ngapain sih Jeng

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 8)


Pertemuan ke-8 diadakan di rumah salah satu peserta yang baru saja melahirkan, yaitu Mba Shela. Masya Allah semangatnya Mba Shela.. Meskipun baru melahirkan anak kedua secara caesar, yang tentunya masih dalam masa pemulihan, bersedia menjadikan rumah orang tuanya sebagai tempat belajar dan menyediakan berbagai cemilan dan makan siang. Semoga berkah dan tidak menghambat pemulihan ya, Mba.

Kali ini masih sama tata cara fasilitasinya seperti minggu kemarin. Saat review, peserta dibagi kelompok yang berisi 2 orang untuk saling mengalirkan rasa setelah mengerjakan NHW#7. Waktu 10 menit yang diberikan sepertinya tidak cukup ya untuk para ibu bercerita hehehe.. Sebagai fasil saya juga harus belajar cut off time dengan baik nih.. Karena saya pada dasarnya orangnya ga enakan, jadi kalau mau memotong pembicaraan orang lain agak sungkan begitu. Tapi pembelajaran harus berlanjut jadi mau tidak mau harus menghentikannya. 

DI NHW#7 ini yang spesial adalah semua peserta mengerjakan tepat waktu yeayyy.. Pada semangat mengenal diri yaa..

Lanjut ke materi 8 tentang Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas, peserta dibagi menjadi 4 kelompok lagi dan masing-masing menjelaskan hasil diskusi mereka. Wah ternyata ada yang membacakan materi 8 plek plek plek sama seperti materi dari pusat. Memang sudah banyak beredar sih ya di blog-blog tentang materi matrikulasi IIP. Tapi tidak apa, ada penambahan dari kelompok lain plus update materi batch 5. Sebagai fasil pun hanya menambahkan sedikit saja tentang aspek be, do, have dan kemudian dihubungkan dengan NHW#8.

Alhamdulillah.. pertemuan ke-8 pun selesai, ditutup dengan sesi makan siang nasi soto ayam buatan ibu Mba Shela. Terima kasih Mba Shela dan Ibunda, serta teman-teman matrikulasi juga yang masih bersemangat mengikuti sampai akhir. Berikut dokumentasinya:









Sunday, March 11, 2018

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 7)


Pertemuan ke-7 kali ini diselenggarakan di rumah salah satu peserta, yaitu rumah Mba Uta. Proses fasilitasi pun saya ubah sedikit dari pertemuan-pertemuan sebelumnya, dimana para peserta yang lebih aktif dalam proses pembelajaran daripada fasilnya hehe.. Saat review, saya meminta setiap peserta mengalirkan rasa dengan 1 teman sebelahnya, tentang apa yang didapatkan setelah mengerjakan NHW#6. Kemudian salah satu perwakilan atau boleh keduanya menyampaikan kepada forum hasil aliran rasa mereka. Dengan begini, setiap peserta bisa aktif mengungkapkan pendapat atau aliran rasanya.

NHW#6 kemarin, peserta diminta menuliskan 3 aktivitas penting dan 3 aktivitas tidak penting beserta jadwal harian. Aliran rasa tiap peserta, yaitu:
- Banyak waktu terbuang untuk gawai, media sosial, berselancar di dunia maya atau menonton film dan drama korea
- Kegiatan yang dilakukan masih belum sesuai jadwal
- Tidak seimbangnya porsi waktu antara bisnis dan keluarga (untuk para mompreneur)
- Ada juga yang merasa waktu habis untuk suami dan anak-anak, untuk diri sendiri hanya sisa-sisa waktu saja
- Belajar untuk tidak menunda pekerjaan
- Jadi mengetahui waktu efektif untuk fokus mengerjakan suatu kegiatan

Pada akhirnya, memang tanggung jawab masing-masing peserta untuk dapat mengelola waktu sebaik-baiknya, agar waktu tidak terbuang dengan sia-sia.

Setelah itu berlanjut ke materi 7, "Rejeki itu Pasti, Kemuliaan yang Dicari". Beberapa hari sebelumnya, saya membagi peserta menjadi 4 kelompok untuk membahas maksud dari judul materi 7 tersebut. Kemudian saat pertemuan, masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Berikut hasil diskusi yang disampaikan tiap kelompok:

Kelompok 3
- Rezeki itu sudah pasti diberikan oleh Allah, bahkan sejak dalam kandungan sudah diberi rezeki
- Sebagai manusia harus yakin, taat, dan bersyukur kepada Allah
- Kemuliaan wanita ada di rumah. Tapi tidak untuk semua wanita, misalnya single parents yang harus bekerja menafkahi anak-anak
- Di dunia ini kita hanya perlu DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakkal)

Kelompok 2
- Ikhtiar adalah usaha manusia dengan sungguh-sungguh, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, bersyukur kepada-Nya, dan bermanfaat untuk orang lain
- Rezeki adalah dari Allah, bukan dari pekerjaan
- Bersungguh-sungguh menjadi ibu profesional: mengajak dan mendekatkan keluarga kepada Allah agar menjadi keluarga mulia

