Saturday, December 8, 2018

Jurnal Fasilitator Bunsay Batch 4 Kelas Tangsel Offline Level 3


Pertemuan review materi 2 (melatih kemandirian) dan materi 3 (meningkatkan kecerdasan anak) berlangsung pada hari Minggu, 4 November 2018 di salah satu rumah mahasiswi, yaitu Mba Ami di Pondok Cabe. Dimulai pada pukul 9 dengan agenda aliran rasa dari peserta yang hadir. 

Pada awalnya para mahasiswi masih malu-malu mengungkapkan aliran rasa tentang melatih kemandirian anak kemarin. Tapi semakin lama semakin banyak yang datang, cerita aliran rasa semakin seru bahkan sampai sulit untuk dihentikan hehehe.. (fasil jadi sering lihat jam, khawatir molor dari jadwal). Tapi tidak apa-apa, ini berarti para mahasiswi telah nyaman dan terbuka untuk berbagi kepada teman-temannya. 

Bahkan di sesi akhir aliran rasa ada salah satu mahasiswi (Mba Faiqah) yang diminta untuk sharing tentang putrinya yang sudah terlihat mandiri (sudah belajar makan sendiri sejak usia 2 tahun) dan berkarakter sangat lembut, serta tak jarang membantu ibunya mengasuh adik lelakinya. Masya Allah. Ternyata tipsnya adalah bersabar dan senantiasa bersikap lembut terhadap anak-anak. Mudah diucapkan tetapi sungguh sangat sulit dipraktikkan. Barakallah Mba Faiqah. Huhu.. Sekarang Mba Faiqahnya sudah mutasi, kembali ke kampung halamannya di Makassar.

Berlanjut ke materi level 3 tentang kecerdasan anak, kali ini saya tidak menjelaskan materi. Melainkan teman-teman peserta bunsay sendiri yang menjelaskannya. Sebelum pertemuan, setiap peer group sudah saya tugaskan untuk berdiskusi di peer group masing-masing tentang poin-poin materi kecerdasan anak. Yang kemudian hasil diskusinya dipresentasikan saat pertemuan. Berikut pembagiannya:


Peer group 1: Makna sukses & bahagia
Peer group 2: Apa yang dimaksud dengan kecerdasan intelektual (IQ)?
Peer group 3: Apa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional (EQ)?
Peer group 4: Apa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual (SQ)?
Peer group 5: Apa yang dimaksud dengan kecerdasan menghadapi tantangan (AQ)?

Berikut adalah dokumentasi dari presentasi masing-masing peer group:

 Peer group 1: Makna sukses dan bahagia

Peer group 2: IQ

Peer group 3: EQ

Peer group 4: SQ

Peer group 5: AQ

Alhamdulillah semua peserta yang hadir bersemangat dan antusias dalam memaparkan hasil diskusi mereka. Dan kelas terlihat lebih aktif, hangat, dan seru dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan fasil hehehe..

Selesai presentasi hasil diskusi, dilanjutkan dengan penjelasan game level 3. Jeng! Jeng! Ketika peserta mendengar tugasnya adalah "family project", mereka terlihat termenung hehehe.. Lalu dilanjutkan pertanyaan-pertanyaan seputar game. Setelah menjawabnya, saya simpulkan para peserta telah mengerti game tentang family project tersebut.

Ternyata oh ternyata setelah saya mengecek file respon setoran T10 menuju hari-hari terakhir masa pengumpulan, baru sedikit sekali yang mencapai badge dasar. Di situlah saya merasa ketar-ketir hehehe.. Ditambah lagi ada beberapa mahasiswi yang statusnya hampir lampu merah karena 2 level sebelumnya tidak mendapatkan badge.

Oleh karena itu, saya berusaha untuk menyemangati terus peserta agar di level ini minimal mendapatkan badge dasar. Karena saya merasa sedih bila ada yang keluar grup, apalagi di bulan ini sudah ada kabar 2 orang yang akan mutasi hiks.. hiks..

