Friday, March 9, 2018

Mompreneur Sharing: Success Story


Hari Rabu, 28 Februari 2018, ada event @itbmh_jaktangsel khusus untuk para mommies. Biasanya acara ditujukan untuk anak-anak alias playdate, boleh dong ya kali ini diadakan momsdate. Acara @itbmh_jaktangsel pun bukan hanya sekedar kumpul-kumpul biasa, pasti akan selalu bermanfaat bagi para Mama.

Acara ini merupakan sharing dari para Mama-Mama entrepreneur @itbmh_jaktangsel yang sudah sukses memiliki usaha atau bisnis sendiri. Acaranya gratis tis tis khusus untuk semua Mama @itbmh_jaktangsel. Siapa saja kah yang sharing pengalamannya menjadi mompreneur? Ini dia:

1. Erna Listia, owner Bebek Dower
    Tema sharing: Memulai Bisnis Restoran dengan Percaya Diri
2. Rizki Febriani, owner Kicau Kecil
    Tema sharing: Sukses Memulai Bisnis Online
3. Nonik Anindya, owner Bambino Piccolo
    Tema sharing: Manajemen Keuangan Bisnis vs Keuangan Rumah Tangga
4. Anggita Triasari, owner Riang Kemintang
    Tema sharing: Memulai Bisnis Sejak Menjadi Karyawan

Banyak sekali ilmu-ilmu yang didapat dari keempat Mama hebat ini. Tetapi sayangnya karena saya bertugas menjadi MC dadakan dan sibuk dengan dua anak (hehehe), tidak sempat membuat resumenya hiks..

Point-point yang masih diingat adalah kalau mau mulai bisnis, mulai saja lakukan. Tidak ada formula khusus untuk menjamin suatu usaha akan berjalan terus dan sukses. Tetapi dengan menjalankannya, tentunya kita akan belajar menghadapi masalah-masalah yang ada. Tinggal kitanya mau belajar menyelesaikan masalah-masalah yang hadir dalam menjalankan bisnis atau quit begitu saja. Strategi pemasaran pun kini sudah banyak macamnya, bisa dengan online marketing lewat media sosial, marketplace, website, dsb. Lalu sebaiknya keuangan usaha dan keuangan rumah tangga dipisah agar bisa terlihat keuntungannya. Keuntungan ini kemudian bisa untuk mengembangkan usaha dan jangan lupa memberikan "gaji" kepada kita sendiri. Memulai bisnis saat masih menjadi karyawan pun bisa, kuncinya menemukan partner yang semisi, jadi tidak melakukan semuanya sendiri.

Demikianlah yang bisa saya tulis tentang acara ini. Terima kasih Mama-Mama kece yang bersedia menjadi nara sumber dan yang telah menyempatkan diri untuk hadir. Semoga para Mama bisa menemukan ranah produktifnya masing-masing yaa. Dan bersemangat menjalani hidup bersama suami, anak-anak, dan keluarga. :)

Berikut dokumentasinya:



Sampai berjumpa di event-event @itbmh_jaktangsel selanjutnya!

Membuat Nasi Kuning dengan Bumbu Kokita

Kemarin Mami mencoba membuat nasi kuning dengan bumbu Kokita. Seperti ini penampakannya:

Kokita Bumbu Nasi Kuning

Sebenarnya sudah lama membelinya tapi belum dieksekusi-eksekusi. Karena sedang bosan dengan menu itu-itu saja, kemudian lihat di lemari ada bumbu ini, diputuskanlan untuk memasak nasi kuning. Caranya cukup mudah, bisa menggunakan rice cooker. Berikut cara membuatnya:

1. Cuci 450 gram beras (atau sekitar 2,5 cup)
2. Tambahkan air 600 mL dan bumbu nasi kuning
3. Aduk-aduk sampai rata
4. Masak dengan rice cooker, jangan lupa tekan tombol masaknya yaa..

Untuk pelengkapnya bisa menambahkan abon sapi, bawang goreng, mentimun, dan telur dadar. Mami sendiri kemarin mengganti abon sapi dengan lauk ayam goreng. Berikut hasil memasak nasi kuning Mami yang pertama! :D

Nasi kuning pertama buatan Mami 

Berikut rincian harganya:
1. Bumbu Kokita Nasi Kuning Rp 7.800
2. Beras 450 gram Rp 5.400
3. Mentimun 2 buah Rp 3.000
4. Ayam setengah ekor Rp 20.000
5. Bumbu Racik Ayam Goreng Rp 2.000
6. Bawang goreng Rp 1.000
7. Telur 1 butir Rp. 2000
Total: Rp 41.200
Untuk 4-5 porsi
Lama memasak: sekitar 40 menit

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 6)


Pertemuan minggu ke-6 dilaksanakan di Taman Bintaro XChange. Cuaca sangat mendukung, tidak panas, dan sejuk. Kami menghamparkan karpet piknik dan duduk membentuk lingkaran. Anak-anak bisa bermain bebas di taman, ditemani para suami atau pendamping.