Kelompok 4
- Rezeki tidak perlu dikhawatirkan, karena sudah ditakdirkan
- Rezeki harus dicari dengan cara yang halal dan thayyib, hanya dengan mentauhidkan Allah
- Tetapi tetap perlu berusaha
- Ranah domestik dan ranah publik harus selaras
- Manusia dimaksudkan untuk memenuhi tujuan hidup
- Rezeki tidak hanya berupa materi, bisa berupa kesehatan, anak-anak yang sholeh, serta iman dan hidayah Islam

Kelompok 1
- Mulia tidak harus bersifat fisik, melainkan hati yang harus mulia
- Bahkan Ali bin Abu Thalib RA hanya bekerja sebagai penimba air yang upahnya sebuah kurma per hari tetapi Ali dan istrinya Fatimah tetap bersyukur kepada Allah atas rezeki yang didapat
- Pengalaman salah seorang peserta yang resign dari pekerjaan, menjadi lebih bahagia karena mengurus anak-anak dengan tangan sendiri
- Tetapi tidak boleh hanya ibadah saja, tetap harus bekerja
- Kemuliaan adalah dari apa yang kita lakukan, bukan hasil pemberian orang lain

Wah ternyata sudah hampir semua pemaparan para peserta sejalan dengan materi yang disampaikan dari pusat. Saya hanya tinggal menambahkan sedikit saja. Senangnya bisa memfasilitasi teman-teman untuk dapat menggali informasi dan belajar sendiri serta berbagi kepada yang lain. Tidak hanya mendengarkan saya hehehe.. Minggu depan insya Allah pertemuan akan seperti ini lagi. Yeayyy.. Semangaaat tinggal 2 pertemuan lagi! :)

Dokumentasi pertemuan 7:

Terima kasih Mba Uta atas tempat dan sajiannya :)

Friday, March 9, 2018

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 6)


Pertemuan minggu ke-6 dilaksanakan di Taman Bintaro XChange. Cuaca sangat mendukung, tidak panas, dan sejuk. Kami menghamparkan karpet piknik dan duduk membentuk lingkaran. Anak-anak bisa bermain bebas di taman, ditemani para suami atau pendamping.

Sejauh ini, pertemuan 6 ini lah yang terasa paling kondusif saat penyampaian materi. Posisi duduk melingkar membuat diskusi menjadi hangat, tidak ada interupsi pesan makan dan makanan atau pelayan datang. Pikiran juga lebih segar karena sambil melihat yang hijau-hijau hehe.. 

Saat penyampaian review dan materi, peserta sudah bebas dan nyaman menyampaikan pertanyaan dan pendapat. Setiap ada teman yang bertanya, bukan hanya fasilitator yang menjawab, tetapi semuanya saling berbagi pengalaman dan pendapat.

Sebelum penyampaian NHW, diskusi menjadi seru membahas seputar manajemen keuangan dan bisnis. Karena ada salah satu peserta yang sudah cukup berpengalaman, bahkan sudah membuka kelas mentoring bisnis, beliau menjadi bercerita banyak seputar keuangan dalam menjalankan suatu usaha. Sampai akhirnya cuaca mendung dan gemericik gerimis menghentikan diskusi tersebut, NHW#6 pun disampaikan dengan cepat agar kami semua tidak kehujanan. Alhamdulillah bisa selesai sebelum hujan turun. :)

Berikut dokumentasi pertemuan ke-6:


Thursday, March 8, 2018

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 5)


Wah tidak terasa sudah separuh perjalanan pelayaran kelas matrikulasi offline ini. Tidak terasa ya.. Dimana awalnya merasa tidak akan bisa menemani teman-teman setiap minggunya, tetapi alhamdulillah ketika dijalani semuanya relatif lancar dan makin ke sini semakin ringan langkah menuju setiap jadwalnya. Tentunya izin dan dukungan dari suami dan anak-anak yang begitu pengertian, Maminya jadi bisa menjalankan amanah sebagai fasilitator offline.

Pertemuan ke-5 diselenggarakan di Art Flona BSD, sebuah restoran berkonsep alami dengan saung-saung, makanan murah meriah, dan cocok untuk wisata keluarga. Meskipun berkonsep alami, fasilitas-fasilitas untuk pertemuan/meeting-nya cukup lengkap, seperti bisa disediakan televisi, papan tulis, infocus, dan mic. Tempatnya juga luas, terdiri dari berbagai tipe saung, yang dapat digunakan keluarga kecil dan besar, hingga ada juga saung yang dapat menampung sampai 300 orang.

Saat menjelaskan review minggu ke-4 dan materi minggu ke-5 yaitu "Belajar Bagaimana Cara Belajar", saya memanfaatkan papan tulis yang ada untuk menjelaskan point-point penting yang ada di review dan materi. Wah, berasa seperti Ibu Guru betulan (hehehe..). Hanya saja, posisi kelas yang memanjang dan ada beberapa peserta yang disambi makan, penyampaian materi menjadi kurang kondusif. Ada juga masukan dari Mba Fitri (guardian yang sedang sempat hadir) supaya tidak memberikan fotokopi review dan materi agar peserta fokus mendengarkan penjelasan dan bisa membuat catatan dengan bahasanya sendiri.