Setelah ditanya, mengapa di game level 3 ini seperti ada penurunan begitu. Ternyata mereka menganggap bahwa family project adalah suatu yang "berat", harus "wah", dan sebagainya. Kemudian saya pun membagikan jurnal bunsay leader level 3 saya, yang memuat rangkuman family projects saya dan keluarga, dimana project-project saya tersebut lebih ke keseharian dan dapat dikatakan sederhana hehe..

Alhamdulillah setelah disemangati dan sharing jurnal bunsay leader di grup, selain 2 orang yang mutasi, hanya ada 1 yang tidak lanjut karena terkena CoC 3x berturut-turut tidak mendapat badge dasar. Itu pun karena beliau ada masalah dengan kesehatannya. Yang lain aman!!!

Semoga dapat terus lanjut sampai akhir yaa teman-temanku tersayang, sehingga dapat terus berfoto bersama sampai lulus bunsay nanti. Hehe.. Aamiin.. Ini dia foto terakhir dari pertemuan materi level 3, foto wajib sebelum pulang dari rumah Mba Ami :D

Terima kasih Mba Ami atas tempat dan jamuannya :)

Saturday, November 10, 2018

Jurnal Fasilitator Bunsay Batch 4 Kelas Tangsel Offline Level 2


Pertemuan review materi 1 (komunikasi produktif) dan materi 2 (melatih kemandirian) berlangsung pada hari Sabtu, 6 Oktober 2018 di Restoran Brooaster Chicken, Tip Top Ciputat. Dimulai pada pukul 9 dengan agenda aliran rasa dari peserta yang hadir. 

Mendengarkan pengalaman mereka dalam mengerjakan tantangan di level pertama ini sangat menarik. Ada yang berhasil, ada yang terseok-seok dalam mengerjakannya tetapi tetap berusaha menyelesaikan, dan ada juga yang belum berhasil. Tetapi overall mereka merasa banyak belajar dan berusaha mengubah gaya komunikasi menjadi lebih produktif. Mereka merasakan manfaat dan perubahan yang positif dalam keluarga. Tidak perlu lagi (jarang) mengeluarkan urat dalam menyampaikan pesan, baik kepada suami maupun anak-anak. 

Setelah sesi aliran rasa, dilanjutkan dengan pemaparan review dan materi selanjutnya sesuai yang didapatkan dari tim bunsay pusat. Supaya lebih gereget, diadakan sesi studi kasus tentang materi melatih kemandirian. Dimana setiap peer group memilih sebuah kasus untuk didiskusikan bersama teman satu grup dan kemudian menjelaskan jawabannya kepada semua yang hadir.

Studi kasus 1:
Bagaimana menanggapi komentar negatif dari orang lain yang melihat kita sedang melatih kemandirian anak. Misalnya kita menerapkan metode BLW (Baby Led Weaning), yaitu anak dilatih makan sendiri sejak usia 6 bulan. Makanannya pun bukan makanan halus, melainkan sama seperti makanan orang dewasa. Lalu ada orang yang berkomentar: "Ya ampun, kasihan anaknya. Masih kecil sudah disuruh makan sendiri. Orang tuanya malas menyuapi ya?". Bagaimana menyikapi hal ini?

Jawaban studi kasus 1:
Tidak ada anggota peer group yang pernah menerapkan metode BLW. Tetapi ada yang pernah mendapatkan komentar negatif saat menggendong bayi dalam posisi M-shape. Ketika ditanya mengapa anaknya digendong seperti itu, ia menjelaskan kepada yang berkomentar bahwa hal ini telah dikonsultasikan ke dokter anak dan diperbolehkan. Apabila pertanyaan masih berlanjut, sebaiknya jawab secukupnya saja bahwa ini adalah pilihan keluarga kami dan kami telah mengetahui manfaat serta konsekuensinya. Selebihnya senyumin aja, jangan terlalu memedulikan komentar orang lain, dan kalau bisa melipir pergi.

Studi kasus 2:
Bagaimana bila ada perbedaan pendapat dengan keluarga besar perihal kemandirian anak. Misalnya ketika di rumah, anak sedang dilatih untuk makan sendiri. Sedangkan ketika berkunjung ke rumah Nenek, anak-anak malah disuapi. Bagaimana menyikapinya?