Sejauh ini, pertemuan 6 ini lah yang terasa paling kondusif saat penyampaian materi. Posisi duduk melingkar membuat diskusi menjadi hangat, tidak ada interupsi pesan makan dan makanan atau pelayan datang. Pikiran juga lebih segar karena sambil melihat yang hijau-hijau hehe.. 

Saat penyampaian review dan materi, peserta sudah bebas dan nyaman menyampaikan pertanyaan dan pendapat. Setiap ada teman yang bertanya, bukan hanya fasilitator yang menjawab, tetapi semuanya saling berbagi pengalaman dan pendapat.

Sebelum penyampaian NHW, diskusi menjadi seru membahas seputar manajemen keuangan dan bisnis. Karena ada salah satu peserta yang sudah cukup berpengalaman, bahkan sudah membuka kelas mentoring bisnis, beliau menjadi bercerita banyak seputar keuangan dalam menjalankan suatu usaha. Sampai akhirnya cuaca mendung dan gemericik gerimis menghentikan diskusi tersebut, NHW#6 pun disampaikan dengan cepat agar kami semua tidak kehujanan. Alhamdulillah bisa selesai sebelum hujan turun. :)

Berikut dokumentasi pertemuan ke-6:


Thursday, March 8, 2018

Jurnal Belajar Fasilitator Kelas Tangsel Offline (Minggu 5)


Wah tidak terasa sudah separuh perjalanan pelayaran kelas matrikulasi offline ini. Tidak terasa ya.. Dimana awalnya merasa tidak akan bisa menemani teman-teman setiap minggunya, tetapi alhamdulillah ketika dijalani semuanya relatif lancar dan makin ke sini semakin ringan langkah menuju setiap jadwalnya. Tentunya izin dan dukungan dari suami dan anak-anak yang begitu pengertian, Maminya jadi bisa menjalankan amanah sebagai fasilitator offline.

Pertemuan ke-5 diselenggarakan di Art Flona BSD, sebuah restoran berkonsep alami dengan saung-saung, makanan murah meriah, dan cocok untuk wisata keluarga. Meskipun berkonsep alami, fasilitas-fasilitas untuk pertemuan/meeting-nya cukup lengkap, seperti bisa disediakan televisi, papan tulis, infocus, dan mic. Tempatnya juga luas, terdiri dari berbagai tipe saung, yang dapat digunakan keluarga kecil dan besar, hingga ada juga saung yang dapat menampung sampai 300 orang.

Saat menjelaskan review minggu ke-4 dan materi minggu ke-5 yaitu "Belajar Bagaimana Cara Belajar", saya memanfaatkan papan tulis yang ada untuk menjelaskan point-point penting yang ada di review dan materi. Wah, berasa seperti Ibu Guru betulan (hehehe..). Hanya saja, posisi kelas yang memanjang dan ada beberapa peserta yang disambi makan, penyampaian materi menjadi kurang kondusif. Ada juga masukan dari Mba Fitri (guardian yang sedang sempat hadir) supaya tidak memberikan fotokopi review dan materi agar peserta fokus mendengarkan penjelasan dan bisa membuat catatan dengan bahasanya sendiri.

Sampai sekarang, saya masih mencoba bagaimana formula yang pas agar materi dapat tersampaikan dengan jelas dan peserta ikut aktif dalam proses pembelajaran. Karena sebagai fasilitator seharusnya tidak 100% "menyuapi" peserta, melainkan membuat peserta belajar sendiri. Mba Adit sebagai observer pun memberi masukan agar tidak membacakan kata per kata yang ada di materi, cukup point-point pentingnya saja.

Saya berterima kasih sekali kepada Mba Adit dan Mba Fitri yang mau menyampaikan masukan-masukan agar saya bisa terus memperbaiki teknik fasilitasi saya. Banyak sekali yang saya dapatkan ketika menjadi fasilitator offline ini. Istilahnya "membeli" jam terbang. Belajar dengan terjun langsung dan memperbaiki diri setiap minggunya. Memang benar, pengalaman adalah guru terbaik ya.. Dengan menjadi fasilitator offline saat ini, mata saya pun terbuka, untuk tidak hanya aktif saat di grup WA saja. Proses belajar tatap muka, berkomunikasi langsung dengan para peserta dan mendapat feedback langsung dari mereka meninggalkan kesan yang mendalam. Jadi ingin berniat menjadi fasilitator Bunda Sayang kelas offline juga hehehe.. Aamiin, semoga tercapai niatan saya ini. :)

Berikut dokumentasi pertemuan ke-5:

Terima kasih teman-teman :*