Sampai sekarang, saya masih mencoba bagaimana formula yang pas agar materi dapat tersampaikan dengan jelas dan peserta ikut aktif dalam proses pembelajaran. Karena sebagai fasilitator seharusnya tidak 100% "menyuapi" peserta, melainkan membuat peserta belajar sendiri. Mba Adit sebagai observer pun memberi masukan agar tidak membacakan kata per kata yang ada di materi, cukup point-point pentingnya saja.

Saya berterima kasih sekali kepada Mba Adit dan Mba Fitri yang mau menyampaikan masukan-masukan agar saya bisa terus memperbaiki teknik fasilitasi saya. Banyak sekali yang saya dapatkan ketika menjadi fasilitator offline ini. Istilahnya "membeli" jam terbang. Belajar dengan terjun langsung dan memperbaiki diri setiap minggunya. Memang benar, pengalaman adalah guru terbaik ya.. Dengan menjadi fasilitator offline saat ini, mata saya pun terbuka, untuk tidak hanya aktif saat di grup WA saja. Proses belajar tatap muka, berkomunikasi langsung dengan para peserta dan mendapat feedback langsung dari mereka meninggalkan kesan yang mendalam. Jadi ingin berniat menjadi fasilitator Bunda Sayang kelas offline juga hehehe.. Aamiin, semoga tercapai niatan saya ini. :)

Berikut dokumentasi pertemuan ke-5:

Terima kasih teman-teman :*

Sunday, February 18, 2018

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 4)


Berakhir sudah ke-hectic-an acara milad IP Tangsel di hari Minggu kemarin. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Suami pun mau mengikuti acara seminarnya alhamdulillah, dan saya bertugas sebagai panitia di Kids Corner sambil mengasuh anak-anak sendiri. Ibu Septi dan Pak Dodik itu.. pemikirannya selalu out of the box. Seperti saat selesai acara, beliau-beliau menyarankan tidak ada yang namanya evaluasi panitia, yang ada adalah apresiasi. Masya Allah.. Begitu mulianya pemikiran Bapak dan Ibu. Seakan-akan mengerti bahwa kami panitia hanya ibu-ibu "biasa", sama seperti ibu-ibu lainnya yang terbatas waktunya dan sudah berusaha semaksimal mungkin, yang terbaik sebagai panitia, di tengah-tengah kesibukan sebagai istri, ibu, dan amanah yang lainnya.

Lho malah jadi bahas kepanitiaan. Hehehe.. Tidak apa ya. Setelah selesai kepanitiaan yang ini, sepertinya sangat plong dan insya Allah bisa lebih fokus menjalani amanah yang lain, salah satunya menjadi fasilitator matrikulasi offline ini.

Pertemuan keempat dilakukan di Kampung Dongeng, Jl. Musyawarah, Sawah Lama, Ciputat. Sebuah tempat yang sering dijadikan tempat aktivitas anak. Ada juga rumah bacanya dengan buku anak-anak yang cukup banyak. Di rumah baca inilah, kelas dilangsungkan. Pertemuan kali ini hari Jumat, dimana sedang ada libur tahun baru Imlek. Harapannya Sabtu dan Minggu besok bisa menjadi waktu keluarga. 

Pertemuan pun dimulai pukul 09.30 dengan agenda review materi 3. Waaah sudah banyak peserta yang berani mengungkapkan aliran rasanya. Memang ya NHW surat cinta itu meninggalkan kesan tersendiri bagi para peserta karena menghangatkan kembali hubungan dengan suami yang sudah mulai terasa "hambar" hehehe.. Mengenali potensi anak, diri sendiri, dan keluarga pun ternyata tidak mudah yaa.. Banyak peserta yang masih bingung dengan kelebihan diri sendiri. Perlu berpikir lama katanya. Padahal pasti banyak ya kelebihan kita, hanya saja sulit untuk menyadarinya.

Tantangan di lingkungan pun cukup beragam. Ada yang di lingkungan rumahnya terindikasi sepasang pasangan LGBT. Ada yang keponakan laki-lakinya berperilaku seperti anak perempuan. Ada yang merasa sulit melepaskah gadget dari anak. Ada pula yang anak-anak di lingkungan sekitar sering berkata kasar dan tidak pantas untuk anak seusianya. Banyak sekali ternyata tantangan-tantangan yang muncul di lingkungan. 

Yang saya rasakan ketika teman-teman bercerita tentang keadaan lingkungannya.. Jujur saja saya bingung memberikan jawaban, apalagi terkait LGBT dan fitrah seksualitas. Karena saya sendiri belum pernah menghadapinya langsung. Alhamdulillahnya teman-teman peserta saling sharing dan memberikan pendapat ataupun solusi. Duh, jadi merasa tambah tidak ada apa-apanya nih. Harus lebih rajin baca grup fasil sepertinya, supaya wawasan lebih luas dalam menjawab pertanyaan sehingga lebih siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari peserta.