Jawaban studi kasus 2:
Peraturan yang diterapkan di rumah, maka berlaku di rumah. Sedangkan ketika berkunjung ke rumah Nenek, maka yang berlaku adalah peraturan Nenek. Jadi tidak masalah jika anak disuapi saat berada di rumah Nenek. Bisa jadi itu adalah bentuk kasih sayang seorang Nenek kepada cucunya. Yang terpenting kita menjelaskan kepada anak bahwa saat di rumah Nenek yang berlaku adalah peraturan Nenek, jadi boleh disuapi. Tetapi nanti saat kembali ke rumah, peraturan Bunda yang berlaku, yaitu makan sendiri yaa..

Studi kasus 3: 
Bagaimana bila terjadi perbedaan prinsip dengan suami dalam melatih kemandirian? Misalnya kita tidak ingin anak disuapi, sedangkan suami menyuapi anak ketika ia sedang berada di rumah. Mengingat pengalaman waktu suami kecil pun, masih sering disuapi oleh ibunya. Dan tidak apa-apa katanya, karena ada masanya nanti anak akan malu sendiri saat masih disuapi.

Jawaban studi kasus 3:
Sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan suami agar sepakat mau menyuapi atau tidak supaya anak tidak bingung. Bisa juga mengambil jalan tengah, misalnya saat anak minta disuapi, Ayah atau Bunda dapat menyendoki terlebih dahulu. Tetapi tetap anak yang menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Maka masih ada proses belajar di dalamnya dan tidak sepenuhnya memaksa anak untuk makan sendiri.

Studi kasus 4:
Bagaimana agar sabar dalam menghadapi proses belajar mandiri anak?

Jawaban studi kasus 4:
Yang pertama para ibu harus kenyang terlebih dahulu (hehehe..) supaya tidak mudah tersulut emosinya. Lalu terapkan komunikasi produktif dan dampingi anak saat melatih kemandiriannya. Siapkan juga waktu yang cukup agar tidak terburu-buru. Misal belajar mengancingkan baju seragam sendiri sebelum berangkat ke sekolah. Maka sebisa mungkin bangun lebih awal sehingga ada waktu yang cukup bagi anak untuk mencoba mengerjakannya sendiri.

Studi kasus 5:
Bagaimana bila anak lama dalam melakukan proses melatih kemandirian? Misal sebelum pergi sekolah masih belum bisa pakai kaus kaki sendiri tapi anak tetap ingin melakukannya sendiri, padahal sudah hampir terlambat ke sekolah.

Jawaban kasus 5:
Tetap sabar dan menyemangati anak. Diberi penjelasan cara dan contoh pakai kaus kaki sendiri yang benar. Jika sudah terlambat tidak apa-apa, bisa dilatih lagi esok hari dengan menambah waktu persiapan sebelum ke sekolah.

Demikianlah studi kasus beserta jawabannya. Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan ini adalah pengalaman yang terjadi pada saya sendiri hehehe.. Alhamdulillah peserta bunsaynya pintar-pintar dalam menjawab pertanyaan. Semoga saya dan teman-teman dapat benar-benar menerapkan jawaban-jawabannya yaa! :D

Berikut adalah dokumentasi wajib sebelum pulang: 

 Sampai berjumpa lagi di pertemuan dan jurnal selanjutnya!

Saturday, October 27, 2018

Bunsay Leader #3: Jurnal Belajar Level 8

HIJRAH DARI RIBA DAN QONA'AH DENGAN NAFKAH HANYA DARI SUAMI

Oleh: Nika Yunitri

"Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari tempat kebangkitannya di hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal, di antaranya tentang hartanya; dari mana dia memperoleh dan bagaimana ia membelanjakan." (H. R. Tirmidzi) [1]

Tahun 2015

Kabar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tempat saya bekerja sudah santer terdengar. Saya pun cukup khawatir dengan posisi saya di kantor. Meskipun sudah berstatus karyawan permanen, tetapi saya termasuk orang baru. Kinerja saya di kantor pun tidak terlalu bagus, mengingat jarang mau disuruh lembur. Ya, saya adalah seorang ibu yang bekerja di ranah publik dan memiliki seorang anak yang dititipkan di daycare. Lembur bukanlah pilihan, karena anak di daycare harus dijemput pada waktu yang telah ditetapkan.