Saat materi ke-4 "Mendidik dengan Kekuatan Fitrah", di kelas banyak membahas jenis-jenis fitrah manusia. Berikut referensi yang digunakan, selain materi dari tim matrikulasi pusat:



Berlanjut ke NHW#4, teman-teman diajak untuk me-review NHW#1-3 dan kemudian menentukan misi hidup dan peran apa yang akan dilakukan. Setelah itu menuliskan tahapan ilmu yang dipelajari beserta milestone-nya. Ada beberapa peserta yang langsung termenung, dan baru bertanya di grup WA ketika sudah pulang dari pertemuan. Cukup "berat" ya NHW#4 ini, contohnya saja Ibu Septi yang mengambil peran sebagai inspirator. Masya Allah.. Membuat saya jadi ingin kembali membuka NHW#4 saya. Sudahkan saya menjalankan apa yang ditulis?

Menjadi fasilitator sejatinya adalah belajar kembali dengan cara yang lebih "elegan". Sebagai reminder tentang apa yang pernah ditulis.. Sudahkah saya fokus dan konsisten? Yang ada adalah refleksi diri dan berusaha untuk kembali on track.

Berikut dokumentasi pertemuan ke-4:


Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 3)


Weekend ini benar-benar hectic, Sabtunya ada jadwal pengurus dan panitia bertemu Ibu Septi dan Pak Dodik pukul 12.00, pertemuan ketiga matrikulasi offline pukul 13.00, lanjut pukul 17.00 drop barang dan persiapan untuk acara Milad IIP ke-6 dan Milad IP Tangsel ke-2 plus Seminar A Home Team besok. Mikirinnya aja udah puyeng banget. Hehehe.. Tapi alhamdulillah suami mengerti dan mengizinkan. Terima kasih ya, Papi. Sudah mau mengasuh anak-anak ketika Mami banyak kegiatan di luar, sudah mau membantu juga mempersiapkan barang-barang yang mau dibawa dan mengantar ke tempat milad besok.

Alhamdulillahnya lagi, tempat pertemuan dengan Bu Septi dan Pak Dodik sama dengan tempat pertemuan ketiga matrikulasi. Meskipun pada akhirnya tidak ikut berbincang-bincang dengan Ibu dan Bapak karena Ibu dan Bapak masih di perjalanan ketika kelas sudah harus dimulai.

Sebelum pertemuan ketiga ini, saya banyak bertanya kepada fasilitator matrikulasi di wilayah lain. Bagaimana caranya mereka menyampaikan materi kepada peserta. Wah ternyata sangat beragam dan menginspirasi. Ada yang peralatannya lengkap, selalu ada infokus dan layar, sehingga bisa menonton video Ibu Septi bersama-sama. Ada juga yang membagikan fotokopi materi kepada peserta. Ada juga yang membagikannya terlebih dahulu di grup WA atau Google Classroom dan membaca bersama-sama saat pertemuan. Saya pun mengadopsi cara memfotokopi materi, supaya peserta tidak perlu lagi mencatat terburu-buru dan dapat menyimak apa yang saya sampaikan plus dapat menuliskan catatan-catatan kecil di kertas materi sesuai kebutuhan peserta.

Saat review materi 2, saya menyampaikan sesuai review dari tim matrikulasi pusat. Apakah NHW#2 yang telah dikerjakan teman-teman sudah memenuhi kriteria SMART? Ternyata ada yang merasa belum lengkap, ada juga yang sudah. Meskipun demikian, semuanya telah mengumpulkan NHW#2. Saya pun meminta agar menepuk-nepuk teman yang ada di sebelahnya sambil berkata "good job". Alhamdulillah kegiatan mengapresiasi seperti ini menambah energi positif di pertemuan kali ini.

Berlanjut ke materi 3 "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah". Banyak peserta yang sharing mengenai pola pengasuhan orang tuanya dulu. Ternyata banyak yang meninggalkan trauma fisik dan perasaan, karena orang tua bersikap terlalu tegas dan tak jarang menggunakan kekerasan fisik. Ada juga orang tua yang suka membanding-bandingkan dengan kakaknya yang terlihat "lebih" segalanya daripada si adik. Pola pengasuhan tersebut membekas menjadi inner child dan tak jarang mereka ikut mengulangi apa yang dilakukannya orang tua dahulu. Di materi inilah, seperti tersadarkan untuk memutus rantai kesalahan pola pengasuhan dengan memaafkan orang tua dan berusaha agar tidak mengulangi kesalahan pengasuhan kepada anak kita..

NHW#3 mengenai surat cinta pun membuat suasana kelas menjadi riuh rendah hehehe.. Terlihat peserta yang belum menikah tersipu malu. Yang sudah menikah pun terlihat bingung, mungkin karena sudah lama tidak pernah berkata-kata romantis dengan pasangan. Menuliskan potensi anak, diri sendiri, suami, dan keluarga beserta tantangan di lingkungan juga membuat mereka berpikir dan sedikit mengernyitkan dahi hehehe.. Semangat teman-teman, pasti bisa! :D

Daaan jeng jeng.. Ibu Septi dan Pak Dodik pun datang mengejutkan teman-teman peserta matrikulasi. Yeehaa!!! Seketika suasana langsung berubah menjadi heboh, semuanya ingin bersalaman dan menyambut kehadiran founder IIP. Tak lupa kami berfoto ria, sebagai bukti kelas kami telah dikunjungi oleh Ibu Septi dan Pak Dodik. Terima kasih Bapak dan Ibu sudah mau menyempatkan menengok kelas. :D



Di akhir kelas ada yang mengejutkan lagi. Salah satu peserta yaitu Mba Prita berniat untuk membayar seluruh pesanan makanan dan minuman kami. Masya Allah.. Setiap pertemuan saya dibuat amaze dengan niat baik para peserta. Semoga semua sharing dari teman-teman dicatat menjadi amal baik, rezekinya dilapangkan, dan senantiasa berkah. Aamiin..

Setiap pertemuan, saya lah yang dibuat untuk belajar banyak hal. Terima kasih ya teman-teman matrikulasi offline. :*

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 2)


Pertemuan kedua matrikulasi diadakan di salah satu rumah peserta, yaitu di rumah Mba Vivi, pada hari Minggu tanggal 4 Februari 2018. Saya berangkat ke rumah Mba Vivi setelah meeting dengan panitia acara Milad IP Tangsel di Bintaro Xchange. Alhamdulillah masih terkejar waktunya meskipun terlambat beberapa menit karena beli siomay dulu untuk makan siang hehehe.. Sesampainya di rumah Mba Vivi ternyata baru sedikit yang hadir, jadi saya makan siang dulu deh sambil menunggu teman-teman yang lain datang. 

Pada pukul 13.30 kelas baru dimulai. Agenda pertemuan kali ini adalah review NHW#1, Materi 2, dan NHW#2. Pada saat review, saya mencoba menggali dan menanyakan aliran rasa peserta. Sudah ada beberapa yang berani berbicara dan mengalirkan rasanya. Banyak yang merasakan bingung dengan jurusan ilmu apa yang akan dipilih, tetapi ada juga yang sudah mantap memilih dan sudah mulai menjalankannya. Ilmu yang dipilih dominan tentang menjadi ibu, istri, dan perempuan yang baik, pendidikan anak, parenting, dan seputar keluarga. Ada juga tentang manajemen waktu, diri, dan emosi. Ada juga yang mau menekuni hobinya seperti menjahit, memasak, menulis. Ada juga tentang sadar lingkungan dan tentang berwirausaha atau bisnis. Beragam dan semuanya sah-sah saja alias diperbolehkan.

Yang pertama kali mengumpulkan NHW#1 adalah Mba Siti Fatimah alias Mba Time. Beliau mengumpulkan di hari yang sama saat pertemuan pertama berlangsung (malamnya). Semangat sekali Mba Time! :) Selain itu, ada salah satu NHW peserta yang menarik perhatian, yaitu milik Mba Prita. Beliau menuliskannya dengan cara mind mapping, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini:


Menurut saya cara penulisan seperti ini sangat menarik, karena yang dituliskan berupa point-point yang utama. Mba Prita pun bercerita bahwa mind map-nya ini ditempel di dinding kamar sebagai pengingat. Good job, Mba Prita! :D

Berlanjut ke materi 2 "Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga". Sehari sebelum pertemuan, saya meminta peserta matrikulasi untuk mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang:
1. Apa itu ibu profesional?
2. Apa itu komunitas ibu profesional?
3. Bagaimana tahapan-tahapan untuk menjadi ibu profesional?
4. Apa saja indikator keberhasilan seorang ibu profesional?

Para peserta banyak yang mengetahui jawaban pertanyaan nomor 3, yaitu Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Sholeha. Sebelumnya tahapan ini sudah pernah disinggung di pertemuan pertama. Sedangkan untuk pertanyaan lainnya masih saya bantu bacakan dari materi yang didapat dari tim matrikulasi pusat.

Beranjak ke NHW#2, alhamdulillah di rumah Mba Vivi disediakan fasilitas mic dan papan tulis, sehingga dapat dengan lebih mudah menjelaskan tentang NHW#2 dan kriteria yang digunakan (SMART). Bisa menuliskan beberapa contoh juga sehingga peserta lebih terbayang dengan cara mengerjakan NHW#2 ini.

Alhamdulillah selesai sudah pertemuan kedua matrikulasi. Diakhiri dengan sesi berbagi dari para peserta. Mba Vivi membagikan cemilan Bangnana Chips, Mba Faiqah membagikan celana pendek anak laki-laki hasil jahitannya sendiri, Mba Time juga sejak awal acara membagikan minuman thai tea produksi sendiri, dan peserta lainnya yang juga masing-masing membawa potluck untuk sharing selama kelas berlangsung. Masya Allah, kami baru saling mengenal tetapi kebersamaan terasa sudah sangat dekat. Terima kasih Mba Vivi sebagai tuan rumah dan semua peserta matrikulasi kelas Tangsel Offline Batch 5! Sungguh pengalaman berharga bergabung bersama kalian semua. :)

Berikut dokumentasi pertemuan kedua:





Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 1)

Awal Memilih Kelas Offline

Pada saat mendaftar menjadi fasilitator matrikulasi batch 5, saya tidak berencana untuk memegang kelas offline. Merasa lebih berpengalaman di kelas online serta memikirkan jadwal matrikulasi yang rapat (per minggu) menjadi alasan mengapa saya memilih menjadi fasilitator kelas online. Saya pun termasuk pribadi yang introvert, lebih percaya diri ketika berkomunikasi lewat chatting atau istilahnya tekstovert. Bila berkomunikasi tatap muka masih sering grogi dan tidak percaya diri.