Firasat saya mengatakan, sepertinya saya adalah salah satu yang akan terkena PHK. Memang belum ada pengumumannya, tetapi saya terus saja memikirkannya. Karena saya khawatir dengan hutang-hutang dan kewajiban-kewajiban finansial saya. Ada cicilan mobil, rumah, KTA (Kredit Tanpa Agunan), asuransi, dan kartu kredit. 

Bagaimana cara saya membayar semuanya jika nanti di-PHK? Mendapatkan pekerjaan yang baru pun tidaklah mudah, karena kondisi bidang pekerjaan saya (oil & gas engineering) sedang dalam kondisi terpuruk. Harga minyak dunia sedang anjlok dan banyak proyek yang dihentikan atau diminimalisasi anggarannya. Sehingga penyerapan tenaga kerja pun dapat dikatakan rendah.

Mulailah dengan sedikit demi sedikit menabung. Utamanya untuk melunasi KTA sebelum waktunya karena setelah dihitung-hitung, bunga KTA itu bisa lebih dari 100%. Sambil menabung, ditutuplah satu persatu asuransi plus kartu kreditnya. Alhamdulillah tidak ada hambatan yang berarti, asal mau mengurus dan mengikuti prosedurnya. Sudah tidak memikirkan juga premi asuransi yang tidak semuanya kembali. Hanya berniat supaya nantinya tidak ada kewajiban membayar lagi.

Perihal bagaimana pendidikan anak di masa depan, bagaimana kondisi saya di masa pensiun nanti, dan bagaimana keadaan anak selepas saya meninggal, saya serahkan sepenuhnya kepada Allah. Seperti yang tertulis di Al-Qur'an surat Hud ayat 6 [3]. Berikut adalah artinya:
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
Tahun 2016

Datanglah kabar saya termasuk yang terkena PHK. Rasanya takut dan gelisah, bagaimana ini masih banyak hutang? Mulai menyadari juga bahwa hutang-hutang ini termasuk ke dalam riba, sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Menurut Teh Patra di bukunya Keluarga Muslim Cerdas Finansial, contoh riba dalam perbankan antara lain bunga tabungan, kartu kredit, KTA, aneka jenis kredit/angsuran, dan lain-lain. Sedangkan contoh riba nonperbankan antara lain asuransi, kredit pembelian barang, rentenir, koperasi, jual beli uang, dan lain-lain [1].

Ya Allah.. Sudah berapa macam riba yang telah saya ambil? Tak heranlah mengapa saya menjadi tidak tenang dalam menjalani hidup. Seperti yang tertulis di Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 275 [1]. Berikut adalah artinya:
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Tapi Allah tidak pernah menguji hamba-Nya di luar kemampuannya. Allah menghadirkan tantangan sepaket dengan solusinya. Alhamdulillah KTA bisa dilunasi dari tabungan dan uang pesangon. Untuk cicilan mobil bisa dilunasi dengan mencairkan dana BPJS TK. Sedangkan untuk rumah, boleh tidak jadi membeli karena rumah tersebut adalah milik mertua. Jadi selesailah semua hutang itu!

Untuk tempat tinggal, alhamdulillah masih ada tempat untuk saya dan keluarga bernaung, yaitu di rumah orang tua. Saya dan kakak saya berbagi tempat tinggal di rumah berlantai dua peninggalan almarhum Bapak. Kakak saya dan keluarganya tinggal di lantai bawah sedangkan saya dan keluarga tinggal di lantai atas. Kami memiliki dapur masing-masing sehingga keuangan keluarga tidak bercampur. Tetapi kami bersama-sama membayar uang listrik, telepon, kebersihan, dan keamanan.