Ketika mengumumkan akan ada kelas offline ke grup foundation Tangerang Selatan, cukup banyak peminatnya (sekitar 20 orang). Lalu saya pun woro-woro di grup pengurus, apakah ada yang bersedia menjadi fasilitator kelas offline? Alhamdulillah ada yang mau, 2 orang. Jadi saya daftarkanlah 2 kelas offline Tangsel ke tim matrikulasi IIP. Tapi ternyata.. jumlah fasilitator cukup berlebih bila dibandingkan dengan jumlah pendaftar matrikulasi. Sehingga diutamakan yang mendapatkan kelas adalah yang sudah mengikuti dan lulus Training for Facilitators Batch 5

Dua pengurus yang saya daftarkan belum mengikuti training tersebut. Teman-teman fasilitator dari Tangsel lainnya juga memilih kelas online. Kemudian saya berpikir tentang peserta matrikulasi yang memang sudah berniat untuk mengambil kelas offline. Rasanya tidak mau mengecewakan mereka, karena sayalah yang mengumumkan akan ada kelas offline. Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi fasilitator kelas offline, meskipun pada awal meminta izin kepada suami agak sulit juga hehehe.. Alhamdulillah pada akhirnya suami pun memperbolehkan. :)

Persiapan Menjadi Fasilitator

Karena sebelumnya di Tangsel belum pernah ada kelas matrikulasi offline, saya pun belum punya gambaran bagaimana berlangsungnya suatu kelas offline. Alhamdulillah di Tangsel sudah ada kelas offline Bunsay Batch#3, dengan Mba Nani Nurhasanah sebagai fasilitatornya. Saya pun menyempatkan untuk mengobrol seputar kelas offline dengan Mba Nani dan meminta izin untuk ikut hadir pada pertemuan selanjutnya.

Alhamdulillah bisa hadir di pertemuan ke-3 kelas Bunsay Tangsel, materi "Melatih Kecerdasan Anak" di Bale 23, Serpong pada hari Minggu, 7 Januari 2018. Dari pertemuan ini saya belajar bahwa menjadi fasilitator offline banyaknya mendengar aliran rasa dari peserta. Sedangkan untuk materi, fasilitator membuat agar peserta belajar mandiri. Contohnya saat materi 3 ini, peserta dikelompokkan menjadi 4 kelompok dimana tiap kelompok akan menjelaskan macam-macam kecerdasan (IQ, EQ, SQ, dan AQ). Wah, kelas berlangsung sangat hangat dan seru, energi yang dirasakan pun berbeda dari ketika mengikuti kelas online. Terima kasih Mba Nani dan semua peserta kelas Bunsay Offline Batch#3 Tangsel, saya menjadi lebih bersemangat dan mempunyai gambaran dalam menjalankan kelas matrikulasi offline. Berikut dokumentasi keseruan kelas Bunsay Offline Tangsel:






Pembukaan Kelas

Setelah mendapatkan data-data peserta kelas offline, saya pun lanjut membuat grup dan mengundang peserta. Pada awalnya bingung juga cara ice breaking di kelas offline karena pasti peserta memilih kelas tipe ini agar tidak banyak chat yang masuk. Diawali dengan perkenalan fasilitator, observer, dan guardian. Lanjut informasi tata tertib, CoC, dan pengenalan Google Classroom. Semuanya berlangsung relatif sepi dan "alot". Apalagi ketika membicarakan jadwal pertemuan pertama, sampai beberapa hari baru bisa disepakati jadwalnya.

Bahkan ada peserta yang mengaku tidak baca grup, lebih banyak japri. Hiks.. sempat khawatir juga dengan keberlangsungan kelas offline ini. Bagaimana baiknya kelanjutannya? Setelah bertanya di grup khusus fasilitator offline akhirnya tercerahkan. Intinya jangan terlalu khawatir akan sepinya grup. Insya Allah pada saat pertemuan, suasana akan mencair dan jauh lebih akrab. Baiklah, akhirnya saya memutuskan untuk membicarakan hal-hal lain terkait pemilihan perangkat kelas dan teknis pengumpulan NHW saat pertemuan saja. Berarti di grup hanya tinggal menyepakati tempat pertemuan. Alhamdulillah salah satu peserta bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuan.

Persiapan Kelas Perdana

Sehari sebelumnya semua hal yang berkaitan dengan pertemuan pertama matrikulasi saya print. Mulai dari daftar hadir, tata tertib, CoC perkuliahan, jadwal materi dan kalender, teknis pengumpulan NHW, pengenalan Google Classroom, tugas perangkat kelas, dan tentunya tidak lupa materi 1 dan NHW#1. Harapannya, hal-hal yang akan dibahas saat pertemuan bisa lebih jelas dan runut. Meskipun demikian, tetap saja rasanya nervous, berdoa semoga saat pertemuan lancar dan saya bisa memfasilitasi teman-teman peserta dengan baik. Aamiin..

Kelas Perdana

E-flyer Kelas Perdana

Jeng, jeng! Tiba saatnya kelas perdana digelar. Pagi itu, sudah siap saya bersolo karir alias pergi sendiri. Tapi ternyata anak-anak dua-duanya mau ikut. Ya sudah, tidak apa. Kata suami, apabila anak-anak sudah mulai bosan atau saya kerepotan, tinggal telepon saja supaya suami menjemput. Suami tidak mau ikut karena masih mengantuk katanya hehehe..

Alhamdulillah dengan bantuan Gmaps, berhasil menemukan rumah Mba Lia dan waaah sudah ada beberapa peserta yang hadir. Karena agenda hari ini begitu padat, akhirnya pertemuan dimulai sekitar pukul 09.15 dengan perkenalan masing-masing peserta yang telah hadir. Dilanjutkan dengan informasi tata tertib dan CoC perkuliahan. Lalu pembahasan jadwal pekanan dan teknis pengumpulan NHW. Ada beberapa peserta yang memilih mengumpulkan NHW secara offline, tetapi lebih banyak yang memilih online via Google Classroom. Setelah itu saya menginformasikan tugas-tugas perangkat kelas dan berlanjut ke pemilihan ketua kelas serta koordinator mingguan. Alhamdulillah semua posisi terisi dan sekitar pukul 12.00 baru bisa beranjak ke materi. Fyuuuh...

Rehat sebentar sambil menikmati sajian tuan rumah dan potluck yang dibawa oleh para peserta, kami bersama-sama menonton video Ibu Septi tentang pembukaan matrikulasi. Setelah selesai video, baru saya menjelaskan tentang materi 1 "Adab Menuntut Ilmu" kemudian tanya jawab. Selesai tanya jawab, dilanjutkan ke NHW#1 dan tanya jawab NHW. Akhirnya kelas berakhir sekitar pukul 13.00. Alhamdulillah semua berjalan lancar.. 

Anak-anak pun dapat diajak bekerja sama dan sibuk bermain sendiri bersama teman-teman yang hadir. Adanya tempat bermain dan kelinci di halaman menjadi sarana bermain mereka bersama. Hanya sesekali meminta makanan, minuman, menyusui, atau pipis. Alhamdulillah peserta mengerti dengan "iklan-iklan" yang hadir hehehe.. Terima kasih Mba Lia atas tempatnya dan sajian makan siangnya. Mba Lia ini owner Ayam Bakar Irzah lho.. :9

Ternyata setelah dijalani, matrikulasi offline ini tidak seseram yang dibayangkan. Meskipun masih ada kekurangannya, yaitu suara saya yang kecil dan kurang jelas terdengar oleh 22 orang yang hadir (termasuk Mba Adit sebagai observer). Harus belajar lagi nih mengeluarkan suara yang jelas dan "bulat". Insya Allah akan terus memperbaiki dan memantaskan diri menjadi fasilitator offline

Terima kasih tim matrikulasi IIP yang memberikan saya kesempatan untuk terus belajar. Mba Adit dan Mba Fitri sebagai fasil saya ketika di batch 3 yang menginspirasi saya untuk menjadi fasilitator dan sekarang berada bersama di kelas Tangsel offline sebagai observer dan guardian. Teman-teman matrikulasi Tangsel Offline Batch 5 atas antusiasmenya mengikuti kelas. Semoga kita terus bersemangat sampai akhir dan lulus bersama. Aamiin..

Berikut dokumentasi kelas perdana matrikulasi Tangsel Offline Batch 5:





Wednesday, December 6, 2017

Tantangan TfFMB5: Mengapa Saya Harus Menjadi Fasilitator?

Wow, menjadi fasilitator matrikulasi di batch 5 ini lebih banyak tantangannya bila dibandingkan saat batch 4 yang lalu. Nara sumber materi berasal dari peserta, notulensi tidak hanya bergantung pada satu sekretaris, adanya evaluasi tiap materi, dan kali ini menuliskan tentang mengapa harus menjadi fasilitator. Keren banget!

Sebenarnya apa itu fasilitator? Orang yang memfasilitasi satu orang atau beberapa orang dalam kelas untuk belajar bersama. Apa fungsi fasilitasi? Setiap orang yang ada di dalam kelas belajar secara mandiri, menemukan tantangan, dan solusinya sendiri. Fasilitator ada hanya untuk mendampingi proses belajar mandiri tersebut, bahkan tidak jarang ikut belajar dan menemukan hal baru. Belajar saat matrikulasi ini bukanlah ada seorang guru sendirian di depan kelas lalu yang lain hanya mendengar dan mencatat. Peserta dan fasilitator berdiskusi bersama, bahkan fasilitator banyak mendengar dan memberikan ruang kepada peserta untuk berkembang sendiri. Setiap pertanyaan yang muncul, tidak semua langsung dijawab oleh fasilitator, melainkan melalui proses bertanya kepada si penanya kembali. Karena sejatinya demikianlah proses belajar orang dewasa, atau sekarang menjadi familiar dengan istilah heutagogi setelah mengikuti TfFMB5 ini.