Untuk mobil yang sudah lunas, saya memutuskan untuk tidak menjualnya. Karena alhamdulillah mobil tersebut bermanfaat, terutama saat kondisi darurat. Misalnya saat Mamah saya yang tinggal di Bandung sedang sakit, saya dapat langsung mengunjunginya bersama anak-anak dan suami. Saya sendiri tidak bisa (berani) menyetir. Jadi mobil tersebut hanya digunakan saat suami bisa mengantar.

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa membeli barang seharusnya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Saya pun berjanji untuk tidak pernah bersentuhan lagi dengan riba. Seperti yang tertulis di Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 278-279 [1]. Berikut adalah artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)."
Tahun 2017

Setelah menyelesaikan kewajiban finansial berupa hutang-hutang, alhamdulillah masih ada sisa tabungan di rekening saya. Uang tersebut saya gunakan sesuka hati, utamanya untuk belanja buku, makan-makan, atau jalan-jalan. Ya, itulah hobi-hobi yang saya lakukan apabila sedang butuh mood booster. Saya berusaha untuk tidak meminta kepada suami untuk hal-hal tersebut karena tidak mau membebaninya.

Pada awalnya tentu cukup-cukup saja. Tapi yang namanya hanya ada pengeluaran tanpa pemasukan, semakin lama ya semakin menipis. Di saat keuangan kering kerontang itulah, Allah pun menguji saya dengan sebuah penyakit yang harus segera dilakukan operasi dan biayanya tidak ditanggung oleh BPJS.

Untuk biaya operasi alhamdulillah masih ada, diambil dari uang tabungan keluarga dan sisa tabungan saya. Tetapi untuk biaya kontrol setelahnya, tidak ada lagi. Untuk meminjam uang kepada orang tua ataupun saudara rasanya maluuu sekali. Akhirnya diputuskan untuk mengambil tabungan haji. Ya Allah sedihnya.. Cita-cita untuk pergi naik haji bersama suami harus ditunda terlebih dahulu. Tapi mau bagaimana lagi, pengobatan harus terus berjalan.

Dari peristiwa sakit inilah saya belajar lagi. Untuk tidak seenaknya menggunakan uang hanya untuk kesenangan tanpa memikirkan masa depan. Belajar hidup sesuai nafkah hanya dari suami, mengelolanya dengan baik, dan tak lupa bersyukur. Qona'ah istilahnya.

Qona'ah artinya merasa cukup terhadap pemberian rezeki dari Allah. Beruntunglah orang-orang yang selalu merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya [3]. Seperti yang tertulis dalam hadis berikut:

Sumber foto: [3]

Qona'ah saya lakukan dengan mengelola nafkah dari suami secara proporsional, memakai metode amplop. Ya, saya mempraktikkan budgeting dengan menggunakan metode zaman dulu ini. Setiap amplop diisi uang untuk pos pengeluaran tertentu. Harus disiplin mengambil uang sesuai keperluannya dan tidak boleh menggunakan uang di pos pengeluaran lain.

Berikut persentase pengelolaan nafkah suami per bulan:

Zakat dan sedekah 13%
Pajak mobil 3%
Tabungan 16%
Uang makan 31%
Belanja bulanan 10%
Listrik, telepon, sampah, keamanan 2%
SPP sekolah 4%
Beras dan gas 4%
Laundry 3%
Pulsa 2%
Sisa 12%

Pos sisa biasanya digunakan untuk membeli buku anak atau jalan-jalan bermanfaat, misalnya ikut playdate. Alhamdulillah tetap bisa melakukan hobi dengan menggunakan nafkah dari suami, sekaligus sebagai investasi masa depan (pendidikan anak).

Demikianlah sekelumit perjalanan saya menuju cerdas finansial. Penuh liku dan hikmah. Tapi saya bersyukur pernah mengalaminya. Menjadikan saya lebih dewasa sebagai ibu, istri, dan perempuan. Menambah makna dan nilai kehidupan. Masih panjang perjalanan cerdas finansial ke depan, apalagi dalam mendidik anak dan mencontohkan kepada mereka tentang kecerdasan finansial ini.

Orang tua memiliki andil besar dalam menanamkan kebiasaan berhemat, menabung, menahan keinginan, dan kemampuan yang berbeda dalam membeli barang pada setiap anak. Anak yang cerdas secara finansial tumbuh dari orang tua dan keluarga yang memiliki kecerdasan finansial pula [2]. Semoga Allah memampukan saya dan suami dalam mendidik anak-anak kami agar cerdas finansial, aamiin.. :)

"Financial freedom is a mental, emotional and educational process" ~ Robert T. Kiyosaki [4]

Referensi:
[1] Cleopatra, Yulia Pratiwhi. 2016. Keluarga Muslim Cerdas Finansial. Smart Mom Community 
[2] Komunitas Institut Ibu Profesional. 2013. Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Jakarta: Gazza Media

Tuesday, October 2, 2018

5 Tips Supaya Bisa Membaca Buku Sampai Selesai

Mari kita tengok rak buku yang ada di rumah. Apakah buku-buku yang ada di sana sudah dibaca semua atau hanya teronggok setelah dibeli? Ooopsss.. Koq ya lebih banyak yang hanya menjadi pajangan ya.. Padahal waktu belinya, semangat 45 banget hihihi.. 

Kesibukan sehari-hari terkadang membuat kita lupa, tidak meluangkan waktu untuk membaca buku. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitas seorang ibu seakan-akan tiada hentinya. Hobi membaca buku pun sekedar menjadi isian atau jawaban ketika ada pertanyaan "hobinya apa?". Padahal untuk baca chat atau timeline media sosial bisa betah berlama-lama hiks.. 

Tetapi jangan khawatir, berikut ada beberapa tips yang dapat dipraktikkan supaya bisa membaca buku sampai selesai:

1. Niat

Yup, betul sekali. Awalilah dengan niat, "saya mau membaca buku ini sampai selesai". 

2. Pilih buku yang kita sukai atau yang kita butuhkan atau yang dirasa bermanfaat bagi kita

Dulu waktu sekolah, baca buku pelajaran koq tidak selesai-selesai. Berbeda dengan baca komik atau Harry Potter. Meskipun banyak dan bukunya tebal, bisa selesai dalam waktu yang singkat. Kenapa bisa begitu? Karena saya menyukainya hehehe..

Kalau sekarang, buku-buku parenting menjadi daya tarik tersendiri untuk dibaca. Sehingga lebih banyak membaca buku-buku jenis ini daripada jenis buku lainnya. Karena dirasa bermanfaat dan merasa membutuhkan ilmunya juga.

Pilih saja genre buku yang Mommies suka, insya Allah akan lebih cepat selesai membacanya.

3. Tentukan target dan waktu membaca 

Dimulai dari yang mudah dan memungkinkan terlebih dahulu. Misalnya 1 bulan ingin selesai membaca 1 buku. Lalu lihat jumlah bab dalam buku, misalnya ada 8 bab. Dalam 1 bulan terdapat 4 minggu, berarti dalam 1 minggu membaca 2 bab buku.

Kemudian dibagi lagi dalam target harian, misal hanya bisa baca saat weekend. Berarti hari Sabtu baca 1 bab dan hari Minggu baca 1 bab. Lalu alokasikan waktu untuk membaca, misalnya jam 05.00-05.30 pagi.

4. Masukkan dalam to do list dan praktikkan

Jika senang menulis di jurnal harian, tulis aktivitas membaca sebagai bagian dari hal yang harus dikerjakan pada hari itu atau bisa tuliskan reminder di HP. Jangan lupa praktikkan untuk membaca pada waktu yang telah ditentukan yaa hehehe.. Karena rencana tanpa aksi hanyalah rencana belaka (ya iya lah..). :D

5. Simpan buku yang sedang dibaca di tempat yang mudah dijangkau

Misal di meja samping tempat tidur. Sehingga bila ada waktu luang, buku pun menjadi pilihan untuk mengisi waktu. Kalu bisa, justru gadget-nya yang disimpan jauh-jauh, supaya lebih tergoda untuk membaca buku daripada bermain HP. :)

Demikianlah tips-tips supaya bisa membaca buku sampai selesai. Oya, bisa dipraktikkan juga untuk membaca Al-Quran lho! Semoga bermanfaat yaa.. :)