Melihat kesiapan diri di matrikulasi kali ini, alhamdulillah merasa lebih siap. Karena dengan metode evaluasi setiap materi, menjadi seperti ada kewajiban untuk membaca materi, menyimak diskusi chat, atau paling tidak membaca resume jika tertinggal materi. Selain itu, pengalaman saat batch 4 lalu juga menjadikan diri ini lebih mengetahui tantangan apa saja yang kira-kira ditemui selama menjadi fasilitator, meskipun tetap ada kemungkinan di matrikulasi yang baru akan menemukan tantangan baru. Mengikuti kelas matrikulasi koordinator tambahan juga menguatkan basis fasilitator sebagai bagian dari komunitas. Jadi lebih mengetahui langkah-langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk menyikapi setiap tantangan yang hadir, baik sebagai fasilitator maupun pengurus. Salut untuk tim matrikulasi batch 5, terutama mba Yani dan mba Vita :)

Menurut saya, fasilitator adalah posisi yang sangat penting dalam komunitas IIP. Apalagi fasilitator matrikulasi. Karena fasilitator matrikulasi-lah garda terdepan dalam kaderisasi member IIP, dimana para pendaftar baru akan belajar dan mendapatkan pengalaman yang "wow" selama mengikuti matrikulasi. Pada saat saya mengikuti matrikulasi batch 3 pun, perasaan hormat saya kepada Mba Adit dan Mba Fitri sebagai fasil saya waktu itu pun masih saya pelihara sampai sekarang. Karena dari mereka, saya menjadi tahu lebih dalam tentang IIP dan yang terpenting memfasilitasi saya dalam menemukan diri sendiri, menjadi wanita, istri, dan ibu yang lebih baik. Dapat me-manage waktu dengan baik dan bermanfaat bagi sesama. Setelah selesai menjadi fasilitator Sumatera Utara di matrikulasi batch 4 kemarin dan kemudian berada satu grup di TfFMB5 dengan mba Novita (peserta yang saya fasili), ada kebanggaan tersendiri bahwa alhamdulillah ada penerus yang menjadi fasilitator di Sumut dan berasal dari wilayah sendiri, yang kala itu memang tidak ada sama sekali sehingga harus import dari Tangsel hehe.. Demikianlah pandangan saya tentang pentingnya seorang fasil :)

Lalu rencana dan strategi apa yang akan saya lakukan dalam memfasilitasi kelas? Tidak jauh berbeda dengan matrikulasi batch 4 lalu. Hadir sepenuhnya pada kesepakatan jam online, disiplin, dan tepat waktu. Mengetahui kapan saat serius belajar dan diskusi, tapi tidak melupakan kehangatan dalam berkomunikasi dengan para peserta. Mengobrol, bercanda, melakukan pendekatan pribadi (japri) adalah hal yang wajar dilakukan fasil dalam kelas selama pada waktu yang sesuai. Berusaha tertib administrasi, dicicil tiap minggunya agar tidak menumpuk di akhir matrikulasi. Mengikuti arahan yang ada di grup fasil. Peduli kepada peserta, leader matrikulasi, dan fasil-fasil lainnya.

Meskipun demikian, tetap ada kekhawatiran menjadi fasilitator yaitu manajemen emosi, supaya tidak mudah baper. Manajemen waktu, dalam hal ini manajemen gadget, karena sudah mendapat beberapa kali teguran dari suami (lampu kuning ini). Semoga di kelas matriks batch 5 nanti, dapat mengelola emosi dengan lebih baik lagi (ada rem bapernya) dan dapat memaksimalkan waktu online, apalagi dengan rentetan tugas lain di kepengurusan kota. Tetapi dibalik kekhawatiran itu semua, saya sendirilah yang memilih untuk mau menjadi fasil dan pengurus. Jadi hal ini saya jadikan tantangan agar tetap mengurus keluarga dengan baik (bersungguh-sungguh di dalam) dan bermanfaat bagi komunitas (keluar dengan kesungguhan itu). Sebagai sarana pay it forward setelah saya merasakan banyaknya manfaat yang saya dapat setelah mengikuti matrikulasi dan menjadi bagian dari IIP.

Proses adaptasi di kelas TfFMB5 alhamdulillah berjalan lancar. Sedikit demi sedikit mengenal lebih dekat lagi teman-teman baru yang akan menjadi keluarga selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Meskipun saya termasuk orang yang tidak terlalu sering menyapa dan mengeluarkan emoticon yang lucu-lucu, tetapi saat saya sedang fokus pada grup TfFMB5, saya selalu berusaha mengikuti diskusi yang ada, mengikuti materi, dan bertanya. Terkadang malah kebanyakan nanya dan komen di jam-jam aneh alias jam malam hehehe.. Alhamdulillah juga bisa berkontribusi sebagai notulis di materi Framework HE meskipun saat membuat notulensinya bingung juga karena diskusi yng hangat, meriah, dan ramai. Akhirnya dibuat yang sederhana dan inti-intinya (terlalu simpel malah, maafkaaan), agar yang membaca dapat mengambil intinya dan tidak terkena tsunami materi hehehe..

Sekian essay ini saya buat, semoga tepat dalam menjelaskan poin-poin yang diminta. Aamiin